IL News 018/2017

Mahkamah Konstitusi bekerja sama dengan Institut Leimena menyelenggarakan kegiatan “Sosialisasi Pemahaman Hak Konstitusional Warga Negara Bagi Pimpinan Organisasi Pemuda Mitra Institut Leimena”. Acara ini dilaksanakan di Pusdiklat MK Cisarua, pada tanggal 15-18 Mei 2017. Total peserta yang terlibat dalam acara ini adalah 150 orang. Peserta merupakan perwakilan dari Biro Pemuda dan Remaja PGI, Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Navigator, Jesus for You (J4U), dan Persekutuan Kristen Antar Universitas (Perkantas). Peserta berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, 34 orang peserta berasal dari Sumatera, 55 orang dari Jawa, 8 orang dari Kalimantan, 28 orang dari Sulawesi, 9 orang dari Maluku, 7 orang dari NTT dan 9 orang dari Bali.

Pembukaan dilakukan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan sambutan dari perwakilan Institut Leimena dan Mahkamah Konstitusi RI. Perwakilan dari Institut Leimena yang turut serta membuka acara adalah Maruarar Siahaan (Senior Fellow, Institut Leimena)dan Budi H. Setiamarga (Direktur Center for Religion and State Studies, Institut Leimena). Perwakilan dari Mahkamah Konstitusi adalah Budi Achmad Djohari (Ketua Pusdiklat Mahkamah Konstitusi RI) dan  M. Guntur Hamzah (Sekretaris Jendral Mahkamah Konstitusi RI).

Setiap sesi didesain untuk meningkatkan pengetahuan peserta mengenai hak-hak konstitusinya sebagai warga negara. Sesi-sesi yang diberikan antara lain,  “Mahkamah Konstitusi dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia” yang dipresentasikan oleh M. Guntur Hamzah, “Wawasan Kebangsaan” oleh Laksda TNI Yani Antariksa (Lemhannas), “Reaktualisasi Implementasi Pancasila” oleh  Gregorius Seto Hariyanto, “Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia” oleh Abdul Gofar, “Sistem Ketatanegaraan menurut Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945” oleh Fajar Laksono, “Negara dalam  Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945” oleh Pan M. Faiz.

Selain dibekali dengan materi, peserta juga diajak untuk melakukan analisis kebijakan melalui case study. Hasil case study masing-masing kelompok dipresentasikan, kemudian dirumuskan menjadi rekomendasi untuk Mahkamah Konstitusi. Acara ditutup dengan melakukan penyerahan sertifikat secara simbolik kepada perwakilan peserta dan  pemberian penghargaan kepada peserta terbaik oleh Budi Achmad Djohari (Mahkamah Konstitusi) dan Budi H. Setiamarga (Institut Leimena).

Subscribed YouTube WargaNegara

 

IL News No. 028/2011
oleh Institut Leimena

Pendidikan Warga ke-21 Institut Leimena di Bandung, Jawa Barat (19 Agustus 2011)

“Kami telah kehilangan kepercayaan pemerintah. Sungguhkah orang Kristen bisa berdampak dalam keadaan seperti ini?”

“Apakah satu sendok garam dapat memberi dampak pada satu drum besar air?”

“Bagaimana menciptakan anak muda-anak muda yang mencintai bangsa ketika kami telah mengalami banyak ketidakadilan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut para peserta. Wajah mereka menunjukkan kegelisahan, kekecewaan, juga keraguan – apakah sungguh kami bisa melakukan sesuatu bagi bangsa ini?

Mereka adalah sekumpulan pemuda-pemudi Kristen yang tergabung dalam Yayasan Pembinaan dan Pelayanan Alumni Kristen (YPPAK). Para pemuda-pemudi inilah yang menjadi peserta Pendidikan Warga(PW) ke-21 yang dilaksanakan atas kerjasama Institut Leimena dengan YPPAK di aula Sekolah Kristen Yahya Bandung, pada tanggal 19 Agustus 2011 lalu. Mereka berasal dari berbagai daerah di Nusantara : Ambon, Kupang, Palu, Manado, Medan, Jayapura, Biak, Bogor, dan Bandung.

Melalui kegiatan PW ini, Institut Leimena mengajak setiap peserta merawat gagasan tentang NKRI. Peserta diajak menapaki ide-ide Johannes Leimena tentang kewarganegaraan yang bertanggungjawab,  menyelami cita-cita negara Indonesia, memahami amandemen UUD 1945 dan diakhiri dengan 2 sesi workshop.

Pemuda-pemudi ini dengan antusias mengikuti setiap sesi. Mereka tak ragu mengungkapkan pendapat, maupun melontarkan pertanyaan. Dalam kedua sesi workshop, yaitu “Eksposisi Pasal 32 UUD 1945 dan “Belajar Berpikir Secara Konstitusional : Pembahasan RUU Pengelolaan Zakat”, para peserta asik berdiskusi kemudian menyampaikan hasil analisis satu sama lain.

Hal lain yang menarik dalam PW ke-21 ini adalah hadirnya tim pengajar yang terdiri dari 7 orang. Sebelum bertugas di PW-21, tim pengajar ini telah menjalani training pada tanggal 12-14 Agustus 2011. Para pengajar mencoba menerapkan metode active learning, sebuah metode di mana peserta dilibatkan sebanyak mungkin, dalam setiap sesi yang dibawakan.  Metode ini pun bersambut dengan antusiasme peserta. Suasana hidup terbangun sepanjang pelaksanaan kegiatan Pendidikan Warga.

Di akhir kegiatan, para peserta menuliskan manfaat yang mereka peroleh dan rencana tindak lanjut ke depannya. Apakah kekecewaan telah berganti menjadi belas kasihan? Apakah kegelisahan telah berganti menjadi harapan? Apakah api untuk membangun bangsa mulai menyala? Simaklah beberapa kesan para peserta di bawah ini :

Tidak bersikap pesimis atau apatis tetapi mau terlibat untuk menjadi garam dan terang dalam bangsa ini. Kecintaan, kesetiaan dan ketaatan tidak dan tidak boleh kurang daripada orang lain sebagai wujud mengasihi dan taat pada Allah. (Halen Imang - Kupang, NTT, Tenaga Pengajar honorer, aktif di pelayanan perkantas Kupang)

Saya menyadari bahwa saya ditempatkan di tengah-tengah bangsa ini bukan suatu kebetulan dalam arti ada yang perlu dikerjakan (Frans Rumene - Papua, Bergiat di GMKI dan GKI)

Acara ini membuka pikiran saya bahwa negara ini bisa berubah dan untuk terjadinya hal itu tidak bisa hanya menuntut pemerintah saja. Perubahan itu boleh dimulai dari diri saya. (Julianti Stefana Sinaga - Medan)

Saya terinspirasi untuk mulai mengkaji peraturan perundangan di bidang pekerjaan saya (rekayasa lingkungan) dan mulai menginisiasi teman-teman sevisi dan seprofesi untuk melakukan diskusi warga dan diskusi untuk pengajuan pentingnya peraturan lainnya di bidang kami  (Irene B Batoarung – Bandung)

Dari beberapa kesan para peserta di atas, telah terlihat ada tekad-tekad yang dibulatkan, gairah menyala untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa! Segala puji dan syukur kita haturkan kepada-Nya untuk terlaksananya PW ke-21 di Bandung.  Semoga Dia membuat api kita terus menyala!

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena