IL News No. 005/2011
oleh Institut Leimena

Tangmentoe, 17-18 Januari 2011

Rangkaian Seminar Kader Kebangsaan yang dilaksanakan oleh Institut Leimena bersama sinode gereja-gereja setempat di Sulawesi yang telah dimulai sejak tanggal 4 Januari 2011, di 3 kota sebelumnya yaitu Tolitoli, Manado, dan Makassar, akhirnya memasuki kota terakhir yaitu Rantepao, Tana Toraja.  Adapun kegiatan ini dilaksanakan atas kerjasama Institut Leimena dengan Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Toraja yang diadakan di Pusat Studi dan Pembinaan Tangmentoe. Acara ini dihadiri oleh  43 orang, yang terdiri dari para pengajar, pendeta, utusan sinode, para mahasiswa dan mahasiswi, serta beberapa wakil dari kaum profesional.

Pdt. Soleman Batti, Ketua BPMS Gereja Toraja,dalam sambutannya mengungkapkan pentingnya acara seperti ini dalam menghasilkan kader yang kompeten. Matius Ho, Direktur Eksekutif Institut Leimena, membuka rangkaian seminar dengan pengenalan tentang Institut Leimena serta figur Dr. Johannes Leimena yang menginspirasi Institut Leimena untuk meneruskan perjuangan beliau dalam merawat ide/gagasan “warganegara yang bertanggung jawab”. Seminar dilanjutkan oleh Budi H. Setiamarga, direktur Center for Policy Analysis (CePA) Institut Leimena yang mengajak para peserta untuk menyadari perubahan setelah Amandemen UUD’45. Selain itu para peserta didorong untuk bisa melakukan advokasi kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.

Dalam acara ini juga dibahas mengenai peranan dan penggunaan teknologi informasi dalam pengembangan jejaring serta pemberdayaan jemaat. Vonny Tjandra mengulas singkat penggunaan dan pemanfaatan beberapa situs yang bisa digunakan oleh para peserta agar menjadi sumber pembelajaran yang akan membantu para peserta antara lain situs www.leimena.org, www.legalitas.org, dan beberapa situs lainnya. Di sesi ini juga Vonny  memperkenalkan halaman khusus yang dapat diakses pada jejaring sosial facebook, sehingga diharapkan para pengguna facebook pun dapat menerima update informasi melalui situs jejaring sosial ini. Dengan adanya penggunaan teknologi ini diharapkan dapat mempermudah komunikasi antara IL dengan peserta serta memperluas jaringan Institut Leimena di seluruh Indonesia.

Pada hari kedua, para peserta mendapatkan kesempatan untuk melakukan tanya jawab melalui teleconference dengan Drs. Jakob Tobing, MPA, Presiden Institut Leimena yang berada di Jakarta. Metode seperti ini diharapkan kedepan dapat diaplikasikan di daerah-daerah sehingga para narasumber yang terbatas ini tetap dapat berpartisipasi. Diskusi Warga dipromosikan sebagai salah satu alternatif bagi para peserta agar dapat membahas masalah- masalah aktual yang terjadi dalam negara ini.  Diskusi ini diharapkan dapat menghasilkan suatu pemikiran yang matang, bahkan  dapat mencari solusi serta saran pengembangan.  Dengan demikian, diskusi warga ini bisa menjadi suatu sarana yang dapat dikembangkan di warga jemaat dalam melakukan advokasi terhadap kebijakan publik yang ada dalam pemerintahan.  Contoh kasus yang dijadikan bahan diskusi ini mengangkat studi kasus “Kebudayaan Indonesia menurut Konstitusi: Eksposisi pasal 32 UUD 45” yang ditulis oleh Jakob Tobing dan mengadaptasikannya dengan kondisi budaya di Toraja. Melalui diskusi ini, para peserta dapat bersama-sama mendiskusikan, berkontribusi dan menghasilkan suatu pemikiran yang kritis dan baik, sehingga diharapkan bisa menjadi contoh metode yang dapat diaplikasikan  oleh warga jemaat mengenai permasalahan lain.

Rangkaian  seminar kader kebangsaan di 4 kota di Sulawesi ini diharapkan bisa menjadi salah satu upaya kecil yang akan terus berkembang ke daerah-daerah lain sehingga dapat terus mengembangkan gagasan “warga negara yang bertanggung jawab” agar dapat meningkatkan kesadaran para warga jemaat dan meningkatkan peran aktif mereka sebagai warga negara Indonesia yang bertanggung jawab atas perkembangan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Subscribed YouTube WargaNegara

 

IL News No. 028/2011
oleh Institut Leimena

Pendidikan Warga ke-21 Institut Leimena di Bandung, Jawa Barat (19 Agustus 2011)

“Kami telah kehilangan kepercayaan pemerintah. Sungguhkah orang Kristen bisa berdampak dalam keadaan seperti ini?”

“Apakah satu sendok garam dapat memberi dampak pada satu drum besar air?”

“Bagaimana menciptakan anak muda-anak muda yang mencintai bangsa ketika kami telah mengalami banyak ketidakadilan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut para peserta. Wajah mereka menunjukkan kegelisahan, kekecewaan, juga keraguan – apakah sungguh kami bisa melakukan sesuatu bagi bangsa ini?

Mereka adalah sekumpulan pemuda-pemudi Kristen yang tergabung dalam Yayasan Pembinaan dan Pelayanan Alumni Kristen (YPPAK). Para pemuda-pemudi inilah yang menjadi peserta Pendidikan Warga(PW) ke-21 yang dilaksanakan atas kerjasama Institut Leimena dengan YPPAK di aula Sekolah Kristen Yahya Bandung, pada tanggal 19 Agustus 2011 lalu. Mereka berasal dari berbagai daerah di Nusantara : Ambon, Kupang, Palu, Manado, Medan, Jayapura, Biak, Bogor, dan Bandung.

Melalui kegiatan PW ini, Institut Leimena mengajak setiap peserta merawat gagasan tentang NKRI. Peserta diajak menapaki ide-ide Johannes Leimena tentang kewarganegaraan yang bertanggungjawab,  menyelami cita-cita negara Indonesia, memahami amandemen UUD 1945 dan diakhiri dengan 2 sesi workshop.

Pemuda-pemudi ini dengan antusias mengikuti setiap sesi. Mereka tak ragu mengungkapkan pendapat, maupun melontarkan pertanyaan. Dalam kedua sesi workshop, yaitu “Eksposisi Pasal 32 UUD 1945 dan “Belajar Berpikir Secara Konstitusional : Pembahasan RUU Pengelolaan Zakat”, para peserta asik berdiskusi kemudian menyampaikan hasil analisis satu sama lain.

Hal lain yang menarik dalam PW ke-21 ini adalah hadirnya tim pengajar yang terdiri dari 7 orang. Sebelum bertugas di PW-21, tim pengajar ini telah menjalani training pada tanggal 12-14 Agustus 2011. Para pengajar mencoba menerapkan metode active learning, sebuah metode di mana peserta dilibatkan sebanyak mungkin, dalam setiap sesi yang dibawakan.  Metode ini pun bersambut dengan antusiasme peserta. Suasana hidup terbangun sepanjang pelaksanaan kegiatan Pendidikan Warga.

Di akhir kegiatan, para peserta menuliskan manfaat yang mereka peroleh dan rencana tindak lanjut ke depannya. Apakah kekecewaan telah berganti menjadi belas kasihan? Apakah kegelisahan telah berganti menjadi harapan? Apakah api untuk membangun bangsa mulai menyala? Simaklah beberapa kesan para peserta di bawah ini :

Tidak bersikap pesimis atau apatis tetapi mau terlibat untuk menjadi garam dan terang dalam bangsa ini. Kecintaan, kesetiaan dan ketaatan tidak dan tidak boleh kurang daripada orang lain sebagai wujud mengasihi dan taat pada Allah. (Halen Imang - Kupang, NTT, Tenaga Pengajar honorer, aktif di pelayanan perkantas Kupang)

Saya menyadari bahwa saya ditempatkan di tengah-tengah bangsa ini bukan suatu kebetulan dalam arti ada yang perlu dikerjakan (Frans Rumene - Papua, Bergiat di GMKI dan GKI)

Acara ini membuka pikiran saya bahwa negara ini bisa berubah dan untuk terjadinya hal itu tidak bisa hanya menuntut pemerintah saja. Perubahan itu boleh dimulai dari diri saya. (Julianti Stefana Sinaga - Medan)

Saya terinspirasi untuk mulai mengkaji peraturan perundangan di bidang pekerjaan saya (rekayasa lingkungan) dan mulai menginisiasi teman-teman sevisi dan seprofesi untuk melakukan diskusi warga dan diskusi untuk pengajuan pentingnya peraturan lainnya di bidang kami  (Irene B Batoarung – Bandung)

Dari beberapa kesan para peserta di atas, telah terlihat ada tekad-tekad yang dibulatkan, gairah menyala untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa! Segala puji dan syukur kita haturkan kepada-Nya untuk terlaksananya PW ke-21 di Bandung.  Semoga Dia membuat api kita terus menyala!

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena