Sinar Harapan 31 Jan 2012

Memercik Harapan bagi Indonesia di Maluku

AMBON – Walaupun September 2011 Kota Ambon kembali didera kerusuhan, para tokoh agama setempat dengan sigap turut memulihkan keamanan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku dan Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) mengimbau warga untuk hidup dengan damai.

Dalam HUT ke-76 GPM tahun lalu, Ketua Sinode GPM Pdt John Ruhulesin mengajak semua warga GPM untuk semakin mencintai kemanusiaan dan perdamaian. Bahkan, setiap pastori (rumah tempat tinggal pendeta di jemaat) disiapkan untuk menampung peserta Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat nasional XXIV, Juni 2012.

Peran serta gereja dalam membangun masyarakat kita yang majemuk amat penting. Untuk meningkatkan kapasitas warga negara inilah diadakan Pendidikan Warga di Kota Ambon pada 6-7 Januari atas kerja sama Sinode GPM dan Institut Leimena.

Banyaknya berita buruk di media massa ikut mematahkan semangat bangsa untuk menggapai masa depan yang lebih cerah. Para pemimpin perlu memberikan inspirasi perjuangan. Inspirasi ini dapat ditemukan dalam jati diri dan cita-cita Indonesia yang dituliskan para pendiri bangsa kita dalam Pembukaan UUD 1945.

Bahkan, amendemen UUD 1945 pada 1999-2002 telah mengembalikan kedaulatan kepada rakyat untuk dapat ikut menentukan nasib bangsa. Topik-topik ini dibahas bersama lebih dari 90 pemimpin dan aktivis gereja yang hadir, mulai dari Kota Ambon hingga Kabupaten Maluku Tenggara Barat.

Acara ini, seperti dikatakan Pdt Jenny Latupeirissa dari GPM Klasis Pulau Ambon, “membangkitkan rasa optimistis untuk menyatakan panggilan sebagai warga negara yang baik sekaligus warga Kerajaan Kristus”, sehingga “tidak berpikir secara pesimistis ketika melihat permasalahan di seputar NKRI.”

Dalam sambutan pembukaannya, Ketua Sinode GPM Pdt John Ruhulesin mengingatkan bahwa masalah-masalah riil di lapangan juga perlu mendapat perhatian. Warga perlu melatih diri untuk mampu menghadapi masalah bersama. Oleh karena itu, program ini juga melatih fasilitator Diskusi Warga agar pemberdayaan warga dapat dilanjutkan peserta di lingkungannya masing-masing.

Ketua Klasis GPM Tanimbar Utara (Kabupaten Maluku Tenggara Barat), Pdt Ricardo Rikumahu, mengatakan, “Setelah pelatihan ini, saya ingin membangun jejaring dengan masyarakat lokal guna menciptakan ruang diskusi dengan topik-topik mengenai keindonesiaan dalam perspektif kearifan lokal.”

Sementara itu, Kepala Biro Hubungan Oikumene Sinode GPM, Pdt Lastri Likumahwa, ingin “melakukan pembinaan kepada umat untuk terus menumbuhkan rasa nasionalisme yang tinggi melalui hal-hal yang kecil dalam lingkungan sendiri demi sebuah cita-cita yang besar berdasarkan kekuatan-Nya.”

Membangun bangsa memang harus dikerjakan bersama. Program ini ditutup dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Sinode Gereja Protestan Maluku dan Institut Leimena di kantor Sinode GPM di Kota Ambon. Mari kita bangkitkan harapan dan bangun bangsa ini! (sumber: Institut Leimena)

Subscribed YouTube WargaNegara

 

IL News No. 028/2011
oleh Institut Leimena

Pendidikan Warga ke-21 Institut Leimena di Bandung, Jawa Barat (19 Agustus 2011)

“Kami telah kehilangan kepercayaan pemerintah. Sungguhkah orang Kristen bisa berdampak dalam keadaan seperti ini?”

“Apakah satu sendok garam dapat memberi dampak pada satu drum besar air?”

