IL News 009/2015

 

Training of Trainer Pendidikan Warga
Mamuju, Sulawesi Barat, 20-22 April 2015

 

Pemikiran bahwa politik itu kotor, dan oleh sebab itu gereja hendaknya menjauhkan diri darinya: sudah usang! Semua aspek kehidupan, termasuk politik: haruslah juga menjadi perhatian orang Kristen. Orang Kristen tidak bisa membagi kehidupannya dalam dua lapangan terpisah: kehidupan batin dan kehidupan politik. Sebagai warga negara yang bertanggung jawab, orang Kristen hendaknya terlibat dalam politik.

Sayangnya, tidak semua orang Kristen sadar akan hal tersebut. Itu sebabnya, orang Kristen perlu ditolong agar menyadari panggilannya untuk ikut terlibat dalam politik.

Didorong oleh kerinduan dalam menolong orang Kristen agar menyadari panggilannya untuk ikut terlibat dalam bidang politik, maka Gereja Toraja Mamasa (GTM) dan Institut Leimena kembali bekerja sama menyelenggarakan Training of Trainers Pendidikan Warga. Acara yang bertempat di Desa Lebbeng, Pesisir Mamuju, Sulawesi Barat ini, berlangsung pada 20-22 April 2015 ini, dan diikuti oleh 17 orang peserta. Seorang peserta bernama Yulianus, yang berasal dari Klasis Tabulahan, menempuh perjalanan kaki selama 7 jam, sebelum akhirnya menggunakan kendaraan roda dua, untuk mengikuti TOT PW.


Peserta mempelajari 4 (empat) modul inti Pendidikan Warga, kemudian praktek menyampaikan modul tersebut di depan peserta lainnya. Bapak Pdt. Madarhakad, Ketua I Sinode GTM, ikut mendampingi dan memotivasi peserta selama acara berlangsung.

Peserta mengikuti TOT PW dengan semangat. “Sadar Politik” menjadi jargon yang didengung-dengungkan peserta selama acara TOT PW berlangsung. Semoga kerinduan peserta untuk menjadi umat Kristen yang “Sadar Politik”, sungguh mewujud nyata!

Kita bisa lebih mengerti dan lebih memahami tentang arti politik yang sesungguhnya. Bahwa politik itu tidak kotor, bahkan alkitabiah. Penyalahgunaan kekuasaanlah yang perlu kita waspadai (Pusparani, Jemaat Elim Lebbeng, Kab. Mamuju)

TOT PW memberikan pengetahuan tentang tanggung jawab sebagai warga negara dan pemahaman kita sebagai orang Kristen terhadap politik. Saya juga belajar bagaimana cara membawakan materi ini kepada jemaat (Pdt. Elianus Lamta, Klasis Pangandaran, Kab. Mamuju)

TOT PW menolong saya untuk memahami arti politik. Membantu dan memotivasi saya untuk menjadi pelaku politik yang baik. Memperlengkapi saya untuk menjadi trainer di klasis dan jemaat dimana saya bertugas, dan klasis-klasis lain yang memungkinkan (Seseltut, Klasis Aralle, Kab. Mamuju)

TOT PW membangun rasa percaya diri saya, membuka mata terhadap sejumlah perubahan, dan memberi penyadaran akan tugas dan tanggung jawab dalam perpolitikan (Pdt. Erwin Marabbang, Klasis Lakahang).

Subscribed YouTube WargaNegara

 

IL News No. 028/2011
oleh Institut Leimena

Pendidikan Warga ke-21 Institut Leimena di Bandung, Jawa Barat (19 Agustus 2011)

“Kami telah kehilangan kepercayaan pemerintah. Sungguhkah orang Kristen bisa berdampak dalam keadaan seperti ini?”

“Apakah satu sendok garam dapat memberi dampak pada satu drum besar air?”

“Bagaimana menciptakan anak muda-anak muda yang mencintai bangsa ketika kami telah mengalami banyak ketidakadilan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut para peserta. Wajah mereka menunjukkan kegelisahan, kekecewaan, juga keraguan – apakah sungguh kami bisa melakukan sesuatu bagi bangsa ini?

Mereka adalah sekumpulan pemuda-pemudi Kristen yang tergabung dalam Yayasan Pembinaan dan Pelayanan Alumni Kristen (YPPAK). Para pemuda-pemudi inilah yang menjadi peserta Pendidikan Warga(PW) ke-21 yang dilaksanakan atas kerjasama Institut Leimena dengan YPPAK di aula Sekolah Kristen Yahya Bandung, pada tanggal 19 Agustus 2011 lalu. Mereka berasal dari berbagai daerah di Nusantara : Ambon, Kupang, Palu, Manado, Medan, Jayapura, Biak, Bogor, dan Bandung.

Melalui kegiatan PW ini, Institut Leimena mengajak setiap peserta merawat gagasan tentang NKRI. Peserta diajak menapaki ide-ide Johannes Leimena tentang kewarganegaraan yang bertanggungjawab,  menyelami cita-cita negara Indonesia, memahami amandemen UUD 1945 dan diakhiri dengan 2 sesi workshop.

Pemuda-pemudi ini dengan antusias mengikuti setiap sesi. Mereka tak ragu mengungkapkan pendapat, maupun melontarkan pertanyaan. Dalam kedua sesi workshop, yaitu “Eksposisi Pasal 32 UUD 1945 dan “Belajar Berpikir Secara Konstitusional : Pembahasan RUU Pengelolaan Zakat”, para peserta asik berdiskusi kemudian menyampaikan hasil analisis satu sama lain.

Hal lain yang menarik dalam PW ke-21 ini adalah hadirnya tim pengajar yang terdiri dari 7 orang. Sebelum bertugas di PW-21, tim pengajar ini telah menjalani training pada tanggal 12-14 Agustus 2011. Para pengajar mencoba menerapkan metode active learning, sebuah metode di mana peserta dilibatkan sebanyak mungkin, dalam setiap sesi yang dibawakan.  Metode ini pun bersambut dengan antusiasme peserta. Suasana hidup terbangun sepanjang pelaksanaan kegiatan Pendidikan Warga.

Di akhir kegiatan, para peserta menuliskan manfaat yang mereka peroleh dan rencana tindak lanjut ke depannya. Apakah kekecewaan telah berganti menjadi belas kasihan? Apakah kegelisahan telah berganti menjadi harapan? Apakah api untuk membangun bangsa mulai menyala? Simaklah beberapa kesan para peserta di bawah ini :

Tidak bersikap pesimis atau apatis tetapi mau terlibat untuk menjadi garam dan terang dalam bangsa ini. Kecintaan, kesetiaan dan ketaatan tidak dan tidak boleh kurang daripada orang lain sebagai wujud mengasihi dan taat pada Allah. (Halen Imang - Kupang, NTT, Tenaga Pengajar honorer, aktif di pelayanan perkantas Kupang)

Saya menyadari bahwa saya ditempatkan di tengah-tengah bangsa ini bukan suatu kebetulan dalam arti ada yang perlu dikerjakan (Frans Rumene - Papua, Bergiat di GMKI dan GKI)

Acara ini membuka pikiran saya bahwa negara ini bisa berubah dan untuk terjadinya hal itu tidak bisa hanya menuntut pemerintah saja. Perubahan itu boleh dimulai dari diri saya. (Julianti Stefana Sinaga - Medan)

Saya terinspirasi untuk mulai mengkaji peraturan perundangan di bidang pekerjaan saya (rekayasa lingkungan) dan mulai menginisiasi teman-teman sevisi dan seprofesi untuk melakukan diskusi warga dan diskusi untuk pengajuan pentingnya peraturan lainnya di bidang kami  (Irene B Batoarung – Bandung)

Dari beberapa kesan para peserta di atas, telah terlihat ada tekad-tekad yang dibulatkan, gairah menyala untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa! Segala puji dan syukur kita haturkan kepada-Nya untuk terlaksananya PW ke-21 di Bandung.  Semoga Dia membuat api kita terus menyala!

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena