IL News 015/2014

 

Johannes Leimena School of Public Leadership
Jakarta, 17-23 Agustus 2014

 

Institut Leimena mengadakan program pembinaan khusus kepemimpinan publik melalui Johannes Leimena School of Public Leadership (JLSOPL), pada tanggal 17-23 Agustus 2014, di Wisma PGI Teuku Umar, Jakarta. Program ini bertujuan untuk mempersiapkan para pemimpin yang berintegritas dan mengenal jati dirinya sebagai bangsa Indonesia, serta mau dan mampu memperjuangkan cita-cita bangsa sebagai warga negara dalam komunitas masyarakat dimana ia berada, melalui jalur kebijakan publik dan instrumen negara yang tersedia, dari tingkat lokal hingga nasional.


Program JLSOPL diikuti oleh 22 orang kader muda dari berbagai sinode gereja, lembaga parachurch, pemerintahan dan universitas. Para peserta berasal dari Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jogjakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Para kader muda yang mengikuti JLSOPL memiliki latar belakang profesi yang beragam seperti Pendeta, Wiraswasta, Kepala Desa, Anggota DPRD, Dosen, Pegawai Negeri, Jurnalis, Pengacara publik, Guru, dan Mahasiswa.

Acara JLSOPL dirancang untuk mengintegralkan antara sesi Pengetahuan, Ketrampilan dan Hati. Untuk itu, program acara JLSOPL dibagi menjadi beberapa blok acara: pertama, Pemahaman Alkitab tentang Politik dan Kekristenan. Kedua, Pemahaman Kebangsaan dan Kenegaraan. Ketiga,Workshop Advokasi Kebijakan Publik dan Suara Anda Berharga dan kunjungan Lembaga ke DPR, Mahkamah Konstitusi, Balai Kota Jakarta, dan Indonesian Conference of Religion and Peace (ICRP). Keempat, Temu Tokoh Bangsa (sesi Pengalaman Melayani Bangsa) seperti Ahmad Syafii Maarif, Irzan Tandjoeng, Jakob Tobing, Maruarar Siahaan, Pontas Nasution, RK Sembiring Meliala, dan Theo Sambuaga.


JL SoPL sangat membekali saya selaku pendeta dalam melakukan penggembalaan bagi warga gereja yang melakukan pelayanan di bidang sosial politik. (Pdt Christiana Riyadi, utusan Gereja Kristen Jawa (GKJ)

Teladan hidup dari para tokoh yang menangkap visi dan setia mengerjakan panggilannya. Hal ini mendorong saya untuk juga berjuang tekun melakukan bagian saya (saat ini sebagai wartawan) untuk bangsa dan negara, bukan sibuk dengan diri sendiri. (Desca Lidya, Wartawan Antara)

Perubahan cara melihat persepsi tentang Konstitusi. Dulu, saya anggap Konstitusi bukan hal penting untuk dipelajari dengan baik, karena bukan bidang saya. Namun, sekarang saya memahami bahwa seluruh warga masyarakat perlu mengetahui konstitusi untuk memahami hak dan tanggung jawab sebagai warga. (Linda Bustan, dosen Universitas Kristen Petra Surabaya)

Pemahaman baru tentang Pancasila. Mempelajari sejarah lahirnya Pancasila, pergulatan politik yang mewarnai pembentukan Pancasila dan tujuan dasar negara Pancasila. Memberi pemahaman baru bagi saya tentang keindonesiaan. Indonesia Hebat! (Yusuf Rahmat, Kepala Desa di Mamasa, utusan Gereja Toraja Mamasa)

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena