IL News 012/2013

 

Pendidikan Warga ke-50 dan 51
Buol Tolitoli (Sulawesi Tengah), 15-19 Juli 2013

 

Kehadiran warga Kristen di daerah Buol Tolitoli (Sulawesi Tengah) telah memiliki sejarah yang panjang. Berawal dari ditempatkannya para karyawan asal Minahasa oleh pemerintah kolonial Belanda pada perusahaan tambang emas, Mijn Bouw Maatschappij di Lintidu-Paleleh pada Juni 1897. Kekristenan terus bertumbuh di wilayah Buol Tolitoli.

Sesudah ditutupnya perusahaan ini pada tahun 1929  para pekerja dan keluarganya memilih menetap di Paleleh. Dengan jumlah 80 rumah tangga (+ 450 jiwa), pada awal tahun 1900 an mereka telah aktif melaksanakan ibadah-ibadah Minggu dari rumah ke rumah  atas inisiatif dari para Guru Kristen. Kegiatan ibadah dari rumah ke rumah tersebut kemudian dipimpin secara bergantian oleh J.H. Tumiwa, C.N. Pantouw dan Z.Kawatu. Di Buol, pada tahun 1919 sudah terdapat 19 rumah tangga kristen yang secara aktif melaksanakan kegiatan-kegiatan ibadah jemaat yang dipimpin oleh Lukas Watulo dan H.Th.J. Tan.

Saat ini, mereka berhimpun dalam  Gereja Protestan Indonesia di Buol Tolitoli (GPIBT) yang telah memiliki 35 gereja yang tersebar di Kabupaten Tolitoli dan  18 gereja di Kabupaten Buol.

Institut Leimena bekerjasama dengan sinode GPIBT mengadakan Pendidikan Warga ke 50 dan 51. Ini adalah kunjungan ketiga Institut Leimena ke wilayah Tolitoli. Tim dari Institut Leimena yang berkunjung adalah Matius Ho dan Daniel Adipranata.

Pendidikan Warga ke 50 diadakan di Musyawarah Pelayanan (Mupel) 2 wilayah Buol dengan GPIBT Imanuel Buol menjadi gereja tuan rumah. Acara Pendidikan Warga ke 50, tanggal 15-16 Juli 2013, dibuka oleh ketua sinode GPIBT Pdt Cornelius Montol. Dalam kotbahnya, Pdt Cornelius Montol menekankan bahwa jemaat GPIBT harus terlibat dalam pembaharuan Allah dalam dunia ciptaanNya. Pembaharuan itu harus terlihat dalam keterlibatan gereja di tengah masyarakat. Acara dua hari ini dipandu oleh Bapak Dwi Yogyo Suswiharto (anggota Badan Pekerja Sinode (BPS) GPIBT).

Dari Buol, tim Fasilitator kembali ke Tolitoli, dengan menempuh perjalanan darat selama 5 jam. Di Tolitoli, tim dari Institut Leimena mengadakan pertemuan dengan Badan Pekerja Sinode GPIBT dan juga para alumni Pendidikan Warga untuk berdiskusi tentang pelaksanaan Diskusi Warga dalam lingkungan sinode GPIBT.

GPIBT Bethesda Tolitoli menjadi tuan rumah pelaksanaan Pendidikan Warga ke 51, pada tanggal 18-19 Juli 2013. Dalam kotbah pembuka, Pdt. Pietson Kumiang, S.Th., anggota BPS GPIBT menegaskan pentingnya dwi kewarganegaraan umat Tuhan di Indonesia. Ada banyak ide dan langkah aksi yang ingin dilakukan oleh peserta dalam konteks masyarakat Tolitoli. Warga gereja harus terlibat dalam pembaharuan Allah di tengah dunia ciptaanNya. Berikut ini adalah beberapa komentar peserta Pendidikan Warga:

Lebih memahami bahwa begitu banyak hal kecil yang boleh kita lakukan untuk dapat membangun bangsa ini dari lingkungan sekitar kita sendiri. Tanpa harus menjadi seorang yang terkenal. (Youla Ratela – GPIBT Imanuel Buol)

Segera melakukan diskusi warga di lingkungan Pelka kaum perempuan dan ingin segera membuat perpustakaan mini di lingkungan gereja (Fera Anton – ketua Pelka Wanita, GPIBT Bethesda)

Melaksanakan diskusi warga tentang masalah sekaligus solusi banjir di lingkungan kami dan masalah masyarakat yang Golput, untuk menggunakan hak suara dengan baik. (Meyta Seska Songkilawang – Ketua Pelka ASM Sinode GPIBT)

Subscribed YouTube WargaNegara

 

IL News No. 028/2011
oleh Institut Leimena

Pendidikan Warga ke-21 Institut Leimena di Bandung, Jawa Barat (19 Agustus 2011)

“Kami telah kehilangan kepercayaan pemerintah. Sungguhkah orang Kristen bisa berdampak dalam keadaan seperti ini?”

“Apakah satu sendok garam dapat memberi dampak pada satu drum besar air?”

“Bagaimana menciptakan anak muda-anak muda yang mencintai bangsa ketika kami telah mengalami banyak ketidakadilan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut para peserta. Wajah mereka menunjukkan kegelisahan, kekecewaan, juga keraguan – apakah sungguh kami bisa melakukan sesuatu bagi bangsa ini?

Mereka adalah sekumpulan pemuda-pemudi Kristen yang tergabung dalam Yayasan Pembinaan dan Pelayanan Alumni Kristen (YPPAK). Para pemuda-pemudi inilah yang menjadi peserta Pendidikan Warga(PW) ke-21 yang dilaksanakan atas kerjasama Institut Leimena dengan YPPAK di aula Sekolah Kristen Yahya Bandung, pada tanggal 19 Agustus 2011 lalu. Mereka berasal dari berbagai daerah di Nusantara : Ambon, Kupang, Palu, Manado, Medan, Jayapura, Biak, Bogor, dan Bandung.

Melalui kegiatan PW ini, Institut Leimena mengajak setiap peserta merawat gagasan tentang NKRI. Peserta diajak menapaki ide-ide Johannes Leimena tentang kewarganegaraan yang bertanggungjawab,  menyelami cita-cita negara Indonesia, memahami amandemen UUD 1945 dan diakhiri dengan 2 sesi workshop.

Pemuda-pemudi ini dengan antusias mengikuti setiap sesi. Mereka tak ragu mengungkapkan pendapat, maupun melontarkan pertanyaan. Dalam kedua sesi workshop, yaitu “Eksposisi Pasal 32 UUD 1945 dan “Belajar Berpikir Secara Konstitusional : Pembahasan RUU Pengelolaan Zakat”, para peserta asik berdiskusi kemudian menyampaikan hasil analisis satu sama lain.

Hal lain yang menarik dalam PW ke-21 ini adalah hadirnya tim pengajar yang terdiri dari 7 orang. Sebelum bertugas di PW-21, tim pengajar ini telah menjalani training pada tanggal 12-14 Agustus 2011. Para pengajar mencoba menerapkan metode active learning, sebuah metode di mana peserta dilibatkan sebanyak mungkin, dalam setiap sesi yang dibawakan.  Metode ini pun bersambut dengan antusiasme peserta. Suasana hidup terbangun sepanjang pelaksanaan kegiatan Pendidikan Warga.

Di akhir kegiatan, para peserta menuliskan manfaat yang mereka peroleh dan rencana tindak lanjut ke depannya. Apakah kekecewaan telah berganti menjadi belas kasihan? Apakah kegelisahan telah berganti menjadi harapan? Apakah api untuk membangun bangsa mulai menyala? Simaklah beberapa kesan para peserta di bawah ini :

Tidak bersikap pesimis atau apatis tetapi mau terlibat untuk menjadi garam dan terang dalam bangsa ini. Kecintaan, kesetiaan dan ketaatan tidak dan tidak boleh kurang daripada orang lain sebagai wujud mengasihi dan taat pada Allah. (Halen Imang - Kupang, NTT, Tenaga Pengajar honorer, aktif di pelayanan perkantas Kupang)

Saya menyadari bahwa saya ditempatkan di tengah-tengah bangsa ini bukan suatu kebetulan dalam arti ada yang perlu dikerjakan (Frans Rumene - Papua, Bergiat di GMKI dan GKI)

Acara ini membuka pikiran saya bahwa negara ini bisa berubah dan untuk terjadinya hal itu tidak bisa hanya menuntut pemerintah saja. Perubahan itu boleh dimulai dari diri saya. (Julianti Stefana Sinaga - Medan)

Saya terinspirasi untuk mulai mengkaji peraturan perundangan di bidang pekerjaan saya (rekayasa lingkungan) dan mulai menginisiasi teman-teman sevisi dan seprofesi untuk melakukan diskusi warga dan diskusi untuk pengajuan pentingnya peraturan lainnya di bidang kami  (Irene B Batoarung – Bandung)

Dari beberapa kesan para peserta di atas, telah terlihat ada tekad-tekad yang dibulatkan, gairah menyala untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa! Segala puji dan syukur kita haturkan kepada-Nya untuk terlaksananya PW ke-21 di Bandung.  Semoga Dia membuat api kita terus menyala!

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena