IL News 010/2013

 

Kuliah Umum di Universitas Kristen Tentena
Sulawesi Tengah, 19 Juni 2013

Dalam Sumpah Pemuda tahun 1928, Jong Celebes merupakan salah satu organisasi pemuda yang ikut serta mendeklarasikannya.  Rasa kebangsaan yang telah diteladankan oleh Jong Celebes di masa lalu harus terus dipelihara oleh para pemuda Sulawesi masa kini, khususnya para mahasiswa di Universitas Kristen Tentena (Unkrit). Universitas Kristen yang didirikan pada tahun 2007 ini mengemban misi untuk membina para generasi penerus bangsa, tidak hanya dalam hal intelektual, tetapi juga dalam hal emosional dan spiritual, yang antara lain terwujud dalam rasa kebangsaan Indonesia yang makin meningkat.

Dalam rangkaian kegiatan  Institut Leimena di Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST), diadakanlah Kuliah Umum bagi mahasiswa Universitas Kristen Tentena yang diadakan di Aula Gedung Rektorat Unkrit.


Kuliah umum ini difasilitasi oleh Budi Setiamarga dan Matius Ho dari Institut Leimena. Kuliah umum yang berlangsung pada hari Rabu, 19 Juni 2013 selama 3 jam ini mengajak para mahasiswa dan staf dosen Unkrit untuk memahami gagasan Indonesia yang ada di Pembukaan UUD 1945 serta bagaimana peristiwa-peristiwa dalam sejarah dunia dan sejarah Indonesia, mulai dari Declaration of Independence di Amerika Serikat tahun 1776 sampai dengan Proklamasi Kemerdekaan negara Republik Indonesia tahun 1945, ikut serta membentuk gagasan negara Indonesia yang ada di Pembukaan UUD 1945.

Pentingnya perubahan (amandemen) UUD 1945 juga diuraikan untuk menunjukkan bahwa Indonesia sudah berubah dari negara totaliter terbesar kedua di dunia menjadi negara demokrasi terbesar ke tiga di dunia. Peran warga negara menjadi sangat penting dalam Indonesia pasca amandemen UUD 1945 yang antara lain ditunjukkan dalam wujud penggunaan hak suara secara cerdas oleh warga negara Indonesia di pilkada dan pemilu. Dengan makin cerdasnya warga negara dalam menggunakan hak suaranya, makin besar kemungkinan Indonesia untuk menjadi semakin baik di masa mendatang.

Subscribed YouTube WargaNegara

 

IL News No. 028/2011
oleh Institut Leimena

Pendidikan Warga ke-21 Institut Leimena di Bandung, Jawa Barat (19 Agustus 2011)

“Kami telah kehilangan kepercayaan pemerintah. Sungguhkah orang Kristen bisa berdampak dalam keadaan seperti ini?”

“Apakah satu sendok garam dapat memberi dampak pada satu drum besar air?”

“Bagaimana menciptakan anak muda-anak muda yang mencintai bangsa ketika kami telah mengalami banyak ketidakadilan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut para peserta. Wajah mereka menunjukkan kegelisahan, kekecewaan, juga keraguan – apakah sungguh kami bisa melakukan sesuatu bagi bangsa ini?

Mereka adalah sekumpulan pemuda-pemudi Kristen yang tergabung dalam Yayasan Pembinaan dan Pelayanan Alumni Kristen (YPPAK). Para pemuda-pemudi inilah yang menjadi peserta Pendidikan Warga(PW) ke-21 yang dilaksanakan atas kerjasama Institut Leimena dengan YPPAK di aula Sekolah Kristen Yahya Bandung, pada tanggal 19 Agustus 2011 lalu. Mereka berasal dari berbagai daerah di Nusantara : Ambon, Kupang, Palu, Manado, Medan, Jayapura, Biak, Bogor, dan Bandung.

Melalui kegiatan PW ini, Institut Leimena mengajak setiap peserta merawat gagasan tentang NKRI. Peserta diajak menapaki ide-ide Johannes Leimena tentang kewarganegaraan yang bertanggungjawab,  menyelami cita-cita negara Indonesia, memahami amandemen UUD 1945 dan diakhiri dengan 2 sesi workshop.

Pemuda-pemudi ini dengan antusias mengikuti setiap sesi. Mereka tak ragu mengungkapkan pendapat, maupun melontarkan pertanyaan. Dalam kedua sesi workshop, yaitu “Eksposisi Pasal 32 UUD 1945 dan “Belajar Berpikir Secara Konstitusional : Pembahasan RUU Pengelolaan Zakat”, para peserta asik berdiskusi kemudian menyampaikan hasil analisis satu sama lain.

Hal lain yang menarik dalam PW ke-21 ini adalah hadirnya tim pengajar yang terdiri dari 7 orang. Sebelum bertugas di PW-21, tim pengajar ini telah menjalani training pada tanggal 12-14 Agustus 2011. Para pengajar mencoba menerapkan metode active learning, sebuah metode di mana peserta dilibatkan sebanyak mungkin, dalam setiap sesi yang dibawakan.  Metode ini pun bersambut dengan antusiasme peserta. Suasana hidup terbangun sepanjang pelaksanaan kegiatan Pendidikan Warga.

Di akhir kegiatan, para peserta menuliskan manfaat yang mereka peroleh dan rencana tindak lanjut ke depannya. Apakah kekecewaan telah berganti menjadi belas kasihan? Apakah kegelisahan telah berganti menjadi harapan? Apakah api untuk membangun bangsa mulai menyala? Simaklah beberapa kesan para peserta di bawah ini :

Tidak bersikap pesimis atau apatis tetapi mau terlibat untuk menjadi garam dan terang dalam bangsa ini. Kecintaan, kesetiaan dan ketaatan tidak dan tidak boleh kurang daripada orang lain sebagai wujud mengasihi dan taat pada Allah. (Halen Imang - Kupang, NTT, Tenaga Pengajar honorer, aktif di pelayanan perkantas Kupang)

Saya menyadari bahwa saya ditempatkan di tengah-tengah bangsa ini bukan suatu kebetulan dalam arti ada yang perlu dikerjakan (Frans Rumene - Papua, Bergiat di GMKI dan GKI)

Acara ini membuka pikiran saya bahwa negara ini bisa berubah dan untuk terjadinya hal itu tidak bisa hanya menuntut pemerintah saja. Perubahan itu boleh dimulai dari diri saya. (Julianti Stefana Sinaga - Medan)

Saya terinspirasi untuk mulai mengkaji peraturan perundangan di bidang pekerjaan saya (rekayasa lingkungan) dan mulai menginisiasi teman-teman sevisi dan seprofesi untuk melakukan diskusi warga dan diskusi untuk pengajuan pentingnya peraturan lainnya di bidang kami  (Irene B Batoarung – Bandung)

Dari beberapa kesan para peserta di atas, telah terlihat ada tekad-tekad yang dibulatkan, gairah menyala untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa! Segala puji dan syukur kita haturkan kepada-Nya untuk terlaksananya PW ke-21 di Bandung.  Semoga Dia membuat api kita terus menyala!

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena