IL News No. 005/2010

Jumat, 6 Agustus 2010, Institut Leimena memfasilitasi pertemuan diskusi terbatas membahas buku yang sedang dikerjakan Dr. Paul Marshall, senior fellow Institut Leimena.  Dr. Marshall menjelaskan secara singkat argumen utama dan isi ringkas dari bukunya (“Silenced: How Freedoms Are Curtailed from Cairo to Copenhagen by New Restrictions on Apostasy and Blasphemy”), yang akan terbit dalam waktu dekat. Salah satu argumen yang dikemukakan Paul Marshall adalah isu penodaan agama lebih sering merupakan cara untuk mempertahankan atau membentuk sebuah kekuatan otoriter politik maupun agama.

Seringkali hukum yang menyangkut penodaan agama hanya menjadi dalih untuk membatasi gerakan-gerakan pembaharuan. Reformator yang bertujuan untuk membawa perubahan seringkali dipenjarakan dan dibungkam dengan dasar yang tidak jelas dan semata-mata untuk mematikan pergerakan lawan politik.  Ajaran Islam merupakan sistem kepercayaan kompleks yang  luas mencakup hal di bidang politik, ekonomi, budaya, pendidikan, keluarga, dan juga personal. Karena itu seringkali pihak yang ingin berkuasa secara otoriter menggunakan wacana penodaan agama semata-mata untuk menjaga totalitas kekuasaannya.

Peserta diskusi diantaranya adalah  As’ad Ali Said (Wakil Ketua NU), Syafi’i Anwar (ketua ICIP), Ismatu Ropi (Peneliti Universitas Islam Negeri), dan juga Moh. Subhi (Wahid Institute).  Para peserta meresponi dengan baik paparan buku dan konklusi yang didapat. Perbedaan pendapat yang ada adalah mengenai kondisi kebebasan beragama di Indonesia. Dalam buku Paul Marshall, Indonesia, tergolong sebagai negara yang kondisi kebebasan beragamanya baik dibandingkan negara-negara Islam lainnya. Namun, Syafi’i Anwar berpandangan bahwa masih banyak yang harus digumuli dan dibahas mengenai kebebasan beragama di Indonesia.  Dari pemikiran ini diharapkan ada kerjasama lebih lanjut antara Institut Leimena, ICIP, dan lembaga lainnya dalam mengembangkan wacana kebebasan beragama di Indonesia.

Subscribed YouTube WargaNegara

 

IL News No. 028/2011
oleh Institut Leimena

Pendidikan Warga ke-21 Institut Leimena di Bandung, Jawa Barat (19 Agustus 2011)

“Kami telah kehilangan kepercayaan pemerintah. Sungguhkah orang Kristen bisa berdampak dalam keadaan seperti ini?”

“Apakah satu sendok garam dapat memberi dampak pada satu drum besar air?”

“Bagaimana menciptakan anak muda-anak muda yang mencintai bangsa ketika kami telah mengalami banyak ketidakadilan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut para peserta. Wajah mereka menunjukkan kegelisahan, kekecewaan, juga keraguan – apakah sungguh kami bisa melakukan sesuatu bagi bangsa ini?

Mereka adalah sekumpulan pemuda-pemudi Kristen yang tergabung dalam Yayasan Pembinaan dan Pelayanan Alumni Kristen (YPPAK). Para pemuda-pemudi inilah yang menjadi peserta Pendidikan Warga(PW) ke-21 yang dilaksanakan atas kerjasama Institut Leimena dengan YPPAK di aula Sekolah Kristen Yahya Bandung, pada tanggal 19 Agustus 2011 lalu. Mereka berasal dari berbagai daerah di Nusantara : Ambon, Kupang, Palu, Manado, Medan, Jayapura, Biak, Bogor, dan Bandung.

Melalui kegiatan PW ini, Institut Leimena mengajak setiap peserta merawat gagasan tentang NKRI. Peserta diajak menapaki ide-ide Johannes Leimena tentang kewarganegaraan yang bertanggungjawab,  menyelami cita-cita negara Indonesia, memahami amandemen UUD 1945 dan diakhiri dengan 2 sesi workshop.

Pemuda-pemudi ini dengan antusias mengikuti setiap sesi. Mereka tak ragu mengungkapkan pendapat, maupun melontarkan pertanyaan. Dalam kedua sesi workshop, yaitu “Eksposisi Pasal 32 UUD 1945 dan “Belajar Berpikir Secara Konstitusional : Pembahasan RUU Pengelolaan Zakat”, para peserta asik berdiskusi kemudian menyampaikan hasil analisis satu sama lain.

Hal lain yang menarik dalam PW ke-21 ini adalah hadirnya tim pengajar yang terdiri dari 7 orang. Sebelum bertugas di PW-21, tim pengajar ini telah menjalani training pada tanggal 12-14 Agustus 2011. Para pengajar mencoba menerapkan metode active learning, sebuah metode di mana peserta dilibatkan sebanyak mungkin, dalam setiap sesi yang dibawakan.  Metode ini pun bersambut dengan antusiasme peserta. Suasana hidup terbangun sepanjang pelaksanaan kegiatan Pendidikan Warga.

Di akhir kegiatan, para peserta menuliskan manfaat yang mereka peroleh dan rencana tindak lanjut ke depannya. Apakah kekecewaan telah berganti menjadi belas kasihan? Apakah kegelisahan telah berganti menjadi harapan? Apakah api untuk membangun bangsa mulai menyala? Simaklah beberapa kesan para peserta di bawah ini :

Tidak bersikap pesimis atau apatis tetapi mau terlibat untuk menjadi garam dan terang dalam bangsa ini. Kecintaan, kesetiaan dan ketaatan tidak dan tidak boleh kurang daripada orang lain sebagai wujud mengasihi dan taat pada Allah. (Halen Imang - Kupang, NTT, Tenaga Pengajar honorer, aktif di pelayanan perkantas Kupang)

Saya menyadari bahwa saya ditempatkan di tengah-tengah bangsa ini bukan suatu kebetulan dalam arti ada yang perlu dikerjakan (Frans Rumene - Papua, Bergiat di GMKI dan GKI)

Acara ini membuka pikiran saya bahwa negara ini bisa berubah dan untuk terjadinya hal itu tidak bisa hanya menuntut pemerintah saja. Perubahan itu boleh dimulai dari diri saya. (Julianti Stefana Sinaga - Medan)

Saya terinspirasi untuk mulai mengkaji peraturan perundangan di bidang pekerjaan saya (rekayasa lingkungan) dan mulai menginisiasi teman-teman sevisi dan seprofesi untuk melakukan diskusi warga dan diskusi untuk pengajuan pentingnya peraturan lainnya di bidang kami  (Irene B Batoarung – Bandung)

Dari beberapa kesan para peserta di atas, telah terlihat ada tekad-tekad yang dibulatkan, gairah menyala untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa! Segala puji dan syukur kita haturkan kepada-Nya untuk terlaksananya PW ke-21 di Bandung.  Semoga Dia membuat api kita terus menyala!

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena