Program Advisor Institut Leimena, Budi Setiamarga, PhD. (kanan) dan Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Trisakti Handayani dalam Kuliah Perdana untuk memberikan pemahaman tentang Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB).
Jakarta, IL News – Institut Leimena bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan Kuliah Perdana secara daring yang diikuti oleh 218 mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) pada 31 Januari 2026. Kuliah yang mengangkat tema “Kelas yang Menggembirakan: Menumbuhkan Pemahaman Literasi Keagamaan melalui Kolaborasi Lintas Budaya” diisi oleh narasumber utama, Program Advisor Institut Leimena, Budi H. Setiamarga.
Kuliah tersebut bertujuan membekali para calon guru UMM dengan kompetensi Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) agar mereka memiliki kepekaan terhadap keberagaman di ruang kelas. Melalui pemahaman LKLB, calon guru diharapkan bisa membangun budaya kelas yang menggembirakan karena tumbuhnya sikap saling menghormati perbedaan diantara peserta didik.
Budi mengatakan guru memiliki tantangan besar untuk membangun suasana kelas menjadi menyenangkan atau menggembirakan. Hal itu sejalan dengan upaya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang mendorong pembelajaran mendalam (deep learning) melalui tiga elemen utama yaitu pembelajaran yang berkesadaran (mindful), pembelajaran yang bermakna (meaningful), dan pembelajaran yang menyenangkan (joyful).
“Kelas menggembirakan mengarah kepada pembelajaran positif dan memotivasi anak agar lebih mudah memahami dan mengingat pengetahuan. Itu sebabnya, guru perlu dibekali kompetensi LKLB agar mampu membangun rasa aman siswa dalam bertanya, berdialog, bahkan bekerja sama di tengah keberagaman mereka,” kata Budi.
Budi menjelaskan pembelajaran yang menggembirakan bukan berarti menghilangkan kedalaman materi, sebaliknya mendorong pembelajaran kepada kemampuan berpikir tingkat tinggi atau high order thinking (HOT) skills. LKLB dipahami sebagai pendekatan berpikir, bersikap, dan bertindak dalam berelasi dengan orang lain yang berbeda agama dan budaya.
“Pendekatan LKLB mengarah kepada pembelajaran HOT karena melibatkan konsep 3H (Head, Heart, Hand), yakni pembelajaran yang menyentuh aspek kognitif (head), membangun kesadaran nilai dan empati (heart), serta diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kolaborasi (hand) sekalipun berbeda agama atau budaya,” kata Budi.
Kuliah Perdana yang diadakan Prodi PPG UMM ini diikuti 218 calon guru dari wilayah Malang dan sejumlah daerah lainnya.
Budi menambahkan LKLB terdiri dari tiga kompetensi yaitu kompetensi pribadi, artinya bagaimana seseorang memahami pemahaman agamanya sendiri dalam konteks berelasi dengan orang yang berbeda agama. Ia menegaskan LKLB bukan sinkretisme, namun justru mendorong seseorang semakin mengenal diri sendiri dan agamanya.
Kedua, kompetensi komparatif, artinya bagaimana seseorang bisa mengetahui ajaran agama lain tentang relasi dengan orang yang berbeda sehingga tumbuh rasa empati. Ketiga, kompetensi kolaboratif, yaitu bagaimana seseorang mau dan mampu bekerja sama dengan orang lain yang berbeda agama.
Budi menyampaikan pendekatan LKLB adalah hakikat kemanusiaan sendiri karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup dalam kelompok sendiri, melainkan harus bergandengan tangan dan bekerja sama untuk menyelesaikan persoalan bersama.
“Dunia ini seperti global village, seperti desa global yang mengikat satu sama lain. Usaha meningkatkan kesehatan, pendidikan, tidak mungkin hanya oleh satu negara atau kelompok saja,” katanya.
Sejak 2024, Institut Leimena dan UMM telah bekerja sama mengadakan tiga kali kelas pelatihan LKLB dengan jumlah peserta lulus sebanyak 902 orang.
Pelatihan LKLB UMM
Ketua Program Studi PPG Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani, mengatakan literasi keagamaan bukan hanya memahami ajaran agama sendiri, tetapi juga tentang kemampuan untuk menghargai dan memahami kepercayaan orang lain. Dalam konteks Indonesia yang sangat majemuk, menurutnya, LKLB menjadi kunci untuk memahami harmoni sosial.
“Institut Leimena telah lama dikenal sebagai lembaga yang konsisten dalam mempromosikan nilai-nilai keberagaman, toleransi, dan dialog antar umat beragama di Indonesia,” kata Trisakti dalam sambutannya.
UMM telah bekerja sama dengan Institut Leimena untuk mengadakan tiga angkatan pelatihan LKLB untuk peserta program PPG pada Maret dan Juni 2024 lalu dan yang terbaru pada Februari 2026, dengan peserta yang lulus mencapai 902 orang. Pelatihan LKLB diadakan selama lima hari secara daring dengan menghadirkan narasumber nasional dan internasional antara lain Mantan Menteri Luar Negeri, Dr. Alwi Shihab, Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Amin Abdullah, dan Senior Fellow Love Your Neighbor Community (LYNC), Dr. Chris Seiple.
“Ketika pemahaman literasi keagamaan lintas budaya diintegrasikan dalam pembelajaran, siswa akan belajar bahwa perbedaan adalah anugerah bukan ancaman. Mereka akan memahami nilai-nilai luhur seperti kejujuran, kasih sayang dan keadilan adalah prinsip universal yang diajarkan semua agama dan budaya,” kata Trisakti.
Salah seorang peserta PPG UMM, mahasiswa jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakhriatul Fuaidah, menanyakan cara mengintegrasikan LKLB ke dalam kurikulum di sekolah di sekolah dengan mayoritas agama sama. Menjawab hal itu, Budi Setiamarga, mengatakan Institut Leimena telah menjalankan Program LKLB sejak 2021 diikuti oleh lebih dari 10.700 guru dari seluruh provinsi di Indonesia. Penerapan LKLB ke dalam kurikulum salah satunya dilakukan dengan memasukkan pendekatan LKLB ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) di kelas.
Budi mengatakan dasar terkuat dari LKLB adalah membangun persahabatan diantara para siswa berbeda agama. Dia mencontohkan salah satu implementasi dilakukan oleh dua guru alumni program LKLB dari Madrasah Al-Manar dan Sekolah Kristen Tritunggal, yang keduanya berada di Semarang. Kedua sekolah memiliki siswa yang homogen, sehingga mereka berinisiatif melakukan sejumlah kegiatan bersama termasuk kunjungan antar sekolah.
“Dalam situasi homogen, kita bisa melakukan cara berbeda-beda. Intinya adalah membangun persahabatan. Bila Anda bisa bersahabat dengan teman berbeda agama, mengobrol, dan bercanda, maka hal-hal keagamaan lebih mudah terkomunikasikan. Jangan kita hanya terkungkung pikiran atau pendekatan agama,” ujar Budi. [IL/Chr]
Responsible Citizenship
in Religious Society
Ikuti update Institut Leimena
@institutleimena
@lklbid
@institutleimena
@lklbid
