IL News 024/2014

 

Institut Leimena bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kristen Petra Surabaya, yang diketuai oleh Carolina Halim, melakukan pelatihan dalam Pengembangan Pola Berpikir Konstitusional bagi 12 orang pengurus BEM UK Petra Surabaya dengan mengambil studi kasus Rancangan Undang-Undang (RUU) Pengelolaan Zakat. Acara ini dilaksanakan pada hari Jumat, 7 November 2014 pkl 16.30-20.30. Melalui pelatihan ini, para pengurus BEM diajak untuk belajar berpikir analitis dan kritis dalam melihat beberapa pasal di dalam RUU Pengelolaan Zakat untuk melihat sejauh mana RUU tersebut selaras dengan UUD 1945. RUU Pengelolaan Zakat ini telah disahkan menjadi UU no. 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Acara pelatihan ini difasilitasi oleh Budi Setiamarga dan Matius Ho.

Kuliah umum yang mengambil topik “Warga Negara dalam Arus Perubahan Indonesia” telah dilakukan pada hari Sabtu, 8 November 2014 pkl 09.00 – 11.30 di Universitas Ciputra Surabaya dalam kaitan dengan mata kuliah PPKN. Dalam kuliah umum yang dihadiri oleh sekitar 250 mahasiswa ini, disampaikan tentang perkembangan gagasan Indonesia dan bagaimana gagasan-gagasan modern, misalnya masalah kesetaraan dan kemerdekaan itu, akhirnya dapat  terwujud di alinea-alinea Pembukaan UUD 1945. Dalam kuliah umum ini disampaikan juga tentang amandemen UUD 1945 serta bagaimana amandemen UUD 1945 memberi dampak yang besar terhadap kehidupan bangsa Indonesia. Masalah pentingnya keterlibatan warga negara dalam ikut serta membangun perekonomian dan kinerja pemerintah daerah disampaikan dengan mengambil studi kasus perbandingan antara Italia Utara dan Italia Selatan. Studi kasus yang merupakan hasil penelitian dari Prof. Robert Putnam dari Harvard University USA ini merupakan studi kasus yang menarik yang menunjukkan bagaimana pentingnya keterlibatan warga dalam ikut serta membangun masyarakat. Contoh-contoh sederhana  bagaimana keterlibatan warga bisa dilakukan ditunjukkan melalui beberapa video-clip.  Kuliah umum ini disampaikan oleh Matius Ho dan Budi Setiamarga.

Subscribed YouTube WargaNegara

 

IL News No. 028/2011
oleh Institut Leimena

Pendidikan Warga ke-21 Institut Leimena di Bandung, Jawa Barat (19 Agustus 2011)

“Kami telah kehilangan kepercayaan pemerintah. Sungguhkah orang Kristen bisa berdampak dalam keadaan seperti ini?”

“Apakah satu sendok garam dapat memberi dampak pada satu drum besar air?”

“Bagaimana menciptakan anak muda-anak muda yang mencintai bangsa ketika kami telah mengalami banyak ketidakadilan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut para peserta. Wajah mereka menunjukkan kegelisahan, kekecewaan, juga keraguan – apakah sungguh kami bisa melakukan sesuatu bagi bangsa ini?

Mereka adalah sekumpulan pemuda-pemudi Kristen yang tergabung dalam Yayasan Pembinaan dan Pelayanan Alumni Kristen (YPPAK). Para pemuda-pemudi inilah yang menjadi peserta Pendidikan Warga(PW) ke-21 yang dilaksanakan atas kerjasama Institut Leimena dengan YPPAK di aula Sekolah Kristen Yahya Bandung, pada tanggal 19 Agustus 2011 lalu. Mereka berasal dari berbagai daerah di Nusantara : Ambon, Kupang, Palu, Manado, Medan, Jayapura, Biak, Bogor, dan Bandung.

Melalui kegiatan PW ini, Institut Leimena mengajak setiap peserta merawat gagasan tentang NKRI. Peserta diajak menapaki ide-ide Johannes Leimena tentang kewarganegaraan yang bertanggungjawab,  menyelami cita-cita negara Indonesia, memahami amandemen UUD 1945 dan diakhiri dengan 2 sesi workshop.

Pemuda-pemudi ini dengan antusias mengikuti setiap sesi. Mereka tak ragu mengungkapkan pendapat, maupun melontarkan pertanyaan. Dalam kedua sesi workshop, yaitu “Eksposisi Pasal 32 UUD 1945 dan “Belajar Berpikir Secara Konstitusional : Pembahasan RUU Pengelolaan Zakat”, para peserta asik berdiskusi kemudian menyampaikan hasil analisis satu sama lain.

Hal lain yang menarik dalam PW ke-21 ini adalah hadirnya tim pengajar yang terdiri dari 7 orang. Sebelum bertugas di PW-21, tim pengajar ini telah menjalani training pada tanggal 12-14 Agustus 2011. Para pengajar mencoba menerapkan metode active learning, sebuah metode di mana peserta dilibatkan sebanyak mungkin, dalam setiap sesi yang dibawakan.  Metode ini pun bersambut dengan antusiasme peserta. Suasana hidup terbangun sepanjang pelaksanaan kegiatan Pendidikan Warga.

Di akhir kegiatan, para peserta menuliskan manfaat yang mereka peroleh dan rencana tindak lanjut ke depannya. Apakah kekecewaan telah berganti menjadi belas kasihan? Apakah kegelisahan telah berganti menjadi harapan? Apakah api untuk membangun bangsa mulai menyala? Simaklah beberapa kesan para peserta di bawah ini :

Tidak bersikap pesimis atau apatis tetapi mau terlibat untuk menjadi garam dan terang dalam bangsa ini. Kecintaan, kesetiaan dan ketaatan tidak dan tidak boleh kurang daripada orang lain sebagai wujud mengasihi dan taat pada Allah. (Halen Imang - Kupang, NTT, Tenaga Pengajar honorer, aktif di pelayanan perkantas Kupang)

Saya menyadari bahwa saya ditempatkan di tengah-tengah bangsa ini bukan suatu kebetulan dalam arti ada yang perlu dikerjakan (Frans Rumene - Papua, Bergiat di GMKI dan GKI)

Acara ini membuka pikiran saya bahwa negara ini bisa berubah dan untuk terjadinya hal itu tidak bisa hanya menuntut pemerintah saja. Perubahan itu boleh dimulai dari diri saya. (Julianti Stefana Sinaga - Medan)

Saya terinspirasi untuk mulai mengkaji peraturan perundangan di bidang pekerjaan saya (rekayasa lingkungan) dan mulai menginisiasi teman-teman sevisi dan seprofesi untuk melakukan diskusi warga dan diskusi untuk pengajuan pentingnya peraturan lainnya di bidang kami  (Irene B Batoarung – Bandung)

Dari beberapa kesan para peserta di atas, telah terlihat ada tekad-tekad yang dibulatkan, gairah menyala untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa! Segala puji dan syukur kita haturkan kepada-Nya untuk terlaksananya PW ke-21 di Bandung.  Semoga Dia membuat api kita terus menyala!

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena