Civis 001/2013

Bagaimana Kita Memandang Dunia?

 

Dalam bahasa sehari-hari diadakan perbedaan antara dunia yang fana (sementara) dan dunia yang baka. Dalam sejarah dunia dan sejarah Gereja terdapat dua pandangan.

Pandangan pertama, berpendapat bahwa kehidupan dan tata hidup manusia ditujukan melulu kepada alam yang baka. Dunia dan sejarahnya dipandang sebagai “ilusi”; ada orang-orang yang tidak mencampurkan dirinya dengan dunia ini berhubung dengan buruknya dunia yang disebabkan oleh kuasa-kuasa yang jahat. Inilah pandangan, yang menghindarkan dirinya dari pada pergaulan dan pergumulan dunia.

Di lain pihak terdapat pandangan tentang cara hidup dan berpikirnya manusia yang melulu ditujukan kepada dunia sekarang. Pandangan ini terdapat umpanya pada marxisme dan orang-orang yang memegang pada paham ”evolusi” dan kemajuan sosial terus menerus.

Sudah jelaslah bahwa pandangan yang pertama tidak mempedulikan kesulitan, kesukaran dan kebutuhan dunia (umat manusia) pada waktu sekarang, dan dengan demikian ia memperlemah perasaan tanggung jawb manusia terhadap dunia (masyarakat).

Pandangan yang kedua menganggap secara sungguh-sungguh kehidupan manusia dalam dunia sekarang ini dan mempunyai visi optimis terhadap dunia. Penyempurnaan kehidupan, menurutnya, tidak terdapat dalam dunia yang akan datang tapi dalam dunia sekarang ini.

Alkitab mengajarkan kita bahwa ada suatu perhubungan yang rapat antara manusia dan bumi:

“Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannnya di atas lautan dan menegakkannnya di atas sungai-sungai” (Mzm. 24:1-2).

“Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (Kej. 2:15). Sesudah manusia jatuh ke dalam dosa “taman” itu menjadi suatu tempat yang terkutuk, dimana manusia dengan peluh mukanya akan memakan rezekinya. (Kej. 3:19), tapi bumi itu menjadi pula tempat aktivitas pendamaian Allah dalam Yesus Kristus.

Oleh pekerjaan Tuhan Yesus sengsara yang fana dalam dunia ini akan di ganti dengan kemuliaan yang baka. Seperti Rasul Paulus berkata dalam Roma 8:18-21:

“Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan kedatangan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.”

Dengan demikian maka bumi dan dunia manusia adalah “ciptaan Allah” dan “ciptaan kedua kalinya dari Allah”.

Sidang raya Dewan Gereja se-Dunia berpendapat:

“Tuhan menciptakan dunia ini, segala waktu termasuk dalam tujuannya. Ia bergerak dan bertindak dalam sejarah dunia sebagai Raja. Menurut paham kekristenan, pusat daripada sejarah dunia adalah kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Dalam Yesus Kristus Allah masuk dalam dunia ini, menghukum dan mengampuninya”.

 

Kesimpulan

 

Allah dalam Yesus Kristus, bukan saja Raja daripada sorga, melainkan juga Raja daripada dunia. Tuhan telah menciptakan bumi (dunia) ini. Ia mengasihi dunia ini, sehingga ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus supaya barangsiapa yang percaya akan Dia tidak akan binasa, melainkan memperoleh kehidupan yang kekal.

Ia memperdamaikan dunia ini dalam Kristus Yesus. Ia memerintah, melindungi dan memeliharakan dunia ini sampai Ia datang kelak kedua kalinya degnan segala kemuliaannya. Dengan datangnya Tuhan Yesus Kristus dalam dunia ini, Allah telah menciptakan untuk kedua kalinya dunia ini. Pekerjaan kerajaan sorga yang telah dimulai dengan kedatangan Tuhan Yesus Kristus akan disempurnakan oleh-Nya pada akhir zaman.

Kita yang hidup diantara dua waktu, yaitu antara kenaikan Tuhan ke surga dan kedatangan kedua kalinya dalam dunia ini, tidak dapat melepaskan diri kita dari pada bumi (dunia) ini, tapi wajib turut serta dalam pemeliharaan dunia ini, turut serta dalam pekerjaan menegakkan kerajaan sorga dalam dunia ini.

Tuhan Yesus Kristus dalam doa-Nya berkata:

“Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia” (Yoh. 17:18).

Dengan demikian maka pandangan pertama diatas, bertentangan dengan maksud dan perintah Allah. Sebaliknya pandangan kedua,  visi optimistis terhadap dunia bertentangan dengan pelajaran Alkitab.

 

Seri Mutiara Pemikiran dr Johannes Leimena, bersumber pada naskah ceramah Dr. J. Leimena pada Konperensi Studi Pendidikan Agama Kristen di Sukabumi yang diadakan tanggal 20 Mei – 10 Juni 1955 dengan judul Kewarganegaraan yang Bertanggung Jawab. Dr. Johannes Leimena (1905 –1977) adalah salah satu pahlawan Indonesia. Ia merupakan tokoh politik yang paling sering menjabat sebagai menteri kabinet Indonesia dan satu-satunya Menteri Indonesia yang menjabat sebagai Menteri selama 21 tahun berturut-turut tanpa terputus. Leimena masuk ke dalam 18 kabinet yang berbeda, sejak Kabinet Sjahrir II (1946) sampai Kabinet Dwikora II (1966), baik sebagai Menteri Kesehatan, Wakil Perdana Menteri, Wakil Menteri Pertama maupun Menteri Sosial. Selain itu Leimena juga menyandang pangkat Laksamana Madya (Tituler) di TNI-AL ketika ia menjadi anggota dari KOTI (Komando Operasi Tertinggi) dalam rangka Trikora.

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena