Civis Vol. 2, No. 1, Feb 2010


Menonton berita sekarang ini seperti menonton sinetron. Betapa tidak? Banyak ulah pejabat publik yang tidak hanya membuat malu, tapi membuat bingung, apakah moralitas dan etika masih berlaku di negara yang katanya “ber-Ketuhanan” ini?

Bangsa kita dikenal amat religius. Kalendernya saja banyak tanggalan merah untuk merayakan hari besar agama. Masyarakat kita pun termasuk rajin beribadah. Rumah-rumah ibadah kita belum berubah menjadi museum seperti di banyak negara barat. Tapi mengapa perilaku publik kita tidak lebih baik daripada negara-negara yang dicap sekuler itu? Bukan hanya pejabat negara, tapi juga warganya. Lihat saja kelompok-kelompok yang mengatas namakan agama, tapi tindakannya justru mempermalukan agamanya itu sendiri.

Kesenjangan inilah yang menggelisahkan. Apabila kemunafikan ini semakin mendominasi ranah publik kita, rakyat dapat menjadi skeptis terhadap nilai-nilai agama. Lembaga keagamaan seharusnya menjadi nurani bangsa ini, mengingatkan negara pada komitmen moral untuk melayani seluruh rakyat. Negara ada untuk rakyat, bukan sebaliknya. Peran sebagai struktur penengah (mediasi) antara negara dan rakyat inilah yang dikatakan Berger dan Neuhaus amat penting bagi penguatan demokrasi.

Berangkat dari sini, CIVIS mengundang para tokoh intelektual untuk menyoroti peran agama-agama dalam kehidupan bernegara. Edisi ini tidak mungkin membahas tuntas topik yang amat luas ini, namun berupaya ikut mendorong wacana lintas agama dalam merumuskan bersama hubungan agama dan negara ini. Di sinilah peringatan Buya Syafii Maarif akan pentingnya ketulusan dalam beragama menjadi penting. Ketika agama tergoda kekuasaan negara, ketulusan digantikan kemunafikan demi kepentingan pribadi. Pembantaian di jaman NAZI menjadi peringatan sejarah ketika gereja (baca: lembaga keagamaan) terbawa arus kekuasaan negara.

Alkitab juga mengingatkan bahayanya kolusi agama dan negara. Ketika Yesus diadili Gubernur Pontius Pilatus dihadapan rakyat Yahudi, yang mendorong penyaliban Yesus adalah para imam sendiri. Walaupun tidak terbukti bersalah, Pilatus terpaksa menyalibkan Yesus. Negara dan agama mengkhianati kebenaran dan keadilan demi langgengnya kekuasaan. Dan Anda tahu tuduhan para imam ketika itu terhadap Yesus? Penodaan agama.

Matius Ho

Pemimpin Redaksi