IL News No. 020/2011
oleh Institut Leimena

Pendidikan Warga ke 16 Institut Leimena di Kupang, Nusa Tenggara Timur

Kesadaran bagi pemuda Kristen dalam statusnya sebagai Murid Kristus dan sebagai Warna Negara Indonesia haruslah dibangun.  Dengan demikian, pemuda Kristen bukan cuma bertindak sebagai “penumpang” saja tetapi juga menyadari statusnya sebagai “pemilik” Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Kesadaran yang semakin tinggi ini perlu supaya pemuda Kristen dapat juga terlibat aktif dalam membangun Negara Kesatuan RepubIik Indonesia sebagai bentuk kesetiaannya kepada Allah sebagai Warganegara yang Bertanggung Jawab.   Dengan demikian, pemuda Kristen dapat berfungsi sebagai garam yang mau keluar dari bungkusnya sehingga dapat ikut “mengawetkan” sekitarnya.  Demikianlah cuplikan dari pesan yang disampaikan dalam Pendidikan Warga ke 16 yang diadakan oleh Center for Policy Analysis(CePA) Institut Leimena untuk sekitar 120 orang Pemuda Kupang yang diadakan pada hari Sabtu, 11 Juni 2011 di Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Jemaat Ebenhaezer Oeba.  Para pemuda tersebut merupakan utusan dari 13 jemaat GMIT di Kupang, Perkantas, mahasiswa Universitas Kristen Arthawacana-Universitas Nusa Cendana-STIKES, Ikatan Pemuda Mahasiswa Maluku, PMK Kota Kupang, GMKI dan PMKRI.

Apa komentar Pemuda Kupang yang mengikuti Pendidikan Warga ini?

“Acara ini sudah membuka cakrawala mengenai Konstitusi NKRI dari perspektif Kristen.” (Bernadetta Helena Gurning -Alumni Perkantas Kupang)

“Saya diajar untuk menjadi kritis menanggapi masalah politik.” (Mike E. Radja-GMIT Pniel Sikumana)

“Dapat membuat pemahaman saya tentang agama dan negara menjadi lebih jelas.” (Sarci L. A. Letsibuda-Fakultas Teologia UKAW)

“Acara ini memotivasi saya sebagai WNI dan murid Kristus, untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan, serta bagi bangsa dan negara Indonesia.” (Derly Koehuan-PMK Teknik Undana)

“Acara ini bermanfaat  karena dapat mendidik menjadi seorang yang berani beragumen dan berjiwa pemimpin.” (Sius Tefsele-GMIT Pniel Sikumana)

“Saya diajar bagaimana mengkritisi suatu RUU.”(Kiky E. D. Tulle-PMK Kota Perkantas)

Kupang, NTT (11 Jun 2011)

“Bermanfaat karena melatih bagaimana berpikir kritis dan konstruktif sesuai dengan konstitusi.” (Arif Suek-GMKI Kupang)

“Saya sekarang sadar bahwa walaupun saya hanyalah seorang rakyat kecil tetapi saya punya hak dan tanggungjawab untuk memajukan bangsa Indonesia dan menjaga budaya bangsa Indonesia.” (Yohanes Bili-GMIT Imanuel Oepura)

“Saya belajar bagaimana berdiskusi secara efektif.” (David Susanto Sandy Illu-PMK Kota Perkantas)

“Saya tertarik dengan diskusi kelompok tentang amandemen dan saya ingin lebih memperdalam pemahaman saya tentang amandemen UUD.” (Wati N. Manimalai-Fak. Teologia UKAW)

“Acara ini telah menambah wawasan dan ilmu pengetahuan bagi saya sebagai calon guru PPKN” (Elfridus Bait-PMK Kota Perkantas)

“Saya disadarkan akan status saya sebagai warga negara Indonesia dan warga negara kerajaan Allah.  Dengan kesadaran ini saya menjadi tahu bahwa saya hidup bukan untuk berkarya di gereja saja tetapi lebih pada seluruh cakupan kehidupan manusia.” (Tri Y. Nepa Fay-Fak. Teologia UKAW)

“Saya terdorong untuk melakukan diskusi-diskusi seputar UU yang ada di Indonesia dan memuat di situs-situs jaringan sosial/blog-blog.” (Macxi Benu-GMIT Pniel Sikumana)

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena