IL News 011/2013
Presiden Institut Leimena, Jakob Tobing (kiri) sedang memaparkan perubahan fundamental yang terjadi di Indonesia untuk memahami makna Pemilu 2014, serta pentingnya peran warga negara. Seminar bertajuk “Hak dan Tanggung Jawab Umat Kristiani Dalam Kehidupan Berbangsa & Bernegara di Indonesia” ini juga dihadiri narasumber Yasonna H. Laoly, anggota DPR-RI (kanan) dengan moderator Harianto, dosen Institut Pertanian Bogor (tengah). Seminar Gereja, Masyarakat, dan Agama (Germasa) ini diadakan di Bogor, tanggal 24 Agustus 2013, oleh Majelis Jemaat GPIB Zebaoth Bogor dalam rangka peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Presiden Institut Leimena, Jakob Tobing menerima undangan untuk berbicara tentang “Kondisi Indonesia Kini” dengan beberapa perwakilan sinode gereja di Jakarta, bertempat di Saat Ministry Centre – Central Park Jakarta, pada tanggal 20 Agustus 2013.  Hadir dalam pertemuan tersebut beberapa perwakilan dari sinode Gereja Kristus, sinode Gereja Kristus Yesus, sinode Gereja Kristen Baptis Jakarta, sinode Wilayah Jabar Gereja Kristen Indonesia, Gereja Metodis Indonesia, sinode Gereja Kristen Jakarta, Gereja Kristen Pemberita Injil, pengurus Persekutuan Gereja-gereja Tionghoa di Indonesia, dan pengurus Saat Ministry Centre.

Institut Leimena mengadakan pertemuan dengan beberapa pimpinan persekutuan gereja aras nasional untuk membahas persiapan Konsultasi Nasional 2013 dan beberapa permasalahan aktual kebangsaan di kantor Institut Leimena Jakarta, tanggal 10 Juni dan 8 Juli 2013. Dalam pertemuan tersebut,  hadir mewakili Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia adalah Pdt. A.A. Yewangoe dan Laura Elinda, dari Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia adalah Pdt. Mulyadi Sulaeman, dari Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia adalah Pdt. Ronny Mandang, dari Persekutuan Gereja-gereja Tionghoa di Indonesia adalah Pdt Jusuf Pangestu, dari Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh adalah Pdt Samuel Simorangkir, dan dari Institut Leimena adalah Jakob Tobing, Viveka Nanda Leimena,  Pontas Nasution, Mangara Tambunan,  Junius Suhadi, Maruarar Siahaan, RK Sembiring Meliala, Matius Ho, Daniel Adipranata, Tobias Basuki dan Yans Penina.

Tampak di layar komputer para peserta pembinaan Komisi Pelayanan Kategorial Gereja Protestan Indonesia di Donggala (GPID) Manunggal (Palu) sedang berdiskusi dengan Matius Ho dan Daniel Adipranata dari Institut Leimena (Jakarta), melalui teleconference, pada tanggal 8 Juni 2013. Pembinaan yang bertema “Gereja dan Politik” ini, diawali dengan kelompok-kelompok Diskusi Warga tentang Kewarganegaraan Yang Bertanggung Jawab.

Subscribed YouTube WargaNegara

 

IL News No. 028/2011
oleh Institut Leimena

Pendidikan Warga ke-21 Institut Leimena di Bandung, Jawa Barat (19 Agustus 2011)

“Kami telah kehilangan kepercayaan pemerintah. Sungguhkah orang Kristen bisa berdampak dalam keadaan seperti ini?”

“Apakah satu sendok garam dapat memberi dampak pada satu drum besar air?”

“Bagaimana menciptakan anak muda-anak muda yang mencintai bangsa ketika kami telah mengalami banyak ketidakadilan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut para peserta. Wajah mereka menunjukkan kegelisahan, kekecewaan, juga keraguan – apakah sungguh kami bisa melakukan sesuatu bagi bangsa ini?

Mereka adalah sekumpulan pemuda-pemudi Kristen yang tergabung dalam Yayasan Pembinaan dan Pelayanan Alumni Kristen (YPPAK). Para pemuda-pemudi inilah yang menjadi peserta Pendidikan Warga(PW) ke-21 yang dilaksanakan atas kerjasama Institut Leimena dengan YPPAK di aula Sekolah Kristen Yahya Bandung, pada tanggal 19 Agustus 2011 lalu. Mereka berasal dari berbagai daerah di Nusantara : Ambon, Kupang, Palu, Manado, Medan, Jayapura, Biak, Bogor, dan Bandung.

Melalui kegiatan PW ini, Institut Leimena mengajak setiap peserta merawat gagasan tentang NKRI. Peserta diajak menapaki ide-ide Johannes Leimena tentang kewarganegaraan yang bertanggungjawab,  menyelami cita-cita negara Indonesia, memahami amandemen UUD 1945 dan diakhiri dengan 2 sesi workshop.

Pemuda-pemudi ini dengan antusias mengikuti setiap sesi. Mereka tak ragu mengungkapkan pendapat, maupun melontarkan pertanyaan. Dalam kedua sesi workshop, yaitu “Eksposisi Pasal 32 UUD 1945 dan “Belajar Berpikir Secara Konstitusional : Pembahasan RUU Pengelolaan Zakat”, para peserta asik berdiskusi kemudian menyampaikan hasil analisis satu sama lain.

Hal lain yang menarik dalam PW ke-21 ini adalah hadirnya tim pengajar yang terdiri dari 7 orang. Sebelum bertugas di PW-21, tim pengajar ini telah menjalani training pada tanggal 12-14 Agustus 2011. Para pengajar mencoba menerapkan metode active learning, sebuah metode di mana peserta dilibatkan sebanyak mungkin, dalam setiap sesi yang dibawakan.  Metode ini pun bersambut dengan antusiasme peserta. Suasana hidup terbangun sepanjang pelaksanaan kegiatan Pendidikan Warga.

Di akhir kegiatan, para peserta menuliskan manfaat yang mereka peroleh dan rencana tindak lanjut ke depannya. Apakah kekecewaan telah berganti menjadi belas kasihan? Apakah kegelisahan telah berganti menjadi harapan? Apakah api untuk membangun bangsa mulai menyala? Simaklah beberapa kesan para peserta di bawah ini :

Tidak bersikap pesimis atau apatis tetapi mau terlibat untuk menjadi garam dan terang dalam bangsa ini. Kecintaan, kesetiaan dan ketaatan tidak dan tidak boleh kurang daripada orang lain sebagai wujud mengasihi dan taat pada Allah. (Halen Imang - Kupang, NTT, Tenaga Pengajar honorer, aktif di pelayanan perkantas Kupang)

Saya menyadari bahwa saya ditempatkan di tengah-tengah bangsa ini bukan suatu kebetulan dalam arti ada yang perlu dikerjakan (Frans Rumene - Papua, Bergiat di GMKI dan GKI)

Acara ini membuka pikiran saya bahwa negara ini bisa berubah dan untuk terjadinya hal itu tidak bisa hanya menuntut pemerintah saja. Perubahan itu boleh dimulai dari diri saya. (Julianti Stefana Sinaga - Medan)

Saya terinspirasi untuk mulai mengkaji peraturan perundangan di bidang pekerjaan saya (rekayasa lingkungan) dan mulai menginisiasi teman-teman sevisi dan seprofesi untuk melakukan diskusi warga dan diskusi untuk pengajuan pentingnya peraturan lainnya di bidang kami  (Irene B Batoarung – Bandung)

Dari beberapa kesan para peserta di atas, telah terlihat ada tekad-tekad yang dibulatkan, gairah menyala untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa! Segala puji dan syukur kita haturkan kepada-Nya untuk terlaksananya PW ke-21 di Bandung.  Semoga Dia membuat api kita terus menyala!

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena