“Gereja GPM Jemaat Neniari, di desa Neniari, Seram Bagian Barat, Maluku.”

IL News 008/2013

 

Pendidikan Warga ke-46 dan 47
Seram Bagian Barat (Maluku), 13-16 Mei 2013

Sebuah bangunan kayu sederhana berwarna putih berdiri di pinggir jalan desa kecil Neniari di pulau Seram, Maluku. Di depannya terpancang papan nama bertuliskan “Betel”. Inilah tempat ibadah Gereja Protestan Maluku (GPM) jemaat Neniari yang pertama didirikan. Di belakangnya sedang dibangun gedung gereja baru yang kelak akan menggantikannya.

Dahulu bangunan kayu sederhana ini ternyata menempati lokasi gedung yang sedang dibangun itu. Karena jemaat ingin gereja baru tetap di lokasi yang lama, maka mereka bersama-sama menggotong dan memindahkan bangunan kayu itu ke pinggir jalan. Lalu mereka membangun sendiri gedung yang baru, sambil tetap beribadah di bangunan kayu itu. Semuanya dilakukan dengan sukarela dan sukacita.

“Pendidikan Warga di desa Neniari untuk Klasis Seram Barat GPM.”

Saling tolong menolong ini merupakan budaya rakyat Maluku, yang disebut ‘masohi’. Kerjasama ini tidak dibatasi agama. Masyarakat lokal telah lama terbiasa saling tolong menolong untuk mengatasi masalah bersama. Inilah budaya gotong-royong, yang dikatakan Soekarno sebagai “satu perkataan Indonesia yang tulen”.

Sejak amandemen (perubahan) UUD 45 di tahun 1999-2002, kerjasama warga untuk mengatasi masalah bersama menjadi semakin penting, karena kedaulatan telah dikembalikan ke tangan rakyat. Berkaca pada budaya lokal seperti ‘masohi’, rakyat kita masih memiliki modal sosial untuk bekerjasama membangun Indonesia. “Negara Gotong-royong!”, kata Soekarno.

Kesadaran dan kemampuan warga untuk mengatasi masalah bersama inilah yang dibangun melalui Pendidikan Warga di Neniari dan Tihulale, tanggal 13-16 Mei 2013. Pendidikan di dua desa di kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, ini dilaksanakan atas kerjasama Institut Leimena dan Sinode GPM.

“Peserta Pendidikan Warga di desa Tihulale untuk Klasis Kairatu GPM.”

Pendidikan ini diikuti puluhan pendeta, majelis, dan aktivis gereja di masing-masing desa dan sekitarnya. Kegiatan di Neniari didampingi oleh Pdt. Nick Rutumalessy dan Pdt. George Likumahwa sebagai Ketua dan Sekretaris Klasis Seram Barat, sedangkan di Tihulale oleh Pdt. Jan Matatula dan Pdt. Adriana Lohy sebagai Ketua dan Sekretaris Klasis Kairatu. Anggota MPH Sinode GPM Pnt. Yos Sigerz juga turut mendampingi seluruh kegiatan.

Bangunan kayu sederhana itu menjadi tempat pelaksanaan Pendidikan Warga di desa Neniari. Kisah dibalik gereja ini mengingatkan bahwa manusia Indonesia tidak harus serakah dan egois seperti banyak ditampilkan di media massa. Saatnya rakyat membangun kesadaran, keyakinan, dan kemampuan untuk bekerjasama membangun Indonesia. Sebuah pelajaran berharga dari pulau Seram, yang akrab dengan panggilan hangat ‘Nusa Ina’, pulau ibu.

Beberapa komentar peserta Pendidikan Warga di Neniari dan Tihulale:

“Membuka wawasan sebagai warga gereja yang bertanggungjawab terhadap peran di tengah-tengah dunia perpolitikan.” (Pdt. Adriana Lohy, Sekretaris Klasis Kairatu GPM)

“Sangat bermanfaat. Mendapat inspirasi untuk membuat suatu perubahan yang lebih baik melalui Diskusi Warga.” (Amelia D. Lopulalan, GPM Jemaat Lumoly)

“Yang hendak dilakukan: membentuk kelompok-kelompok diskusi di jemaat dalam upaya membangun kesadaran berbangsa dan sebagai warga negara yang bertanggungjawab.” (Pdt. Will Mirpley, GPM Jemaat Eti)

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena