Civis 001/2013

Bagaimana Kita Memandang Bangsa?

 

“Bangsa, ialah tempat di mana Tuhan menempatkan kita untuk menjawab perintah (panggilan)-Nya” (Johannes Leimena)

 

Mengenai “bangsa” dimana kita terhisab didalamnya, Alkitab menempatkan kita dalam suatu posisi (kedudukan) yang “paradoxaal”.

Pada satu pihak kita diharuskan memandang bangsa itu dengan sungguh-sungguh, dengan penuh keyakinan. Bangsa, ialah tempat di mana Tuhan menempatkan kita untuk menjawab perintah (panggilan)-Nya. Dengan demikian maka kita tidak boleh menjadi “kosmopolieten,” seperti Ahasweros-Ahasweros yang modern.

Tentang hal ini Rasul paulus berkata:

“Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami selutuh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka” (Kis. 17:26).

Di lain pihak Perjanjian Baru memperlihatkan suatu konsepsi mengenai bangsa yang dipengaruhi oleh perspektip “eschatologis.”  Seperti Rasul Paulus dalam Filipi 3: 20 berkata:

“Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat,” atau dalam I Petrus 2:11, “Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, . . . “

Kita dipanggil menjadi anggota dari pada bangsa kita dan anggota dari pada Umat Allah. Sudah barang tentu hal ini membawa suatu ketegangan dalam kehidupan kita.

Seri Mutiara Pemikiran dr Johannes Leimena, bersumber pada naskah ceramah Dr. J. Leimena pada Konperensi Studi Pendidikan Agama Kristen di Sukabumi yang diadakan tanggal 20 Mei – 10 Juni 1955 dengan judul Kewarganegaraan yang Bertanggung Jawab. Dr. Johannes Leimena (1905 –1977) adalah salah satu pahlawan Indonesia. Ia merupakan tokoh politik yang paling sering menjabat sebagai menteri kabinet Indonesia dan satu-satunya Menteri Indonesia yang menjabat sebagai Menteri selama 21 tahun berturut-turut tanpa terputus. Leimena masuk ke dalam 18 kabinet yang berbeda, sejak Kabinet Sjahrir II (1946) sampai Kabinet Dwikora II (1966), baik sebagai Menteri Kesehatan, Wakil Perdana Menteri, Wakil Menteri Pertama maupun Menteri Sosial. Selain itu Leimena juga menyandang pangkat Laksamana Madya (Tituler) di TNI-AL ketika ia menjadi anggota dari KOTI (Komando Operasi Tertinggi) dalam rangka Trikora.

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena