FORMULIR REGISTRASI
Webinar Internasional Seri Literasi Keagamaan Lintas Budaya
dalam Rangka Merayakan Hari ASEAN
Literasi Keagamaan Lintas Budaya untuk Kohesi Sosial dan Perdamaian di Asia Tenggara
Diselenggarakan oleh
Sasakawa Peace Foundation dan Institut Leimena
Didukung oleh
Templeton Religion Trust
Kamis, 6 Agustus 2026
Pukul 19.00 – 21.00 WIB
Disiapkan terjemahan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris
Asia Tenggara secara global diakui sebagai kawasan dengan pluralisme tinggi. Keberagaman agama, budaya, bahasa, dan identitas sosiologis menjadi pilar fundamental identitas setiap negara sekaligus tantangan sosiopolitik terbesar dan modalitas sosial paling berharga di kawasan ini. Dalam konteks kompleksitas itulah Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) terbentuk pada 8 Agustus 1967 melalui Deklarasi Bangkok, yang kemudian berevolusi dari wadah rekonsiliasi politik menjadi arsitektur regional yang komprehensif. Evolusi tersebut kini diwujudkan dalam Cetak Biru dokumen Visi Komunitas ASEAN 2045. Dokumen tersebut menempatkan terciptanya masyarakat yang damai, kohesif, dan inklusif sebagai prioritas. Komitmen regional tidak lagi sekadar normatif karena terminologi Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) telah diadopsi secara formal melalui Langkah Strategis 9.7 dalam Cetak Biru Komunitas Politik-Keamanan ASEAN 2045 yang mengamanatkan pelaksanaan program LKLB dan penguatan dialog antarpemangku kepentingan sebagai metodologi utama kawasan untuk menyuntikkan budaya damai, toleransi, dan saling pengertian antarkeyakinan di Asia Tenggara.
Perjuangan di Asia Tenggara tersebut memiliki keselarasan visi yang sangat kuat dengan nilai-nilai kemanusiaan yang diperjuangkan oleh Sasakawa Peace Foundation (SPF). Sebagai lembaga “think-and-do-tank” global asal Jepang, SPF memiliki komitmen mendalam untuk membangun fondasi kepercayaan di Asia melalui penguatan kapasitas masyarakat sipil dalam resolusi konflik, sebagaimana dijelaskan dalam portal kebijakan The Sasakawa Peace Foundation – Asia Unit. Bahkan, pada April 2026, SPF mendirikan pusat mediasi khusus yang mengedepankan pendekatan sosiokultural lokal dalam pengelolaan konflik regional.
Di Indonesia, pendekatan LKLB terbukti sukses melatih lebih dari 11.000 pendidik dari 38 provinsi melalui kolaborasi lintas sektor. Pendekatan LKLB dipercaya mampu membekali masyarakat dengan kompetensi untuk mengikis prasangka, membangun hubungan lintas iman yang positif, dan menanamkan kesadaran kritis akan indahnya diversitas. Melalui LKLB, kohesi publik dirawat diwujudkan sebagai praktik sehari-hari demi terciptanya tatanan kehidupan yang damai. Oleh karena itu, dalam rangka memperingati Hari ASEAN serta mengakselerasi perwujudan ekosistem regional yang inklusif dan harmonis, penyelenggaraan Webinar Internasional Seri LKLB bertema “Literasi Keagamaan Lintas Budaya untuk Kohesi Publik dan Perdamaian di Asia Tenggara” ini akan berperan krusial. Forum internasional ini diselenggarakan sebagai wadah diseminasi global untuk mengontekstualisasikan semangat Hari ASEAN, mengawinkan pelajaran berharga dari program perdamaian SPF di kawasan Asia lainnya, serta membagikan pengalaman LKLB sebagai strategi global yang efektif dalam membangun perdamaian di tengah keberagaman demi mewujudkan masyarakat dunia yang damai, kohesif, dan inklusif.
Sesi akan dibuka oleh Y.M. Duta Besar Ina H. Krisnamurthi, Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dengan menyampaikan ceramah kunci pembuka. Jin Fujimoto akan membagikan pengalaman dalam membangun perdamaian melalui program-program yang dilakukan, serta mengapa pendekatan LKLB menjadi instrumen yang krusial bagi masa depan kawasan ASEAN. Kemudian, Assoc. Prof. Lan Hoang akan membahas upaya yang dilakukan, termasuk LKLB, untuk menguatkan perdamaian, harmoni dan kohesi sosial.
Prof. Abdulcader M. Ayo, Ph.D., Sh.L., JD akan mengulas pendidikan damai berkelanjutan yang dilakukan dalam universitas dan komunitas termasuk kaitannya dengan LKLB sebagai pendekatan dalam Fundamental Peace of Education. Selanjutnya, La Viseis akan berbicara tentang kebijakan publik dalam merawat toleransi dan kohesi sosial, dan bagaimana LKLB bisa membantu memperkuat kolaborasi lintas agama.
Prof. Tan-Oon Seng akan memaparkan pendekatan strategis terhadap pendidikan karakter untuk memperkuat kohesi sosial dan kedamaian. Sebagai penutup sesi, Yuyun Wahyuningrum, M.A. akan membahas relevansi penerapan LKLB di Asia Tenggara serta signifikansinya dalam memperkuat perdamaian dan kohesi sosial sebagaimana tercermin dalam Visi Komunitas ASEAN 2045.
Sambutan Pembuka:
Maho Nakayama
Direktur Program Peacebuilding, Sasakawa Peace Foundation
Matius Ho
Direktur Eksekutif, Institut Leimena
Pembicara Kunci:
Y.M. Duta Besar Ina H. Krisnamurthi
Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia
Pembicara:
Jin Fujimoto
Peneliti, Koordinator Program Peacebuilding, Sasakawa Peace Foundation
Assoc. Prof. Hoang Thi Lan
Direktur Jenderal, Institute of Ethnicity and Religions, Ho Chi Minh National Academy of Politics, Viet Nam
Prof. Abdulcader M. Ayo, Ph.D., Sh.L., JD
Wakil Rektor Eksekutif, Universitas Negeri Mindanao, Filipina
La Viseis
Wakil Sekretaris Negara, Kementerian Kebudayaan dan Agama, Kerajaan Kamboja
Prof. Tan Oon-Seng
Direktur, Singapore Centre for Character and Citizenship Education, National Institute of Education, Singapura
Yuyun Wahyuningrum, M.A.
Peneliti, International Institute of Social Studies (ISS), Erasmus University Rotterdam
Moderator:
Wahyu Triningsih
Guru, SD IT Ar-Risalah Surakarta, Alumni LKLB
@institutleimena
@lklbid
Responsible Citizenship
in Religious Society
Ikuti update Institut Leimena
@institutleimena
@lklbid
