IL News 021/2014

 

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kristen Petra Surabaya mengundang Institut Leimena untuk ikut serta membuka wawasan politik dan hukum bagi 30 aktivis BEM pada hari Selasa, 14 Oktober 2014. Dalam kesempatan ini, Jakob Tobing, presiden Institut Leimena, membagikan pengalamannya berkecimpung selama lebih dari 35 tahun di dunia politik di Indonesia. Sesi ini dilanjutkan dengan diskusi kelompok kecil seputar amandemen UUD 1945 serta diskusi bersama yang difasilitasi oleh Matius Ho dan Budi Setiamarga.

Pusat Studi Etika dan Sosioreligiositas Universitas Kristen Petra Surabaya yang diketuai oleh Linda Bustan, memfasilitasi Diskusi Kebebasan Beragama pada hari Rabu, 15 Oktober 2014. Diskusi terbatas ini dihadiri oleh sekitar 25 orang peserta, antara lain rektor UK Petra, Prof. Dr. Ir. Rolly Intan, serta beberapa pimpinan dan dosen dari Universitas Kristen Petra, Universitas Ciputra, Seminari Alkitab Asia Tenggara, Sekolah Tinggi Alkitab Nusantara, STT Aletheia, GMKI, serta utusan dari gereja-gereja di Surabaya. Nara sumber dari Diskusi Kebebasan Beragama ini adalah Dr. Paul Marshall, Senior Fellow Institut Leimena, serta Matius Ho, Direktur Eksekutif Institut Leimena.

Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengadakan Seminar dan Workshop bagi sekitar 300 mahasiswa dari prodi PPKN pada hari Kamis, 16 Oktober 2014 dengan tema “Agama dan Kekuasaan – Upaya Membangun Pemahaman Religius dan Toleran”. Nara sumber dari acara ini adalah Dr. Paul Marshall (Senior Fellow Institut Leimena-Jakarta dan Hudson Institute, Washington DC) dengan topik bahasan “Kebebasan Beragama dan Radikalisme Umat Beragama”. Nara sumber kedua adalah Matius Ho, MA (Direktur Eksekutif Institut Leimena) yang menyampaikan tentang “Kebebasan Beragama dan Konstitusi”. Nara sumber ketiga adalah Khoirul Rosyadi, PhD (Lulusan dari People’s Friendship University of Russia) yang membahas tentang “Agama dan Kekuasaan – Komparasi Indonesia dan Rusia”.

Subscribed YouTube WargaNegara

 

IL News No. 028/2011
oleh Institut Leimena

Pendidikan Warga ke-21 Institut Leimena di Bandung, Jawa Barat (19 Agustus 2011)

“Kami telah kehilangan kepercayaan pemerintah. Sungguhkah orang Kristen bisa berdampak dalam keadaan seperti ini?”

“Apakah satu sendok garam dapat memberi dampak pada satu drum besar air?”

“Bagaimana menciptakan anak muda-anak muda yang mencintai bangsa ketika kami telah mengalami banyak ketidakadilan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut para peserta. Wajah mereka menunjukkan kegelisahan, kekecewaan, juga keraguan – apakah sungguh kami bisa melakukan sesuatu bagi bangsa ini?

Mereka adalah sekumpulan pemuda-pemudi Kristen yang tergabung dalam Yayasan Pembinaan dan Pelayanan Alumni Kristen (YPPAK). Para pemuda-pemudi inilah yang menjadi peserta Pendidikan Warga(PW) ke-21 yang dilaksanakan atas kerjasama Institut Leimena dengan YPPAK di aula Sekolah Kristen Yahya Bandung, pada tanggal 19 Agustus 2011 lalu. Mereka berasal dari berbagai daerah di Nusantara : Ambon, Kupang, Palu, Manado, Medan, Jayapura, Biak, Bogor, dan Bandung.

Melalui kegiatan PW ini, Institut Leimena mengajak setiap peserta merawat gagasan tentang NKRI. Peserta diajak menapaki ide-ide Johannes Leimena tentang kewarganegaraan yang bertanggungjawab,  menyelami cita-cita negara Indonesia, memahami amandemen UUD 1945 dan diakhiri dengan 2 sesi workshop.

Pemuda-pemudi ini dengan antusias mengikuti setiap sesi. Mereka tak ragu mengungkapkan pendapat, maupun melontarkan pertanyaan. Dalam kedua sesi workshop, yaitu “Eksposisi Pasal 32 UUD 1945 dan “Belajar Berpikir Secara Konstitusional : Pembahasan RUU Pengelolaan Zakat”, para peserta asik berdiskusi kemudian menyampaikan hasil analisis satu sama lain.

Hal lain yang menarik dalam PW ke-21 ini adalah hadirnya tim pengajar yang terdiri dari 7 orang. Sebelum bertugas di PW-21, tim pengajar ini telah menjalani training pada tanggal 12-14 Agustus 2011. Para pengajar mencoba menerapkan metode active learning, sebuah metode di mana peserta dilibatkan sebanyak mungkin, dalam setiap sesi yang dibawakan.  Metode ini pun bersambut dengan antusiasme peserta. Suasana hidup terbangun sepanjang pelaksanaan kegiatan Pendidikan Warga.

Di akhir kegiatan, para peserta menuliskan manfaat yang mereka peroleh dan rencana tindak lanjut ke depannya. Apakah kekecewaan telah berganti menjadi belas kasihan? Apakah kegelisahan telah berganti menjadi harapan? Apakah api untuk membangun bangsa mulai menyala? Simaklah beberapa kesan para peserta di bawah ini :

Tidak bersikap pesimis atau apatis tetapi mau terlibat untuk menjadi garam dan terang dalam bangsa ini. Kecintaan, kesetiaan dan ketaatan tidak dan tidak boleh kurang daripada orang lain sebagai wujud mengasihi dan taat pada Allah. (Halen Imang - Kupang, NTT, Tenaga Pengajar honorer, aktif di pelayanan perkantas Kupang)

Saya menyadari bahwa saya ditempatkan di tengah-tengah bangsa ini bukan suatu kebetulan dalam arti ada yang perlu dikerjakan (Frans Rumene - Papua, Bergiat di GMKI dan GKI)

Acara ini membuka pikiran saya bahwa negara ini bisa berubah dan untuk terjadinya hal itu tidak bisa hanya menuntut pemerintah saja. Perubahan itu boleh dimulai dari diri saya. (Julianti Stefana Sinaga - Medan)

Saya terinspirasi untuk mulai mengkaji peraturan perundangan di bidang pekerjaan saya (rekayasa lingkungan) dan mulai menginisiasi teman-teman sevisi dan seprofesi untuk melakukan diskusi warga dan diskusi untuk pengajuan pentingnya peraturan lainnya di bidang kami  (Irene B Batoarung – Bandung)

Dari beberapa kesan para peserta di atas, telah terlihat ada tekad-tekad yang dibulatkan, gairah menyala untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa! Segala puji dan syukur kita haturkan kepada-Nya untuk terlaksananya PW ke-21 di Bandung.  Semoga Dia membuat api kita terus menyala!

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena