Civis Vol. 2, No. 2, Agust 2010


Catatan Redaksi

 

Ambisius! Barangkali itu yang terpikir ketika membaca CIVIS edisi kali ini. Membicarakan Pancasila bisa menjadi buku berjilid-jilid, apalagi berusaha mengaitkannya dengan berbagai isu kontemporer. Edisi ini memang diharapkan ikut menggugah pembaca untuk ikut “membicarakan Pancasila” dalam berbagai wacana, karena sejak Orde Baru runtuh, banyak orang yang sepertinya “alergi” bicara Pancasila. Ada sikap skeptis terhadap Pancasila.

Mungkin akibat melihat penataran P4 yang tidak selalu menjamin sikap Pancasilais sejati? Tapi apakah itu salahnya Pancasila? Slamet Effendy Yusuf mengatakan bahwa kekuatan Pancasila hilang di masa Orde Baru karena dijadikan dogma yang tertutup, padahal Pancasila bersifat open interpretation. Tapi apa maksudnya?

Untuk itulah CIVIS mengangkat kembali pemikiran Pdt. Dr. Eka Darmaputera mengenai Pancasila yang ditulis lebih dari 20 tahun yang lalu, tapi masih relevan hingga kini. Sayangnya pemikiran ini belum banyak dikembangkan menjadi landasan untuk memahami Pancasila dalam konteks isu-isu publik masa kini, atau lebih tepatnya, untuk menjawab permasalahan masa kini dengan berpedoman Pancasila.

Penekanannya bukanlah untuk membuat sistematika filsafat Pancasila, tapi bagaimana mendorong terjadinya banyak “dialog kerja” untuk menghadapi berbagai isu publik yang ada, dimana dialog kerja tersebut ialah “dialog antara bermacam-macam bentuk pengamalan sila-sila Pancasila mengenai masalah-masalah tertentu yang dihadapi secara bersama oleh semua kelompok di dalam masyarakat.” Keunggulan Pancasila justru sebagai “senjata” untuk menghadapi persoalan-persoalan kongkret, dengan memberikan ruang bagi kemajemukan, seraya mempertahankan kesatuan Indonesia. Hal ini dibuktikan kembali dalam proses amandemen UUD’45 yang berhasil menyerap kemajemukan aspirasi dengan tetap mempertahankan kesatuan bangsa.

Jadi edisi ini berupaya untuk mendorong lebih banyak “dialog kerja” tersebut dengan mengetengahkan berbagai topik permasalahan penting. Tulisan-tulisan ini diharapkan ikut menyadarkan relevansi Pancasila untuk masa kini, serta ikut mengembangkan pendekatan Pancasila yang tidak melulu teoritis, tapi secara praktis menggumuli masalah konkret di masyarakat. Para pendiri bangsa telah bersusah payah merumuskan Pancasila sebagai modal dasar kemerdekaan Indonesia. Tidakkah kita, para penerus bangsa, selayaknya berjerih payah menggunakan modal ini untuk mengisi kemerdekaan?

Matius Ho

Pemimpin Redaksi