IL News 021/2015

 

Johannes Leimena School of Public Leadership (JL SoPL) 
Jakarta, 9-15 Agustus 2015

 

Jakob Tobing kecil tinggal di sebuah daerah di Sumatera Barat. Mayoritas teman-temannya beragama Muslim. Namun, perbedaan itu tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk tetap berkawan baik. Mereka saling menghargai! Kenangan masa kecil ini membekas dan mewujud nyata dalam pergaulannya dengan tokoh dari berbagai kalangan; dengan beragam suku dan agama. Pelajaran masa kecil tentang keterbukaan dan penerimaan turut mempengaruhi sikapnya untuk bersikap tenang, menghargai, dan merangkul semua orang. Keberhasilan Amandemen UUD ‘45 adalah salah satu buktinya! Ia berhasil memimpin sidang amandemen UUD ‘45 yang saat itu genting dan menentukan nasib bangsa. Ia berhasil memimpin semua anggota sidang yang bukan hanya berbeda agama dan suku, tapi juga berbeda dalam hal pemikiran. Amandemen UUD ‘45, diyakini sebagai dasar lahirnya Indonesia baru! Jadi, mengapa ragu berkawan karib dengan mereka yang berbeda?


Beberapa waktu lalu, khususnya pada masa Pemilihan Presiden 2014, sosoknya sering muncul di televisi. Diwawancarai oleh sejumlah awak televisi, dimintai pendapat tentang isu-isu hukum, pemilu, dan kenegaraan. Dia-lah Maruarar Siahaan, mantan Hakim Mahkamah Konstitusi (MK), yang kini menjadi rektor Universitas Kristen Indonesia. Sebelum menjadi Hakim MK, ia pernah menjadi Hakim di Pengadilan Tinggi di Kendari, Lampung dan Medan. Masing-masing wilayah tersebut mempunyai tantangan tersendiri. Kendari yang sepi dan jauh dari sanak saudara, Lampung dengan penyakit malaria-nya, dan Medan dengan sejumlah familinya yang mengharap bantuan hukum. Namun, semua perintah dan tugas ia jalani dengan taat, seraya percaya pada pemeliharaan Tuhan. Bekerja dengan tulus dan jujur. Sering ia tidak mengerti tugasnya; namun ia memilih belajar dan melakukan yang terbaik, ketimbang menyerah. Kini, siapa tak kenal Maruarar Siahaan?

Pengalaman masa kecil menjadi satu-satunya murid berkulit coklat di antara murid berkulit putih, menumbuhkan tekad bagi Emil Salim untuk terus belajar. Bukan sekadar belajar, tapi belajar dengan penuh kesukaan! Ia membuktikannya dengan kerja keras, belajar setiap jam 9 pagi hingga jam 9 malam ketika menempuh studi PhD di Amerika. Pada peserta JL SoPL ia berpesan, “Kuasai ilmu setinggi mungkin, kembangkan keahlian sampai puncak! Dengan demikian, kau akan berguna dan dicari orang”. Emil Salim sendiri sudah membuktikannya! Negara memberi kepercayaan padanya untuk menjabat sejumlah posisi penting kenegaraan, termasuk menjadi menteri negara selama 22 tahun. Jadi, mengapa tak mengembangkan keahlian sampai puncak?


Tatkala banyak orang mendaftarkan diri untuk menjadi anggota DPR, Mercy Barends justru dilamar dan ditetapkan oleh partai untuk menjadi anggota DPR RI. Keputusan ini, tentu saja membuyarkan rencana Mercy yang sudah memutuskan untuk menerima tawaran studi lanjut ke luar negeri, ketimbang menjadi anggota dewan; sekalipun itu DPR Pusat. Ketaatannya pada panggilan Tuhan dan kecintaannya pada Indonesia-lah yang membuatnya mengubah keputusannya tersebut. Dengan persiapan yang sangat singkat, ia mengikuti proses Pemilihan Legislatif. Bahwa Allah yang memanggil – Allah yang memimpin; nyata dalam hidup Mercy. Dana kampanye yang dibutuhkannya tercukupi, tanpa mengutang sepeserpun. Bahkan, ia meraih suara terbanyak, mengungguli lawannya dari partai yang sama yang turut mendirikan partai tersebut di Ambon. Kini, ia menjadi anggota DPR RI, di Komisi VII – Energi Sumber Daya Mineral, Riset dan Teknologi, Lingkungan Hidup.

Subscribed YouTube WargaNegara

 

IL News No. 028/2011
oleh Institut Leimena

Pendidikan Warga ke-21 Institut Leimena di Bandung, Jawa Barat (19 Agustus 2011)

“Kami telah kehilangan kepercayaan pemerintah. Sungguhkah orang Kristen bisa berdampak dalam keadaan seperti ini?”

“Apakah satu sendok garam dapat memberi dampak pada satu drum besar air?”

“Bagaimana menciptakan anak muda-anak muda yang mencintai bangsa ketika kami telah mengalami banyak ketidakadilan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut para peserta. Wajah mereka menunjukkan kegelisahan, kekecewaan, juga keraguan – apakah sungguh kami bisa melakukan sesuatu bagi bangsa ini?

Mereka adalah sekumpulan pemuda-pemudi Kristen yang tergabung dalam Yayasan Pembinaan dan Pelayanan Alumni Kristen (YPPAK). Para pemuda-pemudi inilah yang menjadi peserta Pendidikan Warga(PW) ke-21 yang dilaksanakan atas kerjasama Institut Leimena dengan YPPAK di aula Sekolah Kristen Yahya Bandung, pada tanggal 19 Agustus 2011 lalu. Mereka berasal dari berbagai daerah di Nusantara : Ambon, Kupang, Palu, Manado, Medan, Jayapura, Biak, Bogor, dan Bandung.

Melalui kegiatan PW ini, Institut Leimena mengajak setiap peserta merawat gagasan tentang NKRI. Peserta diajak menapaki ide-ide Johannes Leimena tentang kewarganegaraan yang bertanggungjawab,  menyelami cita-cita negara Indonesia, memahami amandemen UUD 1945 dan diakhiri dengan 2 sesi workshop.

Pemuda-pemudi ini dengan antusias mengikuti setiap sesi. Mereka tak ragu mengungkapkan pendapat, maupun melontarkan pertanyaan. Dalam kedua sesi workshop, yaitu “Eksposisi Pasal 32 UUD 1945 dan “Belajar Berpikir Secara Konstitusional : Pembahasan RUU Pengelolaan Zakat”, para peserta asik berdiskusi kemudian menyampaikan hasil analisis satu sama lain.

Hal lain yang menarik dalam PW ke-21 ini adalah hadirnya tim pengajar yang terdiri dari 7 orang. Sebelum bertugas di PW-21, tim pengajar ini telah menjalani training pada tanggal 12-14 Agustus 2011. Para pengajar mencoba menerapkan metode active learning, sebuah metode di mana peserta dilibatkan sebanyak mungkin, dalam setiap sesi yang dibawakan.  Metode ini pun bersambut dengan antusiasme peserta. Suasana hidup terbangun sepanjang pelaksanaan kegiatan Pendidikan Warga.

Di akhir kegiatan, para peserta menuliskan manfaat yang mereka peroleh dan rencana tindak lanjut ke depannya. Apakah kekecewaan telah berganti menjadi belas kasihan? Apakah kegelisahan telah berganti menjadi harapan? Apakah api untuk membangun bangsa mulai menyala? Simaklah beberapa kesan para peserta di bawah ini :

Tidak bersikap pesimis atau apatis tetapi mau terlibat untuk menjadi garam dan terang dalam bangsa ini. Kecintaan, kesetiaan dan ketaatan tidak dan tidak boleh kurang daripada orang lain sebagai wujud mengasihi dan taat pada Allah. (Halen Imang - Kupang, NTT, Tenaga Pengajar honorer, aktif di pelayanan perkantas Kupang)

Saya menyadari bahwa saya ditempatkan di tengah-tengah bangsa ini bukan suatu kebetulan dalam arti ada yang perlu dikerjakan (Frans Rumene - Papua, Bergiat di GMKI dan GKI)

Acara ini membuka pikiran saya bahwa negara ini bisa berubah dan untuk terjadinya hal itu tidak bisa hanya menuntut pemerintah saja. Perubahan itu boleh dimulai dari diri saya. (Julianti Stefana Sinaga - Medan)

Saya terinspirasi untuk mulai mengkaji peraturan perundangan di bidang pekerjaan saya (rekayasa lingkungan) dan mulai menginisiasi teman-teman sevisi dan seprofesi untuk melakukan diskusi warga dan diskusi untuk pengajuan pentingnya peraturan lainnya di bidang kami  (Irene B Batoarung – Bandung)

Dari beberapa kesan para peserta di atas, telah terlihat ada tekad-tekad yang dibulatkan, gairah menyala untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa! Segala puji dan syukur kita haturkan kepada-Nya untuk terlaksananya PW ke-21 di Bandung.  Semoga Dia membuat api kita terus menyala!

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena