Civis 003/2012

Manusia Terpelajar

 

Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.

– Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia –

 

Tugas kaum terpelajar adalah mengabdi pada masyarakat. Namun, alih-alih mengabdi pada masyarakat, ternyata banyak kebiasaan cacat yang mencoreng status elit ini. Mulai dari tawuran, peredaran narkoba, gaya hidup hedonis-pragmatis, apatis terhadap persoalan-persoalan masyarakat, hingga perilaku korup merupakan “wajah lain” dari mereka. Wajar saja bila tumbuh kesangsian dari masyarakat terhadap kaum terpelajar yang dijargonkan sebagai agen perubahan.

Pertanyaannya, mengapa wajah yang cacat tersebut makin kentara tanpa rasa jengah? Bukankah para cendekiawan seharusnya mampu mengejawantahkan intelektual dan hati nuraninya untuk membangun masyarakat? Bahkan, Bung Hatta pernah menandaskan—dalam pidatonya berjudul “Tanggung Jawab Moral Kaum Intelegensia” pada 11 Juni 1957—bahwa tanggung jawab seorang akademikus adalah intelektual dan moral (Cendekiawan dan Politik, LP3ES, 1983: 3).

Karena kondisi itulah, menengok kembali dan merenungkan tindak-tanduk para kaum terpelajar di rumah sewa yang terletak di jalan Kramat Raya nomor 106 (Gedung Kramat 106), 84 tahun silam, adalah suatu permenungan yang berharga. Suatu upaya untuk menghimpun serpihan-serpihan intelektual dan moral yang telah terserakkan tanpa malu di masa kini.

 

Kosmetik Pengetahuan

 

Pengetahuan merupakan kosmetik kaum terpelajar. Kata “kosmetik” di sini dapat merujuk pada kata “kosmos” (Yunani) yang dapat dimaknai sebagai tatanan atau keteraturan. Jadi, pengetahuan merupakan suatu tatanan atau keteraturan yang berkaitan dengan proses belajar atau pendidikan.

Jika demikian, kaum terpelajar perlu mengasah pengetahuannya guna menata diri dan segala sesuatu di luar dirinya, termasuk alam dan kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks itulah, “intelektual dan moral” yang ditegaskan Hatta serupa dengan “adil dalam pikiran dan perbuatan” yang dikumandangkan Pramoedya.

Dengan kata lain, pengetahuan bukanlah melulu mengedepankan aspek akal, tetapi juga kedalaman jiwa seorang terpelajar. Tujuannya, agar kaum terpelajar dapat menyumbangkan segenap kemampuan mereka untuk menata kekayaan alam dan hidup bermasyarakat dengan sejujur-jujurnya, seadil-adilnya, dan sehormat-hormatnya.

Sayangnya, kosmetik pengetahuan ini mengalami penyempitan makna bila kita mau merefleksikannya secara jujur dengan kenyataan dewasa ini. Pengetahuan hanya menjadi sekadar riasan luar kaum terpelajar agar tampil kenes atau menaikkan gengsi status sosial seseorang. Tengok saja fenomena menjamurnya beli ijazah atau komersialisasi pendidikan tanpa mutu yang jelas.

Di lain pihak, penyempitan makna juga terjadi ketika si terpelajar hanya menekankan pada salah satu aspek saja, entah akal ataupun jiwa (moral). Sebetulnya keadaan ini memiliki bahaya laten karena dipengaruhi secara halus oleh motif, kepentingan, dan semangat zaman. Bisa jadi si terpelajar terlihat pandai atau saleh, tapi keropos di dalam dirinya. Dan, kondisi tersebut hanya membuahkan tatanan alam dan masyarakat yang kaos.

Karena alasan itulah, bukanlah suatu yang mengagetkan dan berlebihan jika di masa lampau para pemuda telah memasukkan topik pendidikan sebagai salah satu agenda rapat dalam kongres pemuda kedua 84 tahun silam di Gedung Kramat 106.

 

Gedung Kramat 106

 

Awalnya Gedung Kramat 106 adalah sebuah pemondokan (commensalen huis) para anggota Jong Java. Namun, sejak tahun 1926 penghuninya mulai beragam dan berasal dari berbagai macam suku dan perguruan tinggi. Di antaranya, Amir Sjarifuddin, Muhammad Yamin, Assaat dt Moeda, A.K. Gani, Aboe Hanifah, Mohammad Tamzil, Roesmali, Ferdinand Lumban Tobing, dan Koentjoro Porbopranoto.

Dalam Buku Panduan Museum Sumpah Pemuda (2012), diceritakan bahwa keragaman penghuni tersebut mendorong lahirnya konsep persatuan nasional. Dan, konsep tersebut menjadi landasan bagi kegiatan dan diskusi para pelajar dan mahasiswa penghuni gedung tersebut, termasuk kegiatan kepanduan, olahraga, pembentukan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), hingga menetapkan hasil Kongres Pemuda Kedua tanggal 28 Oktober 1928.

Bila kita boleh sederhanakan, rapat Kongres Pemuda Kedua ini terdiri dari tiga agenda: hal persatuan dan kebangsaan Indonesia, pendidikan, dan kepanduan. Dan tampaknya, tema pendidikan merupakan unsur yang penting sehingga perlu dirapatkan tersendiri. Para pembicaranya adalah  Poernomowoelan, S. Mangoensarkoro, Djoko Sarwono, dan Ki Hadjar Dewantara yang berbicara mengenai pendidikan di Indonesia, sekolah rendah, pendidikan anak yang menakut-nakuti, lima aturan kebangsaan, memanjakan anak, persamaan derajat perempuan dan laki-laki, kawin paksa, pendidikan anak di rumah, hingga pendidikan model Taman Siswa.

Dari berbagai topik pembicaraan tersebut kita dapat melihat bahwa benang merahnya adalah pendidikan anak. Bagi Poernomowoelan, kerharmonisan keluarga adalah hal yang terutama dalam “lima aturan kebangsaan” perihal pendidikan anak. Hal ini menarik dan penting karena bila kita renungkan ternyata mereka sudah memiliki konsep pendidikan yang berkelanjutan.

Artinya, keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat perlu mendapat perhatian utama. Jika keluarga berantakan, maka masyarakat pun akan terkena dampaknya. Dengan kata lain, menata masyarakat dimulai dengan menata keluarga sendiri. Dan, penataan keluarga sendiri tidak bisa bersifat suka-suka karena perlu dilakukan dalam konteks hidup bermasyarakat.

Tentu pemaknaan ini mendapat tantangannya di masa sekarang dengan coraknya yang individualistis dan fanatik. Namun, kita tetap dapat meneladani semangat kaum terpelajar dalam rapat di Gedung Kramat 106 itu, salah satunya adalah mendidik generasi berikutnya. Barangkali menjadi manusia terpelajar adalah menjadi manusia yang menata generasi berikutnya dengan segenap akal dan jiwa dalam cara pandang kemasyarakatan.

Dengan kata lain, mencerdaskan masyarakat (generasi berikut) adalah yang terutama karena membangun masyarakat berarti juga membangun diri (dan keluarga). Itulah tanggung jawab manusia-manusia terpelajar!

Penulis

Yulius Tandyanto. Esais, bergiat di www.komunitasubi.wordpress.com

Subscribed YouTube WargaNegara

 

IL News No. 028/2011
oleh Institut Leimena

Pendidikan Warga ke-21 Institut Leimena di Bandung, Jawa Barat (19 Agustus 2011)

“Kami telah kehilangan kepercayaan pemerintah. Sungguhkah orang Kristen bisa berdampak dalam keadaan seperti ini?”

“Apakah satu sendok garam dapat memberi dampak pada satu drum besar air?”

“Bagaimana menciptakan anak muda-anak muda yang mencintai bangsa ketika kami telah mengalami banyak ketidakadilan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut para peserta. Wajah mereka menunjukkan kegelisahan, kekecewaan, juga keraguan – apakah sungguh kami bisa melakukan sesuatu bagi bangsa ini?

Mereka adalah sekumpulan pemuda-pemudi Kristen yang tergabung dalam Yayasan Pembinaan dan Pelayanan Alumni Kristen (YPPAK). Para pemuda-pemudi inilah yang menjadi peserta Pendidikan Warga(PW) ke-21 yang dilaksanakan atas kerjasama Institut Leimena dengan YPPAK di aula Sekolah Kristen Yahya Bandung, pada tanggal 19 Agustus 2011 lalu. Mereka berasal dari berbagai daerah di Nusantara : Ambon, Kupang, Palu, Manado, Medan, Jayapura, Biak, Bogor, dan Bandung.

Melalui kegiatan PW ini, Institut Leimena mengajak setiap peserta merawat gagasan tentang NKRI. Peserta diajak menapaki ide-ide Johannes Leimena tentang kewarganegaraan yang bertanggungjawab,  menyelami cita-cita negara Indonesia, memahami amandemen UUD 1945 dan diakhiri dengan 2 sesi workshop.

Pemuda-pemudi ini dengan antusias mengikuti setiap sesi. Mereka tak ragu mengungkapkan pendapat, maupun melontarkan pertanyaan. Dalam kedua sesi workshop, yaitu “Eksposisi Pasal 32 UUD 1945 dan “Belajar Berpikir Secara Konstitusional : Pembahasan RUU Pengelolaan Zakat”, para peserta asik berdiskusi kemudian menyampaikan hasil analisis satu sama lain.

Hal lain yang menarik dalam PW ke-21 ini adalah hadirnya tim pengajar yang terdiri dari 7 orang. Sebelum bertugas di PW-21, tim pengajar ini telah menjalani training pada tanggal 12-14 Agustus 2011. Para pengajar mencoba menerapkan metode active learning, sebuah metode di mana peserta dilibatkan sebanyak mungkin, dalam setiap sesi yang dibawakan.  Metode ini pun bersambut dengan antusiasme peserta. Suasana hidup terbangun sepanjang pelaksanaan kegiatan Pendidikan Warga.

Di akhir kegiatan, para peserta menuliskan manfaat yang mereka peroleh dan rencana tindak lanjut ke depannya. Apakah kekecewaan telah berganti menjadi belas kasihan? Apakah kegelisahan telah berganti menjadi harapan? Apakah api untuk membangun bangsa mulai menyala? Simaklah beberapa kesan para peserta di bawah ini :

Tidak bersikap pesimis atau apatis tetapi mau terlibat untuk menjadi garam dan terang dalam bangsa ini. Kecintaan, kesetiaan dan ketaatan tidak dan tidak boleh kurang daripada orang lain sebagai wujud mengasihi dan taat pada Allah. (Halen Imang - Kupang, NTT, Tenaga Pengajar honorer, aktif di pelayanan perkantas Kupang)

Saya menyadari bahwa saya ditempatkan di tengah-tengah bangsa ini bukan suatu kebetulan dalam arti ada yang perlu dikerjakan (Frans Rumene - Papua, Bergiat di GMKI dan GKI)

Acara ini membuka pikiran saya bahwa negara ini bisa berubah dan untuk terjadinya hal itu tidak bisa hanya menuntut pemerintah saja. Perubahan itu boleh dimulai dari diri saya. (Julianti Stefana Sinaga - Medan)

Saya terinspirasi untuk mulai mengkaji peraturan perundangan di bidang pekerjaan saya (rekayasa lingkungan) dan mulai menginisiasi teman-teman sevisi dan seprofesi untuk melakukan diskusi warga dan diskusi untuk pengajuan pentingnya peraturan lainnya di bidang kami  (Irene B Batoarung – Bandung)

Dari beberapa kesan para peserta di atas, telah terlihat ada tekad-tekad yang dibulatkan, gairah menyala untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa! Segala puji dan syukur kita haturkan kepada-Nya untuk terlaksananya PW ke-21 di Bandung.  Semoga Dia membuat api kita terus menyala!

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena