IL News 016/2020

Apakah konsep A Common Word yaitu “Mengasihi Tuhan dan sesama” telah diketahui dan diterima pemimpin agama Islam dan Kristen dari berbagai spektrum?

Apa saja contoh-contoh praktis yang kita bisa lakukan agar relasi Islam-Kristen sampai ke akar rumput bisa makin baik dan tidak hanya sebatas seremonial atau di kalangan para elite terbatas saja?

Bagaimana contoh-contoh perwujudan A Common Word secara praksis dalam menghadapi Covid-19? Peluang seperti apa yang kita bisa dikembangkan bersama di era new normal pasca pandemik Covid-19 untuk dapat mendorong tumbuhnya gerakan bersama lintas iman yang mendahulukan kepentingan bersama sebagai bangsa Indonesia?

Pertanyaan tersebut adalah sebagian dari pertanyaan yang didiskusikan pada Webinar A Common Word for A Common Good: Questions & Answers, pada 8 Juni 2015. Sesuai judulnya, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi wadah diskusi dan pendalaman topik A Common Word. Banyaknya pertanyaan pada webinar sebelumnya, adalah sebuah indikasi tingginya minat perjumpaan diskusi antarpemimpin agama dengan tokoh lintas agama.

Kegiatan yang berlangsung 2 jam ini, dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh Pdt. Christiana Riyadi dari Gereja Kristen Jawa. Ia menyerukan harapan agar gereja dapat memainkan perannya dengan bijak di dalam bangsa yang majemuk.

Prof. Dr. Alwi Shihab (Senior Fellow, Institut Leimena) dan Pdt. Gomar Gultom, M.Th (Ketua Umum, PGI) hadir sebagai narasumber untuk memberikan respons pada pertanyaan dan tanggapan peserta. Selain mendiskusikan pertanyaan webinar sebelumnya, 140 orang peserta yang hadir juga mendiskusikan pertanyaan baru yang disampaikan secara langsung selama webinar berlangsung. Pdt. Dr. Henriette Tabita Lebang, M.Th (Mantan Ketuam Umum, PGI) dan Pdt. Elifas Maspaitella (Sekretaris Umum, Gereja Protestan Maluku) turut hadir dan memberikan tanggapannya atas konsep A Common Word ini.

140 orang peserta yang hadir, adalah pemimpin dari lembaga gereja dan pendidikan Kristen yang tersebar di wilayah Indonesia mulai dari Sumatera Utara hingga Maluku. Tentu mereka memiliki peran strategis dalam pembinaan umat untuk hidup bersama dengan damai bersama segenap suku bangsa yang berbeda dengan mereka. Kiranya webinar yang telah berlangsung dapat memantik semangat peserta untuk menghidupi prinsip A Common Word, seraya mendaratkannya dalam konteks pelayanan masing-masing.

Seperti yang dituturkan narasumber, biarlah webinar ini membangunkan kembali semangat keagamaan untuk membangun peradaban umat: peradaban yang mengedepankan kualitas hidup, bukan jumlah umat; kelemahlembutan, bukan kekerasan suara; cinta sesama, bukan abai pada suara pinggiran.

Peradaban umat yang mendaratkan cinta pada sesama sebagai bukti gereja yang hidup di tengah-tengah Indonesia, itulah permohonan segenap peserta webinar dalam doa penutup yang dipimpin oleh Pdt. Linus Baito, M.Th, dari Sekolah Tinggi Teologi Aletheia, Malang.

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena