Civis 001/2016

 

(Republika, Selasa 20 Oktober 2015)

 

Tetapi, masalah yang dihadapi oleh dua warisan spiritual Nabi Ibrahim ini adalah bahwa para penganutnya tidak selalu berpegang teguh kepada ajaran-ajaran pokok agama masing-masing dalam urusan hubungan duniawi.

Tidak saja peperangan yang pernah berlaku antara penganut kedua komunitas itu, bahkan perang internal di kalangan pemeluk agama yang sama bukanlah perkara yang tidak pernah terjadi. Di sinilah letaknya ironi agama dalam perjalanan sejarah umat manusia.

Barangkali dalam perspektif inilah Bertrand Russell dengan sinis menulis, “Saya kira seluruh agama besar dunia…semuanya tidak benar dan berbahaya.” (Lihat Bertrand Russell, Why I Am Not a Christian. New York: Simon and Schuster, 1957, hlm v). Kritik serupa ini harus didengar dan diterima sehingga agama tidak boleh menutup pintunya dan siap untuk dipertanyakan oleh sebuah minda kritikal.

Dalam penafsiran saya atas beberapa ayat Alquran, ternyata umat manusia tidak saja harus hidup berdampingan secara damai dengan teman-teman lain agama, bahkan dengan kelompok ateis, sebuah kerja sama dan saling mengerti secara damai menjadi mungkin untuk dibangun. Dalam ungkapan lain, keserasian dan toleransi sosial harus menjadi norma pengikat dalam hidup keseharian manusia.

Fabrik sosial di muka planet bumi yang kecil ini akan berantakan jika keserasian dan toleransi tiba-tiba menghilang. Di antara ayat Alquran itu dengan caranya sendiri menggambarkan peta ini: “Sekiranya Tuhanmu berkehandak, sungguh penduduk bumi seluruhnya telah beriman. Maka, apakah engkau [Muhammad] ingin memaksa manusia agar mereka menjadi umat beriman?” (QS Yunus: 99). Di sinilah, prinsip pilihan bebas dan kemauan bebas dalam batas domain manusia sepenuhnya dijamin dan dipelihara.

Akhirnya, tentang radikalisme untuk Indonesia. Dengan senjata Bhinneka Tunggal Ika dan dengan pemahaman ajaran agama yang benar dan autentik, segala corak dan bentuk radikalisme: agama, sosial, atau politik akan dapat dihadapi secara efektif dengan syarat bahwa prinsip keadilan sosial dapat diwujudkan dalam realitas yang konkret secara sungguh-sungguh.

Jika yang berlaku sebaliknya, bangsa ini masih akan tetap bingung dan rentan dalam membuat peta masa depannya. Sebagai bangsa besar, Indonesia harus berani dengan penuh percaya diri untuk memberi jawaban secara berhasil kepada tantangan yang sedang berada di depan mata.

Catatan kecil, kepada panelis Roberta G. Ahmanson dalam forum dialog, saya membuat pernyataan ini: “Pada waktu-waktu tertentu, saya tidak merasa bahagia tinggal di negeri ini, begitu bejibunnya persoalan yang tidak kunjung teratasi. Keadilan yang dirindukan belum juga menjadi kenyataan di negeri ini. Apakah Anda punya perasaan serupa hidup di Amerika?” Dijawab, “Ya, saya punya perasaan yang sama!”

Rupanya, dalam suasana dunia yang semakin tidak adil dan tidak nyaman ini, ternyata banyak manusia yang merasa tidak bahagia, bukan karena hidup miskin, tetapi karena turut memikirkan nasib penduduk bumi yang masih terasing, menjerit, dan menderita. Akibat perang saudara yang sering berlaku dan kesenjangan sosial-ekonomi antara Timur-Barat, Utara-Selatan di bawah sistem politik-ekonomi yang antikeadilan adalah pemicu utama mengapa sebagian kita sulit untuk dapat merasa hidup bahagia-sentosa.

Artikel telah dimuat dalam Kolom Resonansi, Harian Republika pada tanggal 20 Oktober 2015 dengan judul Kemerdekaan Agama, Toleransi, dan Radikalisme (III). (sumber: www.Republika.co.id )

Penulis

Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif, MA. Pendiri Maarif Institute for Culture and Humanity; Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1999 – 2005); Memperoleh gelar doktor, Chicago University (1993); Program Master, Ohio State University; juga lulusan IKIP Yogyakarta (1968), Universitas Cokroaminoto Surakarta (1964), Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta (1956).

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena