FORMULIR REGISTRASI
Webinar Internasional Seri Literasi Keagamaan Lintas Budaya
dalam Rangka Merayakan Hari Lahir Pancasila
Merajut Keberagaman: Nilai Pancasila sebagai Jiwa Pemersatu Bangsa
Diselenggarakan oleh
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Hukum Kementerian Hukum Republik Indonesia dan Institut Leimena
Didukung oleh
Templeton Religion Trust
JUMAT, 29 MEI 2026
Pukul 19.00 – 21.00 WIB
Disiapkan terjemahan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris
“…dunia saat ini ditandai dengan meningkatnya polarisasi sosial dan politik. Tatanan dunia yang berlabuh pada nilai-nilai bersama yang diungkapkan dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia sedang melemah. Dunia kita menghadapi krisis nilai yang dibuktikan dengan maraknya korupsi, sikap tidak bertenggang rasa, intoleransi dan kefanatikan buta, serta normalisasi terhadap kekerasan.” -Mengimajinasikan Kembali Masa Depan Kita Bersama (2021), sebuah laporan dari Komisi Internasional untuk Masa Depan Pendidikan, UNESCO.
Keberagaman Indonesia adalah anugerah sekaligus tantangan yang memerlukan pengelolaan terarah. Kunci masyarakat sehat adalah social trust (kepercayaan sosial); “perekat tak terlihat” yang memungkinkan kerja sama dan supremasi hukum. Kepercayaan ini berakar pada human dignity (martabat manusia), yaitu pengakuan atas nilai intrinsik setiap individu tanpa memandang label identitas. Keduanya saling menopang: human dignity menjadi landasan social trust, dan social trust melindungi human dignity guna menjamin kehidupan yang harmonis dan berkelanjutan.
Dalam konteks ini, Pancasila hadir sebagai fondasi nilai yang tidak hanya menjaga persatuan, tetapi juga menegaskan penghormatan terhadap kemanusiaan yang adil dan beradab dalam kehidupan yang majemuk. Inilah keunikan yang dirajut dan dipertahankan melalui Pancasila. Nilai-nilai Pancasila memiliki pengaruh kuat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menegaskan pentingnya mengimplementasikan Pancasila sebagai pendekatan di setiap sektor untuk menjaga inklusivitas melalui sikap toleran terhadap perbedaan keyakinan, kecintaan pada keberagaman budaya, serta penguatan persatuan dan kesatuan nasional.
Selaras dengan itu, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Hukum Kementerian Hukum Republik Indonesia melalui Kampus Pengayoman Pancasila memprioritaskan pembentukan karakter berbasis Pancasila yang tidak hanya teoritis, tetapi menekankan kerangka moral keadilan sosial untuk menciptakan agen perekat bangsa yang menjunjung tinggi martabat kemanusiaan.
Sejalan dengan hal tersebut, pendekatan LKLB yang telah menjangkau lebih dari 11,000 guru dari 38 provinsi di Indonesia hadir sebagai salah satu upaya menerjemahkan dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dengan penekanan pada nilai inklusif dan kohesif akan keberagaman masyarakat Indonesia. Program ini terbukti mampu membangun relasi dan kerja sama lintas agama yang positif, sejalan dengan prinsip keharmonisan sosial dalam Pancasila, dengan menjunjung tinggi human dignity serta memperkuat social trust sebagai fondasi utamanya.
Oleh karena itu, dalam memperingati Hari Lahir Pancasila, Institut Leimena bersama dengan BPSDM Hukum Kementerian Hukum Republik Indonesia menyelenggarakan Webinar Internasional seri LKLB bertema “Merajut Keberagaman: Nilai Pancasila sebagai Jiwa Pemersatu Bangsa”. Hal ini penting dalam meningkatkan pemahaman bagaimana nilai-nilai Pancasila bisa diterapkan dalam masyarakat yang majemuk untuk memperkukuh kepercayaan sosial yang terancam oleh politik identitas, ketakutan akan perbedaan (xenophobia), penyebaran kebencian, dan berbagai ajaran yang tidak toleran.
Prof. Dr. Edward Omar Sharif Hiariej, S.H., M.Hum., Wakil Menteri Hukum Republik Indonesia, akan membuka sesi dengan menyampaikan ceramah kunci pembuka. Ibu Gusti Ayu Putu Suwardani, Bc.IP., S.H., M.Si., akan mengulas keterkaitan antara Pancasila dan dinamika sosial-kultural dalam masyarakat Indonesia. Prof. Brett G. Scharffs akan membahas konsep human dignity sebagai fondasi penting dalam penguatan nilai-nilai Pancasila, khususnya dalam membangun social trust di tengah keberagaman. Prof. Dr. M. Amin Abdullah akan menguraikan relasi antara Pancasila dan LKLB sebagai pendekatan yang relevan dalam memperkuat kehidupan berbangsa yang inklusif. Prof. Katherine Marshall akan memaparkan perspektif global mengenai peran vital literasi keagamaan lintas budaya dalam memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat majemuk, khususnya dalam menghadapi meningkatnya xenofobia di dunia. Dr. Agus Sudrajat, S.Sos., M.A. akan mengulas peluang dan tantangan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa melalui penguatan peran ASN sebagai perekat bangsa. Melalui strategi pembinaan ASN yang adaptif, termasuk penguatan wawasan kebangsaan dan literasi keagamaan lintas budaya, sesi ini diharapkan dapat memberikan gambaran praktis mengenai internalisasi nilai Pancasila sebagai “ideologi yang bekerja” demi mewujudkan masyarakat yang harmonis dan inklusif.
Sambutan Pembuka:
Matius Ho
Direktur Eksekutif, Institut Leimena
Pembicara Kunci:
Prof. Dr. Edward Omar Sharif Hiariej, S.H., M.Hum.
Wakil Menteri Hukum Republik Indonesia
Pembicara:
Gusti Ayu Putu Suwardani, Bc.IP., S.H., M.Si.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Hukum, Kementerian Hukum Republik Indonesia
Prof. Brett G. Scharffs
Direktur, Pusat Internasional untuk Studi Hukum dan Agama, Fakultas Hukum Brigham Young University
Prof. Dr. M. Amin Abdullah
Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila
Prof. Katherine Marshall
Vice President, G20 Interfaith Forum
Dr. Agus Sudrajat, S.Sos., M.A.
Deputi Bidang Peningkatan Kualitas Kebijakan Administrasi Negara, Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN)
Moderator:
Dr. RD Edy Santoso, S.T., M.H.
Dosen Sekolah Pasca Sarjana Universitas Pakuan Bogor
@institutleimena
@lklbid
Responsible Citizenship
in Religious Society
Ikuti update Institut Leimena
@institutleimena
@lklbid
