Civis Vol. 2, No. 1, Feb 2010



Tahun 2000 namanya mulai terdengar di kancah nasional sejak ia terpilih sebagai Ketua PP Muhammadiyah. Padahal saat itu, pria kelahiran Sumpur Kudus – Sumatera Barat ini telah mencapai usia 65 tahun. Banyak orang menganggap hal itu sebagai keterlambatan karena baru menjadi “rising star” di usia yang relatif senja.  Tapi dalam waktu singkat,  ketulusan hati dan pemikirannya yang progresif telah membuatnya dikenal sebagai seorang cendekiawan dan tokoh civil Islam yang menembus sekat-sekat parpol, agama, suku, dan golongan. Berikut ini adalah dialog Matius Ho dan Grace Emilia dari Institut Leimena dengan Bapak Ahmad Syafii Maarif di apartemennya di Jakarta.

Berbagai insiden yang melibatkan negara dan rakyat seringkali mengindikasikan kekuasaan masih menindas yang lemah. Padahal nilai-nilai agama meninggikan keadilan dan keberpihakan pada yang lemah. Apakah ini refleksi kegagalan komunitas beragama dalam meletakkan dasar moral etika bagi penyelenggara negara?

Boleh dikatakan kegagalan atau setengah gagal. Sebenarnya agama mengajarkan kebenaran, tapi ketika masuk ke otak dan hati manusia, penafsirannya jadi rancu. Tidak jarang agama dijadikan alat dan kendaraan untuk tujuan-tujuan duniawi. Ketika sudah dikuasai oleh berbagai kepentingan, agama jadi tidak berfungsi. Itu yang terjadi di berbagai peradaban dan periode sejarah. Karena itu sebagai jalan keluarnya, kita harus kembali ke ajaran yang otentik, dan kita sesuaikan perilaku kita dengan ajaran itu.

Kalau begitu, yang bermasalah adalah komunitas agama?

Iya, komunitas agama dan pemahaman kepada ajaran pokok agamanya. Agama berbeda-beda, tapi ada benang merahnya. Keadilan, persaudaraan universal, dan manusia yang bersatu itu sama, tapi kena pengaruh sub kultur dan latar belakang sejarah sehingga manifestasinya tidak seperti itu. Karena itu mari kita kembali pada agama kita masing-masing. Di sana akan ada sinar, asal hati dan otak kita tulus. Tanpa itu tak bisa, percayalah! Saya sudah 10 tahun berpengalaman di lintas agama. Secara empirik, orang yang berbeda agama itu ternyata bisa membina persahabatan yang dalam sekali asal tulus. Ini yang harus kita budayakan dan sosialisasikan.

Jadi sebetulnya, masalah di lintas agama itu adalah banyaknya ketidak-tulusan, walaupun di luarnya tampil religius?

Yes, pakai ayat-ayat Qur’an, Hadits, tapi kelakuannya bukan merupakan refleksi dari agama. Tapi Islam mengajarkan kita tidak boleh putus asa. Ada suatu cerita dalam Qur’an tentang Nabi Nuh yang, menurut Qur’an, hidup 950 tahun. Dia gagal mencerahkan dan memanusiakan umatnya.  Dengan umur sekian, pengalaman empiriknya mengatakan bahwa mencerahkan umat itu sulit sekali. Oleh sebab itu kita harus sabar sekali. Dan karena jarak antara realitas dan idealisme agama itu jauh, banyak orang tidak percaya lagi kepada agama. Inilah kritik yang harus kita dengar untuk introspeksi.

Apakah ini ada kaitannya dengan pernyataan Nietzsche yang sering Bapak kutip (bahwa “pembunuh Tuhan adalah orang-orang saleh”-red), yang memang merupakan kritik terhadap gereja pada saat itu?

Benar sekali. Coba di Afganistan, 90% itu Suni, tapi ideologi suku lebih dominan. Di mana agamanya?  Nembak saja pakai Bismillah. Ini harus kita akui, jangan tidak diakui.

Bagaimana dengan produk hukum dan perundangan yang mengatur, bahkan mewajibkan ibadah agama, yang antara lain diharapkan dapat meningkatkan ketaatan beragama umatnya? Bukankah ketaatan beribadah yang diatur melalui peraturan perundangan ini justru berpotensi menghasilkan kesalehan “semu” yang justru mengancam nilai-nilai luhur agama itu sendiri?

Agama bisa menjadi superficial (dangkal –red), tidak dari dalam. Beragama itu harus dari dalam, membentuk sikap hidup, pola pikir, dan perasaan.  Itu baru benar.  Agama yang superficial lebih menjadi beban daripada aset. Jadi, negara jangan terlalu banyak turut campur, kecuali kalau sudah terjadi gangguan atau kriminalitas. Negara menjadi fasilitator saja. Kalau terjadi bentrokan antar agama, barulah negara perlu turun tangan.

Namun saat ini muncul banyak polisi swasta, misalnya yang menghancurkan Ahmadiyah itu. Saya katakan mereka adalah preman berjubah, lalu mereka marah luar biasa pada saya. Demikian pula di kalangan Anda, misalnya, ada kelompok penginjil yang datang ke rumah-rumah.  Oleh karena itu diperlukan ketulusan, agar orang tidak berambisi untuk menjadikan orang lain seperti dirinya. Sudahlah, kita ikuti jalan hidup masing-masing dan bergaul baik-baik. Itu yang saya lakukan selama 12 tahun dan tidak punya musuh.

Mungkinkah ketika agama masuk dalam peraturan pemerintah misalnya, motivasinya lebih dipengaruhi faktor ekonomi, ketimbang agamanya?

Dimana-mana, kekuasaan itu korup.  Tetapi ada saja arus yang mengikuti kebenaran. Kebenaran dan cita-cita pada keadilan itu abadi. Sedangkan prilaku busuk bisa saja berkuasa, tapi sementara. Hitler yang hebat itu pun lambat laun berantakan.  Karena itu, kelompok-kelompok agama harus berpikir yang dalam, jangan dangkal. Ini akan mempertemukan kita, apa pun agama kita. Orang yang tidak beragama tapi berpikiran tulus pun mungkin bisa diajak bicara juga. Tapi kalau sudah ada agenda-agenda tersembunyi untuk saling menerkam, sudah tidak bisa lagi.

Jadi sebetulnya prilaku negara itu sedikit banyak merefleksikan apa yang terjadi di masyarakat?

Iya, dan tokoh agama banyak yang mudah dikooptasi oleh negara sehingga menambah komplikasi.

Bagaimana sebaiknya sikap komunitas beragama terhadap negara?

Kritis, tapi karena kita juga hidup dalam wilayah negara, kita harus menghormati hukum-hukum yang ada. Memang kekuasaan itu berbahaya kalau tidak diiringi visi moral.  Perbedaan pasti ada, tapi keadilan dan persaudaraan itu milik semua orang. Tapi jangankan persaudaraan lintas agama, satu agama saja saling baku hantam. Semoga dengan adanya Institut Leimena, pencerahan ini dipercepat: terjadi proses pencerdasan otak dan pencerahan hati. Maarif Institute juga mau begitu.

Dalam buku To Empower People: From State To Civil Society (Berger dan Neuhaus), dikatakan bahwa lembaga agama memiliki fungsi mediasi, yaitu menjembatani masyarakat dalam ruang privat dengan lembaga-lembaga publik, khususnya negara. Tapi ini berarti selalu ada godaan untuk berkolusi dengan negara, atau lebih tepatnya dengan kekuasaan, sehingga meninggalkan fungsi mediasinya. Bagaimana agar lembaga-lembaga agama bisa tetap independen dan kritis terhadap negara?

Caranya di dalam internal agama itu harus kuat dulu. Itu yang sulit sekali.  Ada sekte-sekte, kelompok garis keras yang merasa paling benar sendiri. Selama masalah internal agama ini tidak diselesaikan, akan sulit sekali bagi agama untuk berperan sebagai mediator. Karena itu saya bicara pada kawan-kawan dari PGI, KWI, dsb. bahwa bangsa kita ini lumayan dari sisi kecerdasan otak,  yang kurang itu kecerdasan hati. Dari hati yang cerdas itulah timbul ketulusan dan kearifan. Otak ini kalkulasinya hanya untung-untung saja jika tidak dikendalikan oleh kecerdasan hati.

Bukankah ketulusan itu sebetulnya berkaitan dengan seberapa jauh pemahaman seseorang akan agamanya? Mungkinkah itu sebetulnya saling terkait?

Pemahamannya itu kadang-kadang benar, tapi ada godaaan lain seperti lingkungan dan kebutuhan ekonomi. Itu mempengaruhi juga dan tidak jarang orang memakai ayat agama untuk itu. Misalnya, di dalam Qur’an tidak ada perintah terima zakat, tapi keluarkanlah zakat. Memberi, memberi, memberi, itu konsepnya. Tapi lihat kenyataannya. Inilah faktanya.

Saya pernah bilang, kalau saya tidak mengerti Qur’an, saya sudah keluar dari Islam. Jauh sekali kenyataannya dari Kitab Suci. Tapi Nabi Nuh itu, taruhlah dia jadi nabi umur 40 tahun, berarti dia bekerja siang malam selama 910 tahun sebab umatnya semakin hari semakin hancur karena godaan duniawi.  Karena itu lembaga agama harus mau keluar kandang, jangan hanya memikirkan umat sendiri. Kalau kita ingin mencerahkan dan mencerdaskan, kita mesti bersikap adil, sehingga orang tidak gampang curiga. Bahkan saya pernah katakan, orang yang tidak beriman pun berhak untuk hidup, asal kita saling menghargai.

Bapak telah menyebutkan beberapa kata kunci penting, seperti ketulusan, visi moral, dan keadilan. Seharusnya kata-kata kunci ini dapat menjadi wacana publik yang mempersatukan.

Benar sekali, benar sekali! Kata-kata kunci ini harus disampaikan terus-menerus. Tapi prilaku kita juga harus mewakili itu, sebab kalau tidak, orang tidak akan pernah percaya. Mari kita coba kerjakan dengan lintas agama. Upaya lintas agama ini baik, tapi baru di tingkat elite dan orientasinya juga bermacam-macam. Tapi yah sudahlah, hidup itu memang begini. Kita hadapi saja, tapi yang penting kita tetap berpegang pada kata-kata kunci tersebut.

Sebaliknya, terkesan belakangan ini kecenderungannya ialah kekuasaan dapat melakukan apa saja dan materialisme jadi yang utama?

Puncak materialisme adalah hedonisme. Anda lihat, gaji pejabat dinaikkan, mobil Rp 1,3 milyar, kita ini sudah mati suri. Jadi kita memang perlu merenung secara mendalam. Kita berharap Tuhan mengunjungi hati dan otak kita. Tuhan tidak bisa dipaksa dan Tuhan berpihak pada keadilan. Tuhan tidak netral. Dia berpihak pada kebaikan. **

Penulis

Grace Emilia, M.A.