IL News No. 011/2011
oleh Institut Leimena

Pada hari Sabtu, 12 Maret 2011, Center for Policy Analysis (CePA) Institut Leimena, dalam kerjasama dengan Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) dan Perkantas Sulawesi Tengah, mengadakan Pendidikan Warga ke 12 bagi kaum muda di kota Palu.  Acara yang dipimpin oleh Budi H. Setiamarga, direktur CePA-IL, ini dihadiri oleh 68 peserta dari berbagai kelompok pemuda dari berbagai gereja seperti misalnya GKST, GKKA, GPPS, GPID, GSJA, GBI, GKI, GT, serta Bala Keselamatan Korps 1 Palu.  Selain itu, peserta juga datang dari beberapa kelompok pelayanan pemuda dan organisasi kemasyarakatan yaitu Perkantas, GMKI, PMKRI dan World Vision International.  Peserta Pendidikan Warga ini terdiri dari mahasiswa serta alumni dari berbagai universitas, antara lain Universitas Tadulako, Politeknik Kesehatan, STIE, STIMIK, dan STT Marturia.  Pendidikan Warga kali ini diadakan di GKST Jemaat Effatha di jalan Banteng, Palu, sebuah gereja yang pernah mengalami tragedi di tahun 2004 yang mengakibatkan meninggalnya pdt. Susianti Tinulele, STh.

Dalam acara Pendidikan Warga ke 12 ini, para pemuda diajak untuk melihat kembali konsensus dasar dimana Negara Kesatuan Republik Indonesia ini didirikan yaitu Pancasila dan UUD 1945.  Peserta diingatkan bahwa Indonesia mempunyai cita-cita yang dinyatakan di Pembukaan UUD 1945 yaitu Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.  Cita-cita tersebut harus diperjuangkan  oleh semua komponen bangsa, termasuk oleh para pemuda Kristen sebagai Warganegara yang Bertanggung Jawab.   Pemuda Kristen harus senantiasa mengingat bahwa mereka dipanggil untuk menjadi Murid Kristus yang berpegang pada Alkitab, serta dipanggil menjadi Warga Negara Indonesia yang berpegang pada Konstitusi Negara yaitu UUD 1945 pasca amandemen.  Dengan demikian, pemuda Kristen harus bertumbuh dalam dimensi vertikal (hubungan dengan Tuhan) dan dimensi horisontal (hubungan dengan sesama).  Keterlibatan pemuda di ruang publik seharusnya adalah dalam rangka untuk mengasihi sesama.  Selain membangun pengertian dasar tentang UUD 1945 Pasca amandemen, peserta juga kemudian diajak untuk berlatih berpikir kritis dan konstitusional melalui diskusi kelompok kecil untuk mengkritisi bersama beberapa pasal dari sebuah Rancangan Undang-Undang.  Bentuk “Diskusi Warga” kemudian ditawarkan kepada peserta sebagai bentuk tindak lanjut yang dapat dilakukan setelah acara Pendidikan Warga ini.

Melihat antusiasme dari kaum muda Palu dalam mengikuti Pendidikan Warga ini, diharapkan mereka dapat makin dibangunkan rasa kebangsaannya sehingga mereka dapat “menularkan” hal itu kepada sekitarnya sehingga terang mereka menjadi lebih efektif bagi sekitarnya.  Benih yang telah ditabur itu, kiranya tidak sia-sia.

 

Subscribed YouTube WargaNegara

 

IL News No. 028/2011
oleh Institut Leimena

Pendidikan Warga ke-21 Institut Leimena di Bandung, Jawa Barat (19 Agustus 2011)

“Kami telah kehilangan kepercayaan pemerintah. Sungguhkah orang Kristen bisa berdampak dalam keadaan seperti ini?”

“Apakah satu sendok garam dapat memberi dampak pada satu drum besar air?”

“Bagaimana menciptakan anak muda-anak muda yang mencintai bangsa ketika kami telah mengalami banyak ketidakadilan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut para peserta. Wajah mereka menunjukkan kegelisahan, kekecewaan, juga keraguan – apakah sungguh kami bisa melakukan sesuatu bagi bangsa ini?

Mereka adalah sekumpulan pemuda-pemudi Kristen yang tergabung dalam Yayasan Pembinaan dan Pelayanan Alumni Kristen (YPPAK). Para pemuda-pemudi inilah yang menjadi peserta Pendidikan Warga(PW) ke-21 yang dilaksanakan atas kerjasama Institut Leimena dengan YPPAK di aula Sekolah Kristen Yahya Bandung, pada tanggal 19 Agustus 2011 lalu. Mereka berasal dari berbagai daerah di Nusantara : Ambon, Kupang, Palu, Manado, Medan, Jayapura, Biak, Bogor, dan Bandung.

Melalui kegiatan PW ini, Institut Leimena mengajak setiap peserta merawat gagasan tentang NKRI. Peserta diajak menapaki ide-ide Johannes Leimena tentang kewarganegaraan yang bertanggungjawab,  menyelami cita-cita negara Indonesia, memahami amandemen UUD 1945 dan diakhiri dengan 2 sesi workshop.

Pemuda-pemudi ini dengan antusias mengikuti setiap sesi. Mereka tak ragu mengungkapkan pendapat, maupun melontarkan pertanyaan. Dalam kedua sesi workshop, yaitu “Eksposisi Pasal 32 UUD 1945 dan “Belajar Berpikir Secara Konstitusional : Pembahasan RUU Pengelolaan Zakat”, para peserta asik berdiskusi kemudian menyampaikan hasil analisis satu sama lain.

Hal lain yang menarik dalam PW ke-21 ini adalah hadirnya tim pengajar yang terdiri dari 7 orang. Sebelum bertugas di PW-21, tim pengajar ini telah menjalani training pada tanggal 12-14 Agustus 2011. Para pengajar mencoba menerapkan metode active learning, sebuah metode di mana peserta dilibatkan sebanyak mungkin, dalam setiap sesi yang dibawakan.  Metode ini pun bersambut dengan antusiasme peserta. Suasana hidup terbangun sepanjang pelaksanaan kegiatan Pendidikan Warga.

Di akhir kegiatan, para peserta menuliskan manfaat yang mereka peroleh dan rencana tindak lanjut ke depannya. Apakah kekecewaan telah berganti menjadi belas kasihan? Apakah kegelisahan telah berganti menjadi harapan? Apakah api untuk membangun bangsa mulai menyala? Simaklah beberapa kesan para peserta di bawah ini :

Tidak bersikap pesimis atau apatis tetapi mau terlibat untuk menjadi garam dan terang dalam bangsa ini. Kecintaan, kesetiaan dan ketaatan tidak dan tidak boleh kurang daripada orang lain sebagai wujud mengasihi dan taat pada Allah. (Halen Imang - Kupang, NTT, Tenaga Pengajar honorer, aktif di pelayanan perkantas Kupang)

Saya menyadari bahwa saya ditempatkan di tengah-tengah bangsa ini bukan suatu kebetulan dalam arti ada yang perlu dikerjakan (Frans Rumene - Papua, Bergiat di GMKI dan GKI)

Acara ini membuka pikiran saya bahwa negara ini bisa berubah dan untuk terjadinya hal itu tidak bisa hanya menuntut pemerintah saja. Perubahan itu boleh dimulai dari diri saya. (Julianti Stefana Sinaga - Medan)

Saya terinspirasi untuk mulai mengkaji peraturan perundangan di bidang pekerjaan saya (rekayasa lingkungan) dan mulai menginisiasi teman-teman sevisi dan seprofesi untuk melakukan diskusi warga dan diskusi untuk pengajuan pentingnya peraturan lainnya di bidang kami  (Irene B Batoarung – Bandung)

Dari beberapa kesan para peserta di atas, telah terlihat ada tekad-tekad yang dibulatkan, gairah menyala untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa! Segala puji dan syukur kita haturkan kepada-Nya untuk terlaksananya PW ke-21 di Bandung.  Semoga Dia membuat api kita terus menyala!

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena