IL News 017/2013

 

Pulau Seram (Maluku), 17-22 November 2013

 

Pada tanggal 17-22 November 2013 lalu dilaksanakan persidangan ke-35 Majelis Pekerja Lengkap (MPL) Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) di Uwen Gabungan, Pulau Seram, Maluku. Tim Institut Leimena yang terdiri dari Maruarar Siahaan (Mantan Hakim Konstitusi RI (2003-2009), Chairman Legal and Judicial Studies Taskforce Institut Leimena), Matius Ho, dan Viona Wijaya ikut menghadiri acara akbar yang menghimpun seluruh pimpinan jemaat se-Maluku. Tim tiba di Uwen Gabungan pada tanggal 17 November 2013 dan disambut oleh Ketua Sinode, Pdt. Dr. J. Chr. Ruhulessin, M.Si., mengikuti rangkaian kegiatan pada hari tersebut dan membawakan sesi keesokan harinya, 18 November 2013.

Persidangan yang bertema, “Tuhan Itu Baik Kepada Semua Ciptaan”, dengan sub-tema, “Mencerdaskan Umat untuk Bersama-sama Melakukan Tugas Pembaruan dalam Kehidupan Bergereja, Bermasyarakat dan Berbangsa” tersebut diikuti dengan sangat antusias oleh peserta persidangan yang kurang lebih berjumlah 300 orang.  Institut Leimena membawakan sesi Kepemimpinan Publik dan Hak Ulayat. Sesi ini mendapat respon yang sangat baik dari peserta, ditunjukkan dengan  peserta aktif bertanya dan menyampaikan gagasan-gagasannya.

Persoalan kepemimpinan publik dan hak ulayat memang merupakan masalah aktual yang sedang dihadapi masyarakat Maluku. Berbagai kasus yang sedang terjadi di daratan Maluku misalnya kasus Pulau Aru yang sekitar ¾ lahannya direncanakan akan dialihfungsikan menjadi kebun tebu membuat banyak pihak gelisah utamanya masyarakat hukum adat setempat.

Derasnya arus pembangunan yang memasuki bumi Maluku membutuhkan pemimpin-pemimpin yang mampu bersikap bijak dalam mengambil keputusan-keputusan. Di sisi lain, situasi ini juga meneguhkan bahwa pencerdasan masyarakat sangat dibutuhkan. Panggilan inilah yang hendak dijawab oleh GPM supaya gereja dapat ikut berperan mengurai permasalahan-permasalahan sosial yang ada bersama-sama dengan masyarakat lain dengan tetap memerhatikan batasan-batasan yang dimiliki gereja.

Semangat pencerdasan dan pembaruan yang diserukan GPM bagi bumi Maluku selayaknya menjadi inspirasi bagi gereja-gereja di seluruh Indonesia. Dengan demikian, benarlah gereja dapat menjadi garam dan terang dunia dalam kehidupan bergereja, bermasyarakat, dan berbangsa!

Subscribed YouTube WargaNegara

 

IL News No. 028/2011
oleh Institut Leimena

Pendidikan Warga ke-21 Institut Leimena di Bandung, Jawa Barat (19 Agustus 2011)

“Kami telah kehilangan kepercayaan pemerintah. Sungguhkah orang Kristen bisa berdampak dalam keadaan seperti ini?”

“Apakah satu sendok garam dapat memberi dampak pada satu drum besar air?”

“Bagaimana menciptakan anak muda-anak muda yang mencintai bangsa ketika kami telah mengalami banyak ketidakadilan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut para peserta. Wajah mereka menunjukkan kegelisahan, kekecewaan, juga keraguan – apakah sungguh kami bisa melakukan sesuatu bagi bangsa ini?

Mereka adalah sekumpulan pemuda-pemudi Kristen yang tergabung dalam Yayasan Pembinaan dan Pelayanan Alumni Kristen (YPPAK). Para pemuda-pemudi inilah yang menjadi peserta Pendidikan Warga(PW) ke-21 yang dilaksanakan atas kerjasama Institut Leimena dengan YPPAK di aula Sekolah Kristen Yahya Bandung, pada tanggal 19 Agustus 2011 lalu. Mereka berasal dari berbagai daerah di Nusantara : Ambon, Kupang, Palu, Manado, Medan, Jayapura, Biak, Bogor, dan Bandung.

Melalui kegiatan PW ini, Institut Leimena mengajak setiap peserta merawat gagasan tentang NKRI. Peserta diajak menapaki ide-ide Johannes Leimena tentang kewarganegaraan yang bertanggungjawab,  menyelami cita-cita negara Indonesia, memahami amandemen UUD 1945 dan diakhiri dengan 2 sesi workshop.

Pemuda-pemudi ini dengan antusias mengikuti setiap sesi. Mereka tak ragu mengungkapkan pendapat, maupun melontarkan pertanyaan. Dalam kedua sesi workshop, yaitu “Eksposisi Pasal 32 UUD 1945 dan “Belajar Berpikir Secara Konstitusional : Pembahasan RUU Pengelolaan Zakat”, para peserta asik berdiskusi kemudian menyampaikan hasil analisis satu sama lain.

Hal lain yang menarik dalam PW ke-21 ini adalah hadirnya tim pengajar yang terdiri dari 7 orang. Sebelum bertugas di PW-21, tim pengajar ini telah menjalani training pada tanggal 12-14 Agustus 2011. Para pengajar mencoba menerapkan metode active learning, sebuah metode di mana peserta dilibatkan sebanyak mungkin, dalam setiap sesi yang dibawakan.  Metode ini pun bersambut dengan antusiasme peserta. Suasana hidup terbangun sepanjang pelaksanaan kegiatan Pendidikan Warga.

Di akhir kegiatan, para peserta menuliskan manfaat yang mereka peroleh dan rencana tindak lanjut ke depannya. Apakah kekecewaan telah berganti menjadi belas kasihan? Apakah kegelisahan telah berganti menjadi harapan? Apakah api untuk membangun bangsa mulai menyala? Simaklah beberapa kesan para peserta di bawah ini :

Tidak bersikap pesimis atau apatis tetapi mau terlibat untuk menjadi garam dan terang dalam bangsa ini. Kecintaan, kesetiaan dan ketaatan tidak dan tidak boleh kurang daripada orang lain sebagai wujud mengasihi dan taat pada Allah. (Halen Imang - Kupang, NTT, Tenaga Pengajar honorer, aktif di pelayanan perkantas Kupang)

Saya menyadari bahwa saya ditempatkan di tengah-tengah bangsa ini bukan suatu kebetulan dalam arti ada yang perlu dikerjakan (Frans Rumene - Papua, Bergiat di GMKI dan GKI)

Acara ini membuka pikiran saya bahwa negara ini bisa berubah dan untuk terjadinya hal itu tidak bisa hanya menuntut pemerintah saja. Perubahan itu boleh dimulai dari diri saya. (Julianti Stefana Sinaga - Medan)

Saya terinspirasi untuk mulai mengkaji peraturan perundangan di bidang pekerjaan saya (rekayasa lingkungan) dan mulai menginisiasi teman-teman sevisi dan seprofesi untuk melakukan diskusi warga dan diskusi untuk pengajuan pentingnya peraturan lainnya di bidang kami  (Irene B Batoarung – Bandung)

Dari beberapa kesan para peserta di atas, telah terlihat ada tekad-tekad yang dibulatkan, gairah menyala untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa! Segala puji dan syukur kita haturkan kepada-Nya untuk terlaksananya PW ke-21 di Bandung.  Semoga Dia membuat api kita terus menyala!

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena