IL News 006/2014

 

Pendidikan Warga ke-57
Pulau Saparua (Maluku), 31 Maret 2014

 

Pembinaan Politik Warga di 14 Jemaat di lingkungan klasis Pulau-pulau Lease, sinode Gereja Protestan Maluku (GPM), telah dilakukan pada hari Senin, 31 Maret 2014 dari jam 09.30 sampai jam 19.00 WIT di GPM Jemaat Ullath di pulau Saparua. Acara ini dilakukan atas kerjasama Klasis Pulau-pulau Lease di Sinode GPM bersama Institut Leimena. Kebaktian Pembukaan seminar sehari ini dipimpin oleh Pdt. Victor Untailawan, Sekretaris Umum Sinode GPM, yang dilanjutkan dengan pembukaan secara resmi yang dilakukan oleh Pdt. John Ruhulesin, Ketua Umum Sinode GPM. Dalam sambutannya, Pdt. John Ruhulesin mengingatkan jemaat GPM untuk berperan aktif dalam membangun NKRI sebagai garam dan terang Tuhan.

Sekitar 100 orang peserta, yang terdiri dari pendeta, vikaris, penatua, calon legislatif, kepala adat, Angkatan Muda GPM serta jemaat, dengan antusias mengikuti seminar sehari ini. Ada dua topik utama yang disampaikan oleh Budi Setiamarga dan Matius Ho dari Institut Leimena. Topik yang pertama adalah “Berperan dalam Konsolidasi Demokrasi Melalui Pemilu”. Ditekankan betapa pentingnya peran pemilu di Indonesia sebagai instrumen konstitusi untuk pemantapan sistem demokrasi di Indonesia serta pentingnya pengembangan sistem politik berbasiskan partai politik sehingga perlu ada pembenahan sistem kepartaian yang lebih selaras dengan UUD 1945 pasca amandemen. Beberapa hal praktis dibahas juga sebagai bentuk aplikasi dari keterlibatan warga gereja secara aktif dan konstruktif dalam Pileg dan Pilpres 2014.

Topik kedua yang dibahas di seminar ini adalah “Panggilan Birokrat dan Politisi Kristen dalam Rangka Mewujudkan Teladan Etis Moral”. Di dalam sesi ini dibahas beberapa landasan Firman baik dari Perjanjian Lama maupun dari Perjanjian Baru seputar panggilan Orang Kristen untuk ikut terlibat dalam bidang politik yang terkait dengan pengelolaan kehidupan bersama untuk mencapai tujuan bersama. Dengan demikian, keterlibatan di dalam bidang politik bukanlah sekedar upaya perebutan kekuasaan untuk kepentingan pribadi semata melainkan sebagai etika dalam pengaturan kehidupan bersama dalam rangka mengasihi sesama seperti yang ditunjukkan oleh tokoh Alkitab seperti Yusuf di Mesir dan Daniel di Babilonia, serta ajaran Yesus Kristus dan rasul Paulus. Keteladanan dalam keterlibatan di bidang politik di Indonesia juga disampaikan melalui teladan kehidupan Dr. Johannes Leimena di masa lalu yang pernah mengungkapkan bahwa “Umat Kristen tidak dapat membagi kehidupannya dalam dua lapangan yang terpisah sama sekali yaitu kehidupan batin dan kehidupan politik, tapi Kerajaan Allah harus dikabarkan dalam semua lapangan kehidupan, juga dalam lapangan politik.”

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena