✉ info@leimena.org    +62 811 1088 854

Hybrid Upgrading Workshop Literasi Keagamaan Lintas Budaya (HUW LKLB) dibuka oleh Kepala Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Sulsel, Imran Sinong, dan Direktur Eksekutif Institut Leimena, serta dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulsel, Ali Yafid, diadakan di kantor BBPMP Provinsi Sulsel pada 22-25 Juli 2026.

Makassar, IL News – Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Sulawesi Selatan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI bekerja sama dengan Institut Leimena mengadakan lokakarya untuk meningkatkan kompetensi guru dalam hal Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB).

Kepala BBPMP Provinsi Sulsel, Imran Sinong, menyambut positif kerja sama pelaksanaan Program LKLB di Sulsel yang sejalan dengan partisipasi semesta untuk mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua. Kegiatan ini juga merupakan implementasi dari kebijakan pendidikan yang telah diinstruksikan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Nomor 6 tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN).

“Salah satu prinsip dalam pendidikan adalah partisipasi semesta, sehingga kebijakan atau regulasi tidak bisa jalan sendiri. Literasi Keagamaan Lintas Budaya ini sangat relevan sebagai implementasi dari Budaya Sekolah Aman dan Nyaman,” kata Imran dalam Pembukaan Hybrid Upgrading Workshop (HUW) Literasi Keagamaan Lintas Budaya yang diadakan di Aula BBPMP Provinsi Sulsel, Rabu (22/7/2026).

Lokakarya ini dihadiri juga oleh Plt Kepala Dinas Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel, Anshar, dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulsel, Ali Yafid.

Imran mengatakan BBPMP memiliki tugas penjaminan mutu pendidikan berdasarkan standar pelayanan minimal pendidikan. BBPMP juga melakukan upaya pengembangan model penjaminan mutu, sehingga dalam konteks itu, pelatihan LKLB juga bisa dikembangkan sebagai portfolio bagi para guru.

“Standar pelayanan minimal ini tidak hanya indeks literasi, numerasi, angka partisipasi, dan lainnya, tapi yang menarik juga ada indeks kebhinekaan, indeks inklusivitas, dan indeks keamanan, ini sangat terkait erat dengan LKLB,” lanjut Imran.

Peserta HUW LKLB melakukan kunjungan dan dialog ke Vihara Girinaga, yang merupakan vihara tertua dan terbesar di Makassar untuk memperkuat kompetensi komparatif LKLB dalam rangka menumbuhkan empati lewat dialog mengenai ajaran agama lain langsung dengan pemeluknya.

.

2.000 Guru Provinsi Sulsel

Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan Program LKLB telah diluncurkan sejak tahun 2021 berkolaborasi dengan lebih dari 40 lembaga pendidikan dan keagamaan. Program LKLB mencakup pelatihan dasar secara daring selama 5 hari dilanjutkan pelatihan lanjutan berupa lokakarya secara luring di berbagai kota di Indonesia.

Jumlah guru yang telah mengikuti pelatihan dasar Program LKLB di Indonesia sebanyak 11.000 guru dari 38 provinsi, termasuk diantaranya 2.000 guru dari Provinsi Sulawesi Selatan.

“Di awal tahun 2026, kami melakukan audiensi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dengan Bapak Menteri dan khususnya Pusat Penguatan Karakter, dirasa perlu untuk mengupayakan agar pendekatan LKLB juga dapat mendukung tercapainya Budaya Sekolah Aman dan Nyaman,” kata Matius.

Matius mengatakan guru memiliki peran strategis untuk mendidik generasi muda membangun budaya toleransi, menghormati perbedaan, bahkan lebih dari pada itu, siap bekerja sama dengan orang yang berbeda agama dan latar belakang. Itu sebabnya, Program LKLB sangat relevan sebagai salah satu implementasi BSAN.

Matius menjelaskan tiga kompetensi yang dilatih dalam LKLB adalah, pertama, kompetensi pribadi, yaitu bagaimana seseorang memahami agama sendiri dengan baik dan benar dalam hubungan dengan orang lain. Kedua, kompetensi komparatif, yaitu mengenal agama yang berbeda dari kacamata penganutnya agar mampu berempati. Ketiga, kompetensi komparatif, yaitu kemampuan bekerja sama dengan orang lain yang berbeda.

“Namanya juga beda agama, pasti ada perbedaan yang tidak bisa menjadi sama, bahkan tidak boleh disama-samakan, tapi di situlah kita belajar menghargai perbedaan dan tetap bisa bekerja sama untuk kebaikan bersama,” ujar Matius.

Para guru melakukan praktik microteaching setelah menyusun rencana pembelajaran atau program sekolah berbasis nilai-nilai LKLB.

.

Sementara itu, Plt. Kepala Bidang PTK Kependidikan Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel, Ashar, mengatakan BSAN adalah perwujudan dari pendidikan karakter untuk membangun lingkungan belajar yang kondusif bagi semua siswa. Itu artinya, BSAN juga mengembangkan penghormatan terhadap keberagaman baik agama dan budaya.

“Sekolah harus menjamin keberagaman, membangun budaya aman dan nyaman bagi warga sekolah. Ini menjadi dasar kita untuk mengembangkan berbagai kebijakan di dinas pendidikan,” kata Ashar.

Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Susel, Ali Yafid, mengatakan Program LKLB sejalan dengan Asta Protas (Asta Prioritas) yaitu delapan program utama Kementerian Agama. Ia menjelaskan LKLB dan upaya membangun kerukunan umat beragama masuk ke dalam ranah budaya untuk membangun peradaban.

“Literasi yang menyangkut keagamaan lintas budaya ini sangat berkembang di Sulawesi Selatan. Kami sudah menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta di seluruh madrasah di Sulsel karena ini penting agar membuahkan rasa aman, damai, dan sejuk di lembaga pendidikan,” kata Ali.

Lokakarya LKLB di Makassar dilaksanakan selama empat hari pada 22-25 Juli 2026 diikuti 34 guru lintas agama jenjang SMA dari berbagai wilayah di Provinsi Sulawesi Selatan yaitu kota Makassar, Palopo, Parepare, serta kabupaten seperti Maros, Bone, Jeneponto, Wajo, Gowa, Enrekang, Pinrang, dan Toraja Utara. [IL/Chr]

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena

@institutleimena

@lklbid

@institutleimena

@lklbid

✉ info@leimena.org
+62 811 1088 854
Loading...