IL News 025/2014

 

Pada tanggal 9 Oktober 2014, Dr. Paul Marshall, Senior Fellow Institut Leimena dan Hudson Institute (AS), memberikan kuliah umum di Institut Agama Islam Indonesia (IAIN) Ambon, dengan topik “Kebebasan Beragama dan Penistaan Agama”. Ceramah ini didasarkan pada penelitian Paul Marshall di berbagai negara di dunia yang menunjukkan bagaimana hukum penistaan agama seringkali digunakan untuk membungkam lawan politik dan kelompok minoritas, serta menimbulkan potensi konflik sosial antar masyarakat. Hasil penelitian ini akan diterbitkan dalam bahasa Indonesia.  Kuliah umum yang dibuka oleh Rektor IAIN Ambon, Dr. Hasbollah Toisuta ini dihadiri oleh para mahasiswa dan dosen IAIN Ambon, antara lain Direktur Program Pascasarjana, Dr. Basman, dan Direktur Ambon Reconciliation and Mediation Center, Dr. Abidin Wakano.

Pembahasan topik “Kebebasan Beragama dan Penistaan Agama” (atau “Religious Freedom and Religious Blasphemy”) juga dilakukan di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel di Surabaya, tanggal 13 Oktober 2014. Acara kuliah umum yang merupakan kerjasama UIN Sunan Ampel dan Institut Leimena ini menghadirkan narasumber Dr. Paul Marshall dan Matius Ho dari Institut Leimena, didampingi Wakil Rektor UIN Sunan Ampel, Dr. Syamsul Huda dan moderator Bapak Nasruddin dari Fakultas Ushuluddin. Seusai kuliah umum ini, Dr. Marshall dan Matius mengunjungi makam Raden Ahmad Rohmatulloh, yang dikenal sebagai “Sunan Ampel”, salah satu dari Wali Songo, untuk lebih mengenal sejarah perkembangan Islam di Indonesia yang melahirkan ciri kehidupan beragama yang terbuka terhadap keberagaman.

Rangkaian kuliah umum mengenai “Kebebasan Beragama dan Penistaan Agama” oleh Dr. Paul Marshall di tahun 2014 diakhiri dengan pembahasan hasil penelitiannya ini di Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah di Jakarta, pada tanggal 29 Oktober 2014. Selain sebagai Senior Fellow di Institut Leimena, Dr. Paul Marshall adalah juga Visiting Professor di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah. Diskusi dengan para dosen dan mahasiswa pascasarjana yang hadir di kuliah umum ini semakin memperkaya pemahaman akan akar permasalahan dan dampak dari hukum penistaan agama terhadap kebebasan beragama ini, sebuah topik yang belum banyak dibahas secara akademis di Indonesia.

Subscribed YouTube WargaNegara

 

IL News No. 028/2011
oleh Institut Leimena

Pendidikan Warga ke-21 Institut Leimena di Bandung, Jawa Barat (19 Agustus 2011)

“Kami telah kehilangan kepercayaan pemerintah. Sungguhkah orang Kristen bisa berdampak dalam keadaan seperti ini?”

“Apakah satu sendok garam dapat memberi dampak pada satu drum besar air?”

“Bagaimana menciptakan anak muda-anak muda yang mencintai bangsa ketika kami telah mengalami banyak ketidakadilan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut para peserta. Wajah mereka menunjukkan kegelisahan, kekecewaan, juga keraguan – apakah sungguh kami bisa melakukan sesuatu bagi bangsa ini?

Mereka adalah sekumpulan pemuda-pemudi Kristen yang tergabung dalam Yayasan Pembinaan dan Pelayanan Alumni Kristen (YPPAK). Para pemuda-pemudi inilah yang menjadi peserta Pendidikan Warga(PW) ke-21 yang dilaksanakan atas kerjasama Institut Leimena dengan YPPAK di aula Sekolah Kristen Yahya Bandung, pada tanggal 19 Agustus 2011 lalu. Mereka berasal dari berbagai daerah di Nusantara : Ambon, Kupang, Palu, Manado, Medan, Jayapura, Biak, Bogor, dan Bandung.

Melalui kegiatan PW ini, Institut Leimena mengajak setiap peserta merawat gagasan tentang NKRI. Peserta diajak menapaki ide-ide Johannes Leimena tentang kewarganegaraan yang bertanggungjawab,  menyelami cita-cita negara Indonesia, memahami amandemen UUD 1945 dan diakhiri dengan 2 sesi workshop.

Pemuda-pemudi ini dengan antusias mengikuti setiap sesi. Mereka tak ragu mengungkapkan pendapat, maupun melontarkan pertanyaan. Dalam kedua sesi workshop, yaitu “Eksposisi Pasal 32 UUD 1945 dan “Belajar Berpikir Secara Konstitusional : Pembahasan RUU Pengelolaan Zakat”, para peserta asik berdiskusi kemudian menyampaikan hasil analisis satu sama lain.

Hal lain yang menarik dalam PW ke-21 ini adalah hadirnya tim pengajar yang terdiri dari 7 orang. Sebelum bertugas di PW-21, tim pengajar ini telah menjalani training pada tanggal 12-14 Agustus 2011. Para pengajar mencoba menerapkan metode active learning, sebuah metode di mana peserta dilibatkan sebanyak mungkin, dalam setiap sesi yang dibawakan.  Metode ini pun bersambut dengan antusiasme peserta. Suasana hidup terbangun sepanjang pelaksanaan kegiatan Pendidikan Warga.

Di akhir kegiatan, para peserta menuliskan manfaat yang mereka peroleh dan rencana tindak lanjut ke depannya. Apakah kekecewaan telah berganti menjadi belas kasihan? Apakah kegelisahan telah berganti menjadi harapan? Apakah api untuk membangun bangsa mulai menyala? Simaklah beberapa kesan para peserta di bawah ini :

Tidak bersikap pesimis atau apatis tetapi mau terlibat untuk menjadi garam dan terang dalam bangsa ini. Kecintaan, kesetiaan dan ketaatan tidak dan tidak boleh kurang daripada orang lain sebagai wujud mengasihi dan taat pada Allah. (Halen Imang - Kupang, NTT, Tenaga Pengajar honorer, aktif di pelayanan perkantas Kupang)

Saya menyadari bahwa saya ditempatkan di tengah-tengah bangsa ini bukan suatu kebetulan dalam arti ada yang perlu dikerjakan (Frans Rumene - Papua, Bergiat di GMKI dan GKI)

Acara ini membuka pikiran saya bahwa negara ini bisa berubah dan untuk terjadinya hal itu tidak bisa hanya menuntut pemerintah saja. Perubahan itu boleh dimulai dari diri saya. (Julianti Stefana Sinaga - Medan)

Saya terinspirasi untuk mulai mengkaji peraturan perundangan di bidang pekerjaan saya (rekayasa lingkungan) dan mulai menginisiasi teman-teman sevisi dan seprofesi untuk melakukan diskusi warga dan diskusi untuk pengajuan pentingnya peraturan lainnya di bidang kami  (Irene B Batoarung – Bandung)

Dari beberapa kesan para peserta di atas, telah terlihat ada tekad-tekad yang dibulatkan, gairah menyala untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa! Segala puji dan syukur kita haturkan kepada-Nya untuk terlaksananya PW ke-21 di Bandung.  Semoga Dia membuat api kita terus menyala!

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena