IL News No. 002/2010
oleh Institut Leimena

Pertemuan berkala para pimpinan lembaga-lembaga gereja aras nasional, yaitu PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia), PGLII (Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia), dan PGPI (Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia), diadakan kembali pada tanggal 4 Juni 2010 di Institut Leimena. Menindaklanjuti pertemuan pertama bulan Februari yang lalu, Jonathan Lamb – Direktur Langham Preaching dari Langham Partnership International (London, UK) – kembali berkunjung ke Institut Leimena untuk bertemu dengan para pimpinan gereja tersebut. Langham memang meminta Institut Leimena untuk memfasilitasi pertemuan ini, yang kemudian menyepakati untuk membentuk tim bersama (PGI, PGLII, PGPI, Langham) untuk mempersiapkan program pelatihan khotbah yang akan dilaksanakan Februari/Maret 2011. Langham akan memberikan dukungan pelatih, tapi menekankan pentingnya program ini dikembangkan sesuai kebutuhan lokal dan dipimpin gereja-gereja lokal. Manfaat program yang dilakukan Langham ini telah dirasakan di hampir 60 negara di seluruh dunia.

Pertemuan pimpinan PGI, PGLII, PGPI ini kemudian dilanjutkan dengan diskusi situasi politik nasional, yang menghadirkan narasumber Makmur Keliat (Dosen FISIP UI) dan Theo Sambuaga (Wakil Ketua Umum Partai Golkar). Pada saat ini juga, Pdt. A.A. Yewangoe dan Pdt. Gomar Gultom (Ketua Umum dan Sekretaris Umum PGI) ikut bergabung dengan pimpinan gereja lainnya yang mengikuti pertemuan sebelumnya, seperti Pdt. Nus Reimas dan Pdt. Ronny Mandang (Ketua Umum dan Ketua PGLII),  Pdt. Robinson Nainggolan dan Pdt. Mulyadi Sulaeman (Ketua Harian dan Ketua PGPI), dan Yudiet Tompah (Sekretaris Eksekutif Koinonia PGI). Theo Sambuaga memberikan pandangan mengenai konstelasi politik saat ini, terkait perkembangan terbentuknya Setgab partai koalisi dan selanjutnya. Sementara, Makmur Keliat menyoroti lemahnya negara kita saat ini, yang amat kontras dibandingkan jaman Orde Baru yang dikeluhkan peran negaranya terlalu dominan.

Seusai update perkembangan situasi nasional, para pimpinan gereja membahas lebih jauh gagasan program pendidikan melalui e-learning yang disampaikan Dr. Iman Santoso dalam pertemuan tanggal 1 April 2010. Kali ini dua penggagasnya dari Amerika Serikat, Dr. Vishal Mangalwadi dan Scott Allen, hadir untuk menjelaskan pemikirannya secara lebih lengkap. Mereka menegaskan bahwa e-learning hanyalah sarana, tapi fokus mereka yang utama adalah mentransformasi bangsa melalui pendidikan yang berdasarkan paradigma berpikir yang Alkitabiah. Jadi penekanannya adalah bagaimana orang-orang Kristen dapat ikut membangun bangsa negaranya dengan setia berpegang pada nilai-nilai Alkitabiah. Tiga rektor turut hadir untuk membahas gagasan ini, yaitu Jonathan Parapak (Universitas Pelita Harapan), Tony Antonio (Universitas Ciputra), dan Yohanes Surya (Universitas Multimedia Nusantara). Sebagian besar Dewan Penyantun Institut Leimena juga ikut dalam pertemuan tanggal 4 Juni ini, yaitu Adrianus Mooy, Jakob Tobing, Junius Suhadi, Mangara Tambunan, Matius Ho, dan Viveka Nanda Leimena.

Subscribed YouTube WargaNegara

 

IL News No. 028/2011
oleh Institut Leimena

Pendidikan Warga ke-21 Institut Leimena di Bandung, Jawa Barat (19 Agustus 2011)

“Kami telah kehilangan kepercayaan pemerintah. Sungguhkah orang Kristen bisa berdampak dalam keadaan seperti ini?”

“Apakah satu sendok garam dapat memberi dampak pada satu drum besar air?”

“Bagaimana menciptakan anak muda-anak muda yang mencintai bangsa ketika kami telah mengalami banyak ketidakadilan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut para peserta. Wajah mereka menunjukkan kegelisahan, kekecewaan, juga keraguan – apakah sungguh kami bisa melakukan sesuatu bagi bangsa ini?

Mereka adalah sekumpulan pemuda-pemudi Kristen yang tergabung dalam Yayasan Pembinaan dan Pelayanan Alumni Kristen (YPPAK). Para pemuda-pemudi inilah yang menjadi peserta Pendidikan Warga(PW) ke-21 yang dilaksanakan atas kerjasama Institut Leimena dengan YPPAK di aula Sekolah Kristen Yahya Bandung, pada tanggal 19 Agustus 2011 lalu. Mereka berasal dari berbagai daerah di Nusantara : Ambon, Kupang, Palu, Manado, Medan, Jayapura, Biak, Bogor, dan Bandung.

Melalui kegiatan PW ini, Institut Leimena mengajak setiap peserta merawat gagasan tentang NKRI. Peserta diajak menapaki ide-ide Johannes Leimena tentang kewarganegaraan yang bertanggungjawab,  menyelami cita-cita negara Indonesia, memahami amandemen UUD 1945 dan diakhiri dengan 2 sesi workshop.

Pemuda-pemudi ini dengan antusias mengikuti setiap sesi. Mereka tak ragu mengungkapkan pendapat, maupun melontarkan pertanyaan. Dalam kedua sesi workshop, yaitu “Eksposisi Pasal 32 UUD 1945 dan “Belajar Berpikir Secara Konstitusional : Pembahasan RUU Pengelolaan Zakat”, para peserta asik berdiskusi kemudian menyampaikan hasil analisis satu sama lain.

Hal lain yang menarik dalam PW ke-21 ini adalah hadirnya tim pengajar yang terdiri dari 7 orang. Sebelum bertugas di PW-21, tim pengajar ini telah menjalani training pada tanggal 12-14 Agustus 2011. Para pengajar mencoba menerapkan metode active learning, sebuah metode di mana peserta dilibatkan sebanyak mungkin, dalam setiap sesi yang dibawakan.  Metode ini pun bersambut dengan antusiasme peserta. Suasana hidup terbangun sepanjang pelaksanaan kegiatan Pendidikan Warga.

Di akhir kegiatan, para peserta menuliskan manfaat yang mereka peroleh dan rencana tindak lanjut ke depannya. Apakah kekecewaan telah berganti menjadi belas kasihan? Apakah kegelisahan telah berganti menjadi harapan? Apakah api untuk membangun bangsa mulai menyala? Simaklah beberapa kesan para peserta di bawah ini :

Tidak bersikap pesimis atau apatis tetapi mau terlibat untuk menjadi garam dan terang dalam bangsa ini. Kecintaan, kesetiaan dan ketaatan tidak dan tidak boleh kurang daripada orang lain sebagai wujud mengasihi dan taat pada Allah. (Halen Imang - Kupang, NTT, Tenaga Pengajar honorer, aktif di pelayanan perkantas Kupang)

Saya menyadari bahwa saya ditempatkan di tengah-tengah bangsa ini bukan suatu kebetulan dalam arti ada yang perlu dikerjakan (Frans Rumene - Papua, Bergiat di GMKI dan GKI)

Acara ini membuka pikiran saya bahwa negara ini bisa berubah dan untuk terjadinya hal itu tidak bisa hanya menuntut pemerintah saja. Perubahan itu boleh dimulai dari diri saya. (Julianti Stefana Sinaga - Medan)

Saya terinspirasi untuk mulai mengkaji peraturan perundangan di bidang pekerjaan saya (rekayasa lingkungan) dan mulai menginisiasi teman-teman sevisi dan seprofesi untuk melakukan diskusi warga dan diskusi untuk pengajuan pentingnya peraturan lainnya di bidang kami  (Irene B Batoarung – Bandung)

Dari beberapa kesan para peserta di atas, telah terlihat ada tekad-tekad yang dibulatkan, gairah menyala untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa! Segala puji dan syukur kita haturkan kepada-Nya untuk terlaksananya PW ke-21 di Bandung.  Semoga Dia membuat api kita terus menyala!

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena