IL News No. 015/2010
oleh Institut Leimena

Pada hari Sabtu, 4 Desember 2010, Center for Policy Analysis (CePA) Institut Leimena memfasilitasi sebuah pertemuan informal dalam bentuk makan malam bersama yang dilanjutkan dengan diskusi santai.  Topik diskusi yang dipilih adalah seputar upaya kaderisasi generasi muda untuk Indonesia di masa mendatang.  Acara ini diikuti oleh 18 orang pemuda dari beberapa universitas di Bandung yang terlibat di Perkantas (Persekutuan Kristen Antar Universitas), GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), LPMI (Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia), Para Navigator, PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) Institut Teknologi Bandung dan PMK-Universitas Pajajaran Bandung.  Diskusi ini dipandu oleh Budi Setiamarga dari CePA, Institut Leimena, dan  Ivan Pandapotan Purba, aktivis sospol di Jawa Barat.    Pertemuan ini, selain tempat untuk ngobrol dan ajang perkenalan antar aktivis pemuda, juga dimanfaatkan untuk bertukar pikiran tentang apa-apa yang bisa dikembangkan secara bersama di masa mendatang untuk membangun Indonesia yang lebih baik.  Beberapa ringkasan hasil diskusinya adalah sebagai berikut:

  1. Setiap kelompok organisasi pemuda perlu mempertahankan keunikan dan kekuatannya,  tetapi untuk bidang yang dirasa kurang, maka organisasi pemuda tersebut bisa mencoba bekerja sama dengan kelompok pemuda yang  lainnya.  Misalnya, Perkantas cukup kuat di sisi Pemahaman Alkitab (sisi teks) sedangkan GMKI mempunyai kelebihan di aspek aplikasi sospol (sisi konteks), maka perlu diusahakan supaya ada kerjasama antar kelompok sehingga terjadi sinergi yang saling menguntungkan supaya  pelayanan masing-masing organisasi pemuda bisa menjadi lebih berdaya guna dan berhasil guna.
  2. Kaderisasi pemuda perlu dilakukan dengan pola pengkaderan/pemuridan yang lebih kontekstual