“Bagaimana menciptakan anak muda-anak muda yang mencintai bangsa ketika kami telah mengalami banyak ketidakadilan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut para peserta. Wajah mereka menunjukkan kegelisahan, kekecewaan, juga keraguan – apakah sungguh kami bisa melakukan sesuatu bagi bangsa ini?

Mereka adalah sekumpulan pemuda-pemudi Kristen yang tergabung dalam Yayasan Pembinaan dan Pelayanan Alumni Kristen (YPPAK). Para pemuda-pemudi inilah yang menjadi peserta Pendidikan Warga(PW) ke-21 yang dilaksanakan atas kerjasama Institut Leimena dengan YPPAK di aula Sekolah Kristen Yahya Bandung, pada tanggal 19 Agustus 2011 lalu. Mereka berasal dari berbagai daerah di Nusantara : Ambon, Kupang, Palu, Manado, Medan, Jayapura, Biak, Bogor, dan Bandung.

Melalui kegiatan PW ini, Institut Leimena mengajak setiap peserta merawat gagasan tentang NKRI. Peserta diajak menapaki ide-ide Johannes Leimena tentang kewarganegaraan yang bertanggungjawab,  menyelami cita-cita negara Indonesia, memahami amandemen UUD 1945 dan diakhiri dengan 2 sesi workshop.

Pemuda-pemudi ini dengan antusias mengikuti setiap sesi. Mereka tak ragu mengungkapkan pendapat, maupun melontarkan pertanyaan. Dalam kedua sesi workshop, yaitu “Eksposisi Pasal 32 UUD 1945 dan “Belajar Berpikir Secara Konstitusional : Pembahasan RUU Pengelolaan Zakat”, para peserta asik berdiskusi kemudian menyampaikan hasil analisis satu sama lain.

Hal lain yang menarik dalam PW ke-21 ini adalah hadirnya tim pengajar yang terdiri dari 7 orang. Sebelum bertugas di PW-21, tim pengajar ini telah menjalani training pada tanggal 12-14 Agustus 2011. Para pengajar mencoba menerapkan metode active learning, sebuah metode di mana peserta dilibatkan sebanyak mungkin, dalam setiap sesi yang dibawakan.  Metode ini pun bersambut dengan antusiasme peserta. Suasana hidup terbangun sepanjang pelaksanaan kegiatan Pendidikan Warga.

Di akhir kegiatan, para peserta menuliskan manfaat yang mereka peroleh dan rencana tindak lanjut ke depannya. Apakah kekecewaan telah berganti menjadi belas kasihan? Apakah kegelisahan telah berganti menjadi harapan? Apakah api untuk membangun bangsa mulai menyala? Simaklah beberapa kesan para peserta di bawah ini :

Tidak bersikap pesimis atau apatis tetapi mau terlibat untuk menjadi garam dan terang dalam bangsa ini. Kecintaan, kesetiaan dan ketaatan tidak dan tidak boleh kurang daripada orang lain sebagai wujud mengasihi dan taat pada Allah. (Halen Imang - Kupang, NTT, Tenaga Pengajar honorer, aktif di pelayanan perkantas Kupang)

Saya menyadari bahwa saya ditempatkan di tengah-tengah bangsa ini bukan suatu kebetulan dalam arti ada yang perlu dikerjakan (Frans Rumene - Papua, Bergiat di GMKI dan GKI)

Acara ini membuka pikiran saya bahwa negara ini bisa berubah dan untuk terjadinya hal itu tidak bisa hanya menuntut pemerintah saja. Perubahan itu boleh dimulai dari diri saya. (Julianti Stefana Sinaga - Medan)

Saya terinspirasi untuk mulai mengkaji peraturan perundangan di bidang pekerjaan saya (rekayasa lingkungan) dan mulai menginisiasi teman-teman sevisi dan seprofesi untuk melakukan diskusi warga dan diskusi untuk pengajuan pentingnya peraturan lainnya di bidang kami  (Irene B Batoarung – Bandung)

Dari beberapa kesan para peserta di atas, telah terlihat ada tekad-tekad yang dibulatkan, gairah menyala untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa! Segala puji dan syukur kita haturkan kepada-Nya untuk terlaksananya PW ke-21 di Bandung.  Semoga Dia membuat api kita terus menyala!

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena