Civis 002/2016

Radikalisasi baru

 

Dengan membawa-bawa dan atas nama agama Islam, sekelompok teroris menyerbu Universitas Garissa, Kenya pada 2 April 2015 yang lalu, membunuh lebih dari 150 mahasiswa beragama Kristen.

Militan Boko Haram di Nigeria, yang secara harafiah berarti “pendidikan ala Barat itu haram”, menjadikan umat Kristen sebagai sasaran, menculik dan membunuh mereka, meruntuhkan gereja-gereja, sebagai upaya untuk menegakkan ajaran dan “memurnikan” masyarakat.

Mereka berpendapat bahwa budaya didikan Barat, yang merupakan cerminan ajaran Kristen, adalah biang keladi semua kemerosotan moral dan akhlak yang terjadi.

Sebagai balasan, militan Kristen dengan membabi-buta menyerang warga Muslim, tanpa mempedulikan apakah mereka terlibat atau tidak.

Pada skala yang lebih luas, ISIS dideklarasikan dan langsung menguasai bagian besar wilayah Timur Tengah yang notabene adalah mayoritas Islam, Sunni dan/atau Shiah. Dengan semboyan menegakkan ajaran agama yang murni, ISIS melakukan kekerasan dan menghancurkan situs-situs lama yang mereka anggap sebagai sisa-sisa kepercayaan lama yang masih mempengaruhi umat, menghabisi sesama umat dari aliran yang berbeda.

Umat Kristen Syria, yang keberadaannya jauh sebelum Islam, kaum Yazidi yang merupakan penerus agama Zoroaster, dan lainnya menjadi sasaran utama kekerasan mereka.

Serta merta, di Indonesia muncul dukungan kepada gerakan ISIS, baik dalam bentuk pawai di Bundaran HI, Jakarta, baiat di banyak tempat, grafiti di tempat-tempat umum. Bahkan cukup banyak relawan berangkat ke Syria dan sekitarnya sebagai jihadis ISIS. Mereka ini, setelah kembali ke tanah air (berpotensi) menjadi penghancur dan penggerak gerakan serupa.

Sebenarnya, apabila direnungkan bahwa, bila benar segala tindakan itu murni untuk menegakkan ajaran agama, tentu tindakan itu bertentangan dengan hakekat setiap agama. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan dan kekejaman. Kristen/Katolik mendasarkan ajarannya pada kasih kepada sesama manusia. Islam mengajarkan bahwa Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan jin, apalagi sesama manusia. Demikian pula agama Buddha, Hindu, dan sebagainya.

Para peneliti menyimpulkan bahwa disamping kurangnya pemahaman atas ajaran agama, hal itu terjadi karena pengaruh faktor di luar agama, terutama ego, haus kekuasaan, dendam sejarah, kompleks inferior, dan sejenisnya.

Ini adalah sebuah radikalisasi baru, munculnya tindakan radikal yang lebih masif, lebih terorganisir dan melampaui batas-batas nasional, dan juga bisa mengancam kita. (Bersambung)

(Disampaikan pada sesi “Membangun Kerjasama Lintas Agama dalam Mengatasi Radikalisme”, di Forum Strategis Gereja dan Politik, Jakarta, 2-4 Juni 2015)

Penulis

Drs. Jakob Tobing, MPA. President Institut Leimena; Program Doctorate – Van Vollenhoven Institute, Rechtshogeschool, Universiteit Leiden; Duta Besar RI untuk Korea Selatan (2004 – 2008); Ketua PAH I BP-MPR, Amandemen UUD 1945 (1999-2002); Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU, 1999-2002); Ketua Panitia Pemilihan Umum Indonesia (PPI, 1999); Wakil Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu, 1992); Anggota Panwaslu (1987); Anggota DPR/MPR (1968 – 1997, 1999 – 2004).

Subscribed YouTube WargaNegara

 

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena