IL News No. 013/2011
oleh Institut Leimena

Kuliah Umum di Tentena-Kabupaten Poso-Sulawesi Tengah, telah dilaksanakan pada hari Kamis, 17 Maret 2011, mulai pukul 09.00 sd 13.00 berdasarkan kerjasama antara Institut Leimena dengan Universitas Kristen Tentena (Unkrit) dan Sekolah Tinggi Theologia (STT) GKST Tentena.  Universitas Kristen Tentena (Unkrit) adalah sebuah universitas yang baru berdiri pada tahun 2007 sedangkan STT GKST Tentena sudah lama berdiri.  Kedua perguruan tinggi ini berada dibawah naungan Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST).  Peletakan batu pertama pembangunan kampus Unkrit dilakukan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2007.  Kuliah umum dilaksanakan di Gedung Rektorat Unkrit lantai dua dan  dihadiri oleh sekitar 200 orang mahasiswa dan dosen dari Unkrit dan STT Tentena.

Kuliah Umum ini diawali oleh kata sambutan dari Rektor Unkrit Frans Sowolino, SE, MSi  dan dra. Lis Saino, MSi, ketua STT  GKST Tentena.  Kuliah Umum dilaksanakan dalam dua sesi.  Pada sesi pertama, Budi H. Setiamarga, PhD., Director, Center for Policy Analysis (CePA) Institut Leimena menyampaikan tentang “Tanggung Jawab Umat Kristen sebagai Warganegara dalam Membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia”.  Dalam kuliahnya, Budi mengawali dengan pengenalan akan visi, misi dan kegiatan Institut Leimena yang dilanjutkan dengan konsep Warga Negara yang Bertanggung Jawab dimana penting bagi umat Kristen untuk menyadari akan panggilannya, baik sebagai Murid Kristus maupun sebagai WNI.  Kedua panggilan ini tidak dapat dipisahkan.  Untuk itu, di satu pihak orang Kristen harus mengembangkan pola berpikir sebagai Murid Kristus yang berdasarkan Alkitab.  Di lain pihak, dalam kiprah di konteks NKRI, dasar Konstitusi NKRI yaitu Pancasila dan UUD 45 haruslah dipahami juga sehingga aplikasi iman menjadi lebih nyata, antara lain dalam bentuk advokasi kebijakan publik.

Pada sesi kedua, Dr. Maruarar Siahaan, S.H., Hakim Konstitusi 2003-2009 dan Chairman dari CIC-Jure (Center for Indonesian Constitutional Jurisprudence) menyoroti tentang “Warga Negara, Warga Gereja, dan Tanggung Jawab Pembangunan Bangsa”.  Dalam kuliahnya, Maruarar menekankan pentingnya Konstitusi dalam sebuah negara sebagai konsensus nasional.  Melalui amandemen UUD 45 dari tahun 1999 sd 2002, ditegaskan kembali tentang pentingnya demokrasi konstitusional serta perubahan bentuk negara dari negara totaliter sebelum amandemen UUD 45, menjadi negara demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah India dan Amerika Serikat setelah amandemen UUD 45.  Perubahan sistem ketatanegaraan pasca amandemen UUD 45 dijelaskan, termasuk keberadaan Mahkamah Konstitusi (MK).

Kuliah Umum ini mendapat sambutan yang baik dari peserta kuliah yang ditunjukkan dengan banyaknya komentar dan pertanyaan yang diajukan.  Diharapkan semua peserta kuliah umum ini dapat lebih sadar akan panggilannya, baik sebagai warga gereja maupun sebagai Warga Negara Indonesia, untuk membangun masa depan Indonesia.

 

 

Subscribed YouTube WargaNegara

 

IL News No. 028/2011
oleh Institut Leimena

Pendidikan Warga ke-21 Institut Leimena di Bandung, Jawa Barat (19 Agustus 2011)

“Kami telah kehilangan kepercayaan pemerintah. Sungguhkah orang Kristen bisa berdampak dalam keadaan seperti ini?”

“Apakah satu sendok garam dapat memberi dampak pada satu drum besar air?”

“Bagaimana menciptakan anak muda-anak muda yang mencintai bangsa ketika kami telah mengalami banyak ketidakadilan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut para peserta. Wajah mereka menunjukkan kegelisahan, kekecewaan, juga keraguan – apakah sungguh kami bisa melakukan sesuatu bagi bangsa ini?

Mereka adalah sekumpulan pemuda-pemudi Kristen yang tergabung dalam Yayasan Pembinaan dan Pelayanan Alumni Kristen (YPPAK). Para pemuda-pemudi inilah yang menjadi peserta Pendidikan Warga(PW) ke-21 yang dilaksanakan atas kerjasama Institut Leimena dengan YPPAK di aula Sekolah Kristen Yahya Bandung, pada tanggal 19 Agustus 2011 lalu. Mereka berasal dari berbagai daerah di Nusantara : Ambon, Kupang, Palu, Manado, Medan, Jayapura, Biak, Bogor, dan Bandung.

Melalui kegiatan PW ini, Institut Leimena mengajak setiap peserta merawat gagasan tentang NKRI. Peserta diajak menapaki ide-ide Johannes Leimena tentang kewarganegaraan yang bertanggungjawab,  menyelami cita-cita negara Indonesia, memahami amandemen UUD 1945 dan diakhiri dengan 2 sesi workshop.

Pemuda-pemudi ini dengan antusias mengikuti setiap sesi. Mereka tak ragu mengungkapkan pendapat, maupun melontarkan pertanyaan. Dalam kedua sesi workshop, yaitu “Eksposisi Pasal 32 UUD 1945 dan “Belajar Berpikir Secara Konstitusional : Pembahasan RUU Pengelolaan Zakat”, para peserta asik berdiskusi kemudian menyampaikan hasil analisis satu sama lain.

Hal lain yang menarik dalam PW ke-21 ini adalah hadirnya tim pengajar yang terdiri dari 7 orang. Sebelum bertugas di PW-21, tim pengajar ini telah menjalani training pada tanggal 12-14 Agustus 2011. Para pengajar mencoba menerapkan metode active learning, sebuah metode di mana peserta dilibatkan sebanyak mungkin, dalam setiap sesi yang dibawakan.  Metode ini pun bersambut dengan antusiasme peserta. Suasana hidup terbangun sepanjang pelaksanaan kegiatan Pendidikan Warga.

Di akhir kegiatan, para peserta menuliskan manfaat yang mereka peroleh dan rencana tindak lanjut ke depannya. Apakah kekecewaan telah berganti menjadi belas kasihan? Apakah kegelisahan telah berganti menjadi harapan? Apakah api untuk membangun bangsa mulai menyala? Simaklah beberapa kesan para peserta di bawah ini :

Tidak bersikap pesimis atau apatis tetapi mau terlibat untuk menjadi garam dan terang dalam bangsa ini. Kecintaan, kesetiaan dan ketaatan tidak dan tidak boleh kurang daripada orang lain sebagai wujud mengasihi dan taat pada Allah. (Halen Imang - Kupang, NTT, Tenaga Pengajar honorer, aktif di pelayanan perkantas Kupang)

Saya menyadari bahwa saya ditempatkan di tengah-tengah bangsa ini bukan suatu kebetulan dalam arti ada yang perlu dikerjakan (Frans Rumene - Papua, Bergiat di GMKI dan GKI)

Acara ini membuka pikiran saya bahwa negara ini bisa berubah dan untuk terjadinya hal itu tidak bisa hanya menuntut pemerintah saja. Perubahan itu boleh dimulai dari diri saya. (Julianti Stefana Sinaga - Medan)

Saya terinspirasi untuk mulai mengkaji peraturan perundangan di bidang pekerjaan saya (rekayasa lingkungan) dan mulai menginisiasi teman-teman sevisi dan seprofesi untuk melakukan diskusi warga dan diskusi untuk pengajuan pentingnya peraturan lainnya di bidang kami  (Irene B Batoarung – Bandung)

Dari beberapa kesan para peserta di atas, telah terlihat ada tekad-tekad yang dibulatkan, gairah menyala untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa! Segala puji dan syukur kita haturkan kepada-Nya untuk terlaksananya PW ke-21 di Bandung.  Semoga Dia membuat api kita terus menyala!

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena