IL News 006/2016

 

Seminar dan Dialog Nasional
Makassar, Sulawesi Selatan, 20 Februari 2016

 

Kemajemukan agama merupakan kenyataan dalam masyarakat Indonesia sejak ribuan tahun yang lalu. Namun aset budaya ini justru tengah dikikis oleh pengaruh radikalisasi agama dari luar. Budaya toleransi dan kerja sama antar umat beragama ini perlu digali dan dikukuhkan kembali sebagai salah satu bentuk kepribadian bangsa kita. Oleh dasar inilah maka Institut Leimena mengadakan Seminar dan Dialog “Membangun Kerjasama Lintas Agama Mengatasi Radikalisasi Agama”, bekerjasama dengan Sinode Gereja Toraja dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Selatan (termasuk di dalamnya Majelis Ulama Indonesia Sulsel, PGI Wilayah Sulselbara, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PDHI), Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) dan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin)).  Acara ini diadakan di Pusat Pelatihan di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, pada tanggal 20 Februari 2016 pkl 09.00-15.30 WITA.


Acara yang dimoderatori oleh Pdt. Paul Patanduk STh. dari Gereja Toraja ini menampilkan beberapa narasumber. Dr. Paul Marshall, Senior Fellow Institut Leimena dan Hudson Institute Washington DC, menyampaikan seputar “Tantangan Radikalisasi Agama di Dunia” sedangkan drs. Jakob Tobing, MPA, Presiden Institut Leimena, membahas tentang “Memahami dan Mengembangkan Kemampuan Lokal dan Nasional Untuk Mengatasi Radikalisasi Agama”. Pemaparan ini kemudian ditanggapi oleh tiga orang narasumber yaitu Prof. Dr. H. Abdul Rahim Yunus (Ketua FKUB Sulsel dan Wakil Ketua MUI Sulsel), Dr. Andreas A. Yewangoe (Senior Fellow Institut Leimena dan ketua Majellis Pertimbangan PGI 2014-2019), serta Prof. Hamdan Juhannis MA, PhD (Wakil Rektor IV bidang Kerjasama Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar).


Acara Seminar dan Dialog ini diikuti oleh sekitar 65 peserta dengan berbagai latar belakang, baik dari dunia pendidikan (STAKN Toraja, UIN Alauddin, Universitas Hasanuddin), lembaga pemerintahan (Kementerian Agama, Kantor Urusan Agama, Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kementerian Dalam Negeri), Lembaga Non Pemerintah (Perkantas, Makassar International Peace Generation, Forum Umat Beragama Peduli Keluarga Sejahtera dan Kependudukan (FABSEDU)) maupun perwakilan dari berbagai lembaga keagamaan dibawah FKUB Sulsel yaitu dari agama Buddha, Kristen, Islam, Hindu, Katholik dan Konghucu. Antusias peserta dalam mengikuti acara ini terlihat jelas dengan banyaknya peserta yang berkomentar dan bertanya setelah usai pemaparan dari para narasumber. Hal ini sangatlah menggembirakan dan patut disyukuri karena ini menunjukkan bahwa di dalam kemajemukan agama Indonesia ini, dapat dikembangkan hubungan antar agama yang harmonis, toleran dan bersahabat.

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena