IL News 015/2015

 

Seminar Sehari Kerjasama IL – GBKP – MUI SUMUT – UIN SU
Medan, Sumatera Utara. 4 September 2015

 

Institut Leimena, bersama-sama Moderamen GBKP (Gereja Batak Karo Protestan), MUI Sumut (Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara), UIN-SU (Universitas Islam Negeri Sumatera Utara), telah mengadakan Seminar Sehari yang bertemakan “Membangun Kerjasama Lintas Agama Mengatasi Radikalisasi Agama” pada hari Jumat, 4 September 2015, pkl. 09.30 sd 15.00. Kegiatan ini diadakan di Ruang Pertemuan Gedung Pusat Bahasa Arab di kampus UIN-SU Medan. Seminar ini dihadiri oleh sekitar 70 orang peserta yang terdiri dari perwakilan berbagai kelompok keagamaan, antara lain Gereja Batak Karo Protestan, PGIW Sumut, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PDHI), Jamaah Achmadiyah, Hizbut Tahrir Indonesia, GMKI Medan, Baha’i Indonesia, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dsb.

Seminar sehari ini dikemas dalam bentuk diskusi panel yang melibatkan lima nara sumber yaitu Dr. Paul Marshall (Senior Fellow Institut Leimena dan Center for Religious Freedom, Hudson Institute, USA), Dr. Phil. Zainul Fuad, MA (UIN Sumut), Dr. Arifinsyah, MA (MUI Sumut), Pdt Dr. Erick Barus (GBKP, STT Abdi Sabda Medan), Drs. Jakob Tobing, MPA (Presiden Institut Leimena). Secara resmi, seminar sehari ini dibuka oleh Wakil Rektor III UIN-SU, Prof. Dr. Ilhamuddin, MA. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya untuk menjadi keluarga Indonesia yang menjalin persahabatan antar sesama warganegara.


Setelah pemaparan Dr. Paul Marshall dan Drs. Jakob Tobing yang berkaitan dengan tema seminar, Dr. Arinsyah dari MUI-Sumut menyampaikan tentang perlunya pola penafsiran ayat Kitab Suci seputar radikalisasi agama yang sesuai konteks masa kini, sehingga pesan Kitab Suci menjadi lebih bersifat moderat mengingat bahwa Indonesia adalah rumah besar bersama. Jaringan lintas agama menjadi penting sebagai sarana sharing informasi. Pdt. Dr. Erick Barus dari Sekolah Tinggi Teologia Abdi Sabda Medan menekankan pentingnya dikembangkan refleksi teologis yang dapat dipakai sebagai pedoman untuk melangkah ke masa depan. Ditekankan juga tentang pentingnya mengedepankan nilai-nilai religius dan pendekatan bottom-up sehingga jangan sampai terjadi dimana kalangan elit agama bersatu tetapi kalangan grass root-nya berantakan. Dr. Phil. Zainul Fuad, M.A. dari UIN-SU menekankan akan pentingnya dikembangkannya ikatan sosial di ruang publik. Pancasila dapat dikembangkan sebagai “Public Religion” yaitu sebagai pedoman bersama di ruang publik. Ajakan kemudian disampaikan untuk mempelajari agama secara transendental, sehingga betul-betul agama dipahamai secara spiritualitas dan bukan formalitas semata.

Berbagai pertanyaan dan tanggapan kritis disampaikan oleh peserta yang pada prinsipnya merindukan Indonesia yang lebih kondusif untuk kehidupan beragama yang majemuk yang tentu saja memerlukan kerjasama lintas agama dalam mengatasi radikalisasi agama.

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena