IL News No. 012/2010
oleh Institut Leimena

Pelatihan dalam Advokasi Kebijakan Publik telah dilakukan oleh Center for Policy Analysis (CePA) Institut Leimena dengan bekerja sama dengan YAMARI (Yayasan Marturia Indonesia) pada hari Sabtu, 6 Nopember 2010, pkl 09.00-18.00, di daerah Kemayoran, Jakarta Utara. Sebanyak 42 peserta dari berbagai kalangan ikut terlibat dalam pelatihan ini.

Sejumlah mahasiswa, antara lain mahasiswa Fakultas Hukum dan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, baik dari Universitas Indonesia maupun dari Universitas Pajajaran (Bandung), terlibat aktif dalam pelatihan ini. Juga kaum profesional muda dari berbagai latar belakang profesi, baik lulusan universitas di tanah air serta universitas di mancanegara yang bekerja di Jakarta, mengikuti pelatihan analisa kebijakan ini dengan semangat.

Jakob Tobing, presiden Institut Leimena, mengawali pelatihan dengan menguraikan tentang pentingnya pemahaman Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan berpikir bagi suatu analisa kebijakan. Jakob Tobing menjelaskan pula akan peran strategis analisa kebijakan dalam sistem politik pasca-amandemen UUD 1945.  Beberapa petunjuk Alkitab tentang tujuan advokasi kebijakan serta sikap yang seharusnya ada pada seorang yang melakukan advokasi kebijakan yang diambil dari cerita Yohanes Pembaptis di Injil Lukas, disampaikan oleh Budi Setiamarga dari Center for Policy Analysis (CePA) Insitut Leimena.

Peserta kemudian diajak oleh Matius Ho, direktur eksekutif Institut Leimena, untuk mengenal secara ringkas tentang proses legislasi di Dewan Perwakilan Rakyat di Indonesia, mulai dari proses pengusulan sebuah Rancangan Undang-Undang sampai RUU tersebut disahkan menjadi Undang-Undang. Dua jam terakhir dari pelatihan, peserta diajak untuk melakukan lokakarya dalam pembuatan Policy Memo. Policy Memo adalah suatu tulisan singkat yang berisikan masukan-masukan bagi anggota legislatif, tentang suatu isu tertentu misalnya masukan untuk sebuah RUU.  Lokakarya dipimpin oleh Tobias Basuki, director of Studies Institut Leimena, dengan mengambil studi kasus RUU Pengelolaan Zakat.

Melalui pelatihan-pelatihan semacam ini, diharapkan generasi muda Kristen semakin menyadari akan statusnya sebagai pengikut Kristus dan juga sebagai warganegara Indonesia.  Dengan demikian, umat Kristen makin terdorong untuk ikut berpartisipasi secara konstruktif di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini sebagai garam dan terang Kristus.

Subscribed YouTube WargaNegara

 

IL News No. 028/2011
oleh Institut Leimena

Pendidikan Warga ke-21 Institut Leimena di Bandung, Jawa Barat (19 Agustus 2011)

“Kami telah kehilangan kepercayaan pemerintah. Sungguhkah orang Kristen bisa berdampak dalam keadaan seperti ini?”

“Apakah satu sendok garam dapat memberi dampak pada satu drum besar air?”

“Bagaimana menciptakan anak muda-anak muda yang mencintai bangsa ketika kami telah mengalami banyak ketidakadilan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut para peserta. Wajah mereka menunjukkan kegelisahan, kekecewaan, juga keraguan – apakah sungguh kami bisa melakukan sesuatu bagi bangsa ini?

Mereka adalah sekumpulan pemuda-pemudi Kristen yang tergabung dalam Yayasan Pembinaan dan Pelayanan Alumni Kristen (YPPAK). Para pemuda-pemudi inilah yang menjadi peserta Pendidikan Warga(PW) ke-21 yang dilaksanakan atas kerjasama Institut Leimena dengan YPPAK di aula Sekolah Kristen Yahya Bandung, pada tanggal 19 Agustus 2011 lalu. Mereka berasal dari berbagai daerah di Nusantara : Ambon, Kupang, Palu, Manado, Medan, Jayapura, Biak, Bogor, dan Bandung.

Melalui kegiatan PW ini, Institut Leimena mengajak setiap peserta merawat gagasan tentang NKRI. Peserta diajak menapaki ide-ide Johannes Leimena tentang kewarganegaraan yang bertanggungjawab,  menyelami cita-cita negara Indonesia, memahami amandemen UUD 1945 dan diakhiri dengan 2 sesi workshop.

Pemuda-pemudi ini dengan antusias mengikuti setiap sesi. Mereka tak ragu mengungkapkan pendapat, maupun melontarkan pertanyaan. Dalam kedua sesi workshop, yaitu “Eksposisi Pasal 32 UUD 1945 dan “Belajar Berpikir Secara Konstitusional : Pembahasan RUU Pengelolaan Zakat”, para peserta asik berdiskusi kemudian menyampaikan hasil analisis satu sama lain.

Hal lain yang menarik dalam PW ke-21 ini adalah hadirnya tim pengajar yang terdiri dari 7 orang. Sebelum bertugas di PW-21, tim pengajar ini telah menjalani training pada tanggal 12-14 Agustus 2011. Para pengajar mencoba menerapkan metode active learning, sebuah metode di mana peserta dilibatkan sebanyak mungkin, dalam setiap sesi yang dibawakan.  Metode ini pun bersambut dengan antusiasme peserta. Suasana hidup terbangun sepanjang pelaksanaan kegiatan Pendidikan Warga.

Di akhir kegiatan, para peserta menuliskan manfaat yang mereka peroleh dan rencana tindak lanjut ke depannya. Apakah kekecewaan telah berganti menjadi belas kasihan? Apakah kegelisahan telah berganti menjadi harapan? Apakah api untuk membangun bangsa mulai menyala? Simaklah beberapa kesan para peserta di bawah ini :

Tidak bersikap pesimis atau apatis tetapi mau terlibat untuk menjadi garam dan terang dalam bangsa ini. Kecintaan, kesetiaan dan ketaatan tidak dan tidak boleh kurang daripada orang lain sebagai wujud mengasihi dan taat pada Allah. (Halen Imang - Kupang, NTT, Tenaga Pengajar honorer, aktif di pelayanan perkantas Kupang)

Saya menyadari bahwa saya ditempatkan di tengah-tengah bangsa ini bukan suatu kebetulan dalam arti ada yang perlu dikerjakan (Frans Rumene - Papua, Bergiat di GMKI dan GKI)

Acara ini membuka pikiran saya bahwa negara ini bisa berubah dan untuk terjadinya hal itu tidak bisa hanya menuntut pemerintah saja. Perubahan itu boleh dimulai dari diri saya. (Julianti Stefana Sinaga - Medan)

Saya terinspirasi untuk mulai mengkaji peraturan perundangan di bidang pekerjaan saya (rekayasa lingkungan) dan mulai menginisiasi teman-teman sevisi dan seprofesi untuk melakukan diskusi warga dan diskusi untuk pengajuan pentingnya peraturan lainnya di bidang kami  (Irene B Batoarung – Bandung)

Dari beberapa kesan para peserta di atas, telah terlihat ada tekad-tekad yang dibulatkan, gairah menyala untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa! Segala puji dan syukur kita haturkan kepada-Nya untuk terlaksananya PW ke-21 di Bandung.  Semoga Dia membuat api kita terus menyala!

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena