Kunjungan Institut Leimena ke Vientiane, Laos, dipimpin oleh Direktur Eksekutif, Matius Ho, untuk melakukan sejumlah pertemuan diantaranya dengan Director General of Religious and Ethnic Affairs, Office of the Prime Minister of Lao PDR, Sonsamai Vorasane (kemeja putih), serta jajaran deputi dirjen dan kepala divisi pada 3 Maret 2026.
Jakarta, IL News – Institut Leimena melakukan kunjungan awal (preliminary trip) ke Laos dan Kamboja untuk menjajaki kerja sama Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) dengan berbagai lembaga dan organisasi di kedua negara tersebut. Kunjungan yang diadakan pada 1-7 Maret 2026 ini adalah upaya konkret untuk memperluas jangkauan Program LKLB, yang saat ini telah masuk dalam Visi Komunitas ASEAN 2045 untuk mewujudkan masyarakat ASEAN yang inklusif dan kohesif.
Di Laos, Institut Leimena difasilitasi secara langsung oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Vientiane untuk bertemu sejumlah mitra pada 1-4 Maret 2026. Institut Leimena diwakili oleh Direktur Eksekutif, Matius Ho, bersama Senior Program Manager, Puansari Siregar, dan Program Officer, Mishael Arviano.
Institut Leimena melakukan pertemuan dengan perwakilan dari empat lembaga yaitu Direktorat Jenderal Urusan Etnis dan Keagamaan di bawah Kantor Perdana Menteri Laos, Lao Front for National Development (LFND) selaku organisasi massa tingkat nasional, National University of Laos (NUOL), dan perwakilan dari Kementerian Informasi, Budaya, dan Pariwisata Laos.
“Selama berada di Laos, delegasi Institut Leimena mendapat sambutan baik dari KBRI di Vientiane. KBRI yang diwakili Kuasa Usaha Ad Interim, Bapak Achmad Dahlan, turut membantu memfasilitasi sejumlah pertemuan dengan para pemangku kepentingan setempat,” kata Matius Ho kepada IL News.
Pertemuan Institut Leimena dengan Direktur Urusan Keagamaan Lao Front for National Development, Khamyad Rasdavong (kelima dari kiri), dilakukan pada 2 Maret 2026. Rangkaian pertemuan di Laos ini difasilitasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Vientiane dengan didampingi Kuasa Usaha Ad-Interim (KUAI), Achmad Dahlan (kelima dari kanan).
Matius menjelaskan Laos memiliki keberagaman dengan sekitar 50 kelompok etnis dan empat bahasa. Negara itu menyadari pentingnya membangun kerukunan dan memastikan keadilan bagi seluruh kelompok masyarakat, termasuk kelompok paling kecil. Kunjungan Institut Leimena diharapkan bisa mendorong kerja sama secara konkret agar hubungan Indonesia dan Laos semakin erat dan harmonis.
Di kantor Perdana Menteri Laos, rombongan Institut Leimena diterima oleh Direktur Jenderal Urusan Etnis dan Keagamaan, Sonsamai Volasarn, bersama jajarannya diantaranya dua Deputi Dirjen, Khamngieng Sengsoulia, dan Phongthisouk, pada 3 Maret 2026. Mereka mengapresiasi Program LKLB Indonesia dan mendorong realisasi kerja sama dengan Pemerintah Laos.
“Dirjen Sonsamai menyambut baik ajakan kerja sama Program LKLB dan akan melaporkan ke Perdana Menteri,” kata Matius.
Sehari sebelumnya, pada 2 Maret 2026, Institut Leimena melakukan pertemuan dengan Direktur Urusan Keagamaan di Lao Front for National Development (LFND), Khamyad Rasdavong, beserta jajarannya. Dalam pertemuan tersebut, LFND menyampaikan apresiasi atas berbagai inisiatif yang telah dilakukan serta menyambut baik potensi kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama.
Di Phnom Penh, Kamboja, Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, melakukan pertemuan dengan Secretary of State Ministry of Cult and Religion, Yob Ashkary (kanan), pada 5 Maret 2026.
ICCCRL dan Immersion
Setelah menyelesaikan rangkaian pertemuan di Laos, rombongan Institut Leimena melanjutkan kunjungan ke Phnom Penh, Kamboja, dengan agenda serupa untuk menjajaki peluang kerja sama dengan berbagai pihak. Baik dalam pertemuan di Laos maupun Kamboja, Institut Leimena mengundang setiap pihak yang ditemui untuk hadir dalam International Conference on Cross-Cultural Religious Literacy (ICCCRL) yang akan diadakan akhir tahun 2026 dan mengirimkan delegasi untuk mengikuti CCRL Immersion Program dalam rangka mempelajari Program LKLB secara langsung di Indonesia.
Pertemuan di Phnom Penh dilakukan dengan sejumlah pejabat dari Kementerian Agama dan Kepercayaan (Ministry of Cult and Religion) antara lain Secretary of State (pejabat setara Direktur Jenderal), Yob Ashkary, Undersecretary of State, Viseis La, Khan Khon, dan San Samphoss, Direktur Kerja Sama Internasional, Keo Khanteymethea, dan Direktur Bidang Keagamaan, Sophanara Khan. Selain itu, Institut Leimena juga melakukan pertemuan dengan Wakil Rektor Preah Sihanouk Raja Buddhist University, Dr. Sim Saran, beserta jajarannya.
Kamboja merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Buddha, dengan moto negara “Nation, Religion, and King”, menggambarkan agama sebagai salah satu hal mendasar dalam kehidupan bernegara.
Institut Leimena juga diterima dengan baik oleh Wakil Rektor Preah Sihanouk Raja Buddhist University, yang merupakan universitas Buddha terkemuka di Phnom Penh, Dr. Sim Saran, beserta jajarannya.
Kunjungan Institut Leimena ke Laos dan Kamboja diharapkan dapat memperluas kolaborasi pengembangan program LKLB di kawasan Asia Tenggara. Pada akhirnya mampu mendukung upaya kolektif kawasan sebagaimana termuat dalam dokumen ASEAN 2045: Our Shared Future antara lain untuk “meningkatkan kerja sama dan dialog untuk memperkuat budaya toleransi dan moderasi, mempromosikan budaya pluralisme dan kewarganegaraan yang bertanggung jawab”.
Sejalan dengan itu, penguatan pemahaman lintas budaya dan agama akan mendorong terciptanya dialog yang konstruktif, memperkuat rasa saling percaya, serta berkontribusi dalam membangun kerja sama yang lebih erat dan stabilitas sosial di kawasan Asia Tenggara. [IL/Mis/Chr]
Responsible Citizenship
in Religious Society
Ikuti update Institut Leimena
@institutleimena
@lklbid
@institutleimena
@lklbid
