IL News 005/2016

 

Christianity and Politics Training ke-2
Rantepao, Sulawesi Selatan, 17-18 Februari 2016

 

Bagi sebagian orang, politik itu kotor dan harus dihindari dan bagi sebagian orang yang lainnya, politik itu ibarat jalan mulus untuk meraih kepentingannya pribadi. Bagaimana seharusnya seorang Kristen memahami politik? Ini adalah salah satu pertanyaan yang dibahas dalam Christianity and Politics Training yang dilaksanakan pada tanggal 17-18 Februari 2016 di Pusat Pelatihan Gereja Toraja Tangmentoe di Rantepao, kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, atas kerjasama antara Institut Leimena bersama dengan Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN) Toraja dan Sinode Gereja Toraja. Acara Lokakarya Pasca Sarjana STAKN ini diikuti oleh sekitar 50 orang mahasiswa S1/S2 STAKN, dosen STAKN serta pendeta dan penatua Sinode gereja Toraja dan dibuka dengan resmi oleh Ketua STAKN Toraja, Salmon Pamantung, MTh.


Dalam pelatihan ini, Dr. Paul Marshall, Senior Fellow di Institut Leimena serta Hudson Institute Washington DC, menyampaikan topik seputar “Injil dan Politik” serta “Pendeta dan Politik”. Beberapa pokok ajaran tentang Gereja dan Politik disampaikan oleh Dr. Andreas A. Yewangoe, Senior Fellow di Institut Leimena dan Ketua Majelis Pertimbangan PGI 2014 – 2019. Selain itu, Dr. A.A. Yewangoe juga membahas topik  seputar “Gereja dan Pengakuan Iman” serta bagaimana “Aktualisasi Perpolitikan di Indonesia”. Peserta juga diajak untuk melihat salah satu keteladanan dalam Kekristenan dan Politik dengan menyaksikan bersama tayangan Metro File “Mutiara dari Timur: Johannes Leimena” yang pernah ditayangkan di Metro TV pada tanggal 8 Januari 2011. Sosok Johannes Leimena ini diangkat sebagai contoh seorang yang melihat politik sebagai etika untuk melayani dan bukan sekedar upaya mencari kekuasaan belaka. Peserta difasilitasi juga oleh Pdt. Simon Todingallo, sebagai Ketua Institut Teologia Gereja Toraja, untuk memikirkan bersama rencana tindak lanjut dari pelatihan Christianity and Politics ini.


Bagaimana tanggapan peserta pelatihan ini? Mari kita simak bersama beberapa komentar dari peserta:

Manfaatnya ialah memberikan pemahaman yang riil (nyata) tentang bagaimana seharusnya kita sebagai orang Kristen mengambil sikap dalam politik yang benar (Mersi Pappa Tandiongan, STAKN Toraja)

Bagi saya pribadi sangat bermanfaat karena memberi inspirasi, pencerahan tentang bagaimana seharusnya pendeta dalam politik. Gereja juga seharusnya tidak boleh alergi pada politik, tetapi politik harus dijadikan sebagai etika pengabdian (Risal Buttu Linggi)

Semula alergi terhadap politik, sekarang menjadi prihatin terhadap keadaan masyarakat dan pemerintah sekarang. Membuka wawasan yang benar tentang tanggung jawab umat Kristen dalam politik (Naomi Sampe, STAKN Toraja)

Subscribed YouTube WargaNegara

 

IL News No. 028/2011
oleh Institut Leimena

Pendidikan Warga ke-21 Institut Leimena di Bandung, Jawa Barat (19 Agustus 2011)

“Kami telah kehilangan kepercayaan pemerintah. Sungguhkah orang Kristen bisa berdampak dalam keadaan seperti ini?”

“Apakah satu sendok garam dapat memberi dampak pada satu drum besar air?”

“Bagaimana menciptakan anak muda-anak muda yang mencintai bangsa ketika kami telah mengalami banyak ketidakadilan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut para peserta. Wajah mereka menunjukkan kegelisahan, kekecewaan, juga keraguan – apakah sungguh kami bisa melakukan sesuatu bagi bangsa ini?

Mereka adalah sekumpulan pemuda-pemudi Kristen yang tergabung dalam Yayasan Pembinaan dan Pelayanan Alumni Kristen (YPPAK). Para pemuda-pemudi inilah yang menjadi peserta Pendidikan Warga(PW) ke-21 yang dilaksanakan atas kerjasama Institut Leimena dengan YPPAK di aula Sekolah Kristen Yahya Bandung, pada tanggal 19 Agustus 2011 lalu. Mereka berasal dari berbagai daerah di Nusantara : Ambon, Kupang, Palu, Manado, Medan, Jayapura, Biak, Bogor, dan Bandung.

Melalui kegiatan PW ini, Institut Leimena mengajak setiap peserta merawat gagasan tentang NKRI. Peserta diajak menapaki ide-ide Johannes Leimena tentang kewarganegaraan yang bertanggungjawab,  menyelami cita-cita negara Indonesia, memahami amandemen UUD 1945 dan diakhiri dengan 2 sesi workshop.

Pemuda-pemudi ini dengan antusias mengikuti setiap sesi. Mereka tak ragu mengungkapkan pendapat, maupun melontarkan pertanyaan. Dalam kedua sesi workshop, yaitu “Eksposisi Pasal 32 UUD 1945 dan “Belajar Berpikir Secara Konstitusional : Pembahasan RUU Pengelolaan Zakat”, para peserta asik berdiskusi kemudian menyampaikan hasil analisis satu sama lain.

Hal lain yang menarik dalam PW ke-21 ini adalah hadirnya tim pengajar yang terdiri dari 7 orang. Sebelum bertugas di PW-21, tim pengajar ini telah menjalani training pada tanggal 12-14 Agustus 2011. Para pengajar mencoba menerapkan metode active learning, sebuah metode di mana peserta dilibatkan sebanyak mungkin, dalam setiap sesi yang dibawakan.  Metode ini pun bersambut dengan antusiasme peserta. Suasana hidup terbangun sepanjang pelaksanaan kegiatan Pendidikan Warga.

Di akhir kegiatan, para peserta menuliskan manfaat yang mereka peroleh dan rencana tindak lanjut ke depannya. Apakah kekecewaan telah berganti menjadi belas kasihan? Apakah kegelisahan telah berganti menjadi harapan? Apakah api untuk membangun bangsa mulai menyala? Simaklah beberapa kesan para peserta di bawah ini :

Tidak bersikap pesimis atau apatis tetapi mau terlibat untuk menjadi garam dan terang dalam bangsa ini. Kecintaan, kesetiaan dan ketaatan tidak dan tidak boleh kurang daripada orang lain sebagai wujud mengasihi dan taat pada Allah. (Halen Imang - Kupang, NTT, Tenaga Pengajar honorer, aktif di pelayanan perkantas Kupang)

Saya menyadari bahwa saya ditempatkan di tengah-tengah bangsa ini bukan suatu kebetulan dalam arti ada yang perlu dikerjakan (Frans Rumene - Papua, Bergiat di GMKI dan GKI)

Acara ini membuka pikiran saya bahwa negara ini bisa berubah dan untuk terjadinya hal itu tidak bisa hanya menuntut pemerintah saja. Perubahan itu boleh dimulai dari diri saya. (Julianti Stefana Sinaga - Medan)

Saya terinspirasi untuk mulai mengkaji peraturan perundangan di bidang pekerjaan saya (rekayasa lingkungan) dan mulai menginisiasi teman-teman sevisi dan seprofesi untuk melakukan diskusi warga dan diskusi untuk pengajuan pentingnya peraturan lainnya di bidang kami  (Irene B Batoarung – Bandung)

Dari beberapa kesan para peserta di atas, telah terlihat ada tekad-tekad yang dibulatkan, gairah menyala untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa! Segala puji dan syukur kita haturkan kepada-Nya untuk terlaksananya PW ke-21 di Bandung.  Semoga Dia membuat api kita terus menyala!

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena