IL News 017/2012
oleh Institut Leimena

Pendidikan Warga ke-32

Bandung (Jawa Barat), 31 Maret 2012

“Berikan saya sepuluh pemuda, dan saya akan mengubah dunia!”, sebuah kutipan dari pidato Soekarno yang menggetarkan hati. Pidato ini menggambarkan betapa besarnya makna pemuda bagi peradaban.

Kesan itulah yang muncul dalam Pendidikan Warga Ke-32 yang diselenggarakan oleh Institut Leimena bekerja sama dengan GMKI Cab. Bandung dan LPMI Bandung, bertempat di Wisma Sejahtera, Dago, Bandung (31/3).

Tak kurang dari 35 calon pemimpin bangsa yang berasal dari kampus ITB, Universitas Pajajaran, IT Telkom, dan kampus-kampus lainnya di Bandung, berkumpul, dibongkar paradigmanya tentang apa itu pribadi dengan dwikewarganegaraan.

Mereka diperlengkapi pemahamannya dengan dasar Alkitab tentang makna “garam” dan “terang” bagi dunia, khususnya di ruang publik.

Sesi Diskusi diisi dengan tukar pikiran tentang masalah bangsa serta solusi praktis nan mendasar bersama Tim Institut Leimena, Budi Setiamarga, Ph.D dibantu oleh Fasilitator Diskusi Warga Institut Leimena, Sahat Sinurat dan Yanes David Sidabutar.

Sambutan yang diberikan peserta Pendidikan Warga pun menyegarkan, dan salah satu yang cukup menarik disimak adalah dari seorang mahasiswa Teknik Sipil ITB, Halim Dinata berikut ini:

“Luar Luar biasa, kegiatan ini sungguh menjadi berkat bagi mahasiswa-mahasiswa untuk menjalankan fungsi sebagai warga negara, khususnya mahasiswa Kristen. Saya pribadi banyak ditegur dan diingatkan kembali. Sedihnya, mengapa pendidikan kewarganegaraan (kuliah PKN) di kampus tidak dibuat seperti ini? Hehe.”

Apa yang terjadi pada pemuda-pemudi di Bandung ini adalah sebuah riak, riak paradoksal. Di satu sisi, ada keprihatinan dengan keadaan yang sangat buruk di bangsa ini, namun di saat bersamaan, ada riak semangat berkobar untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi bangsa

Semoga riak ini terus membesar, demi kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan bangsa yang semakin membesar.

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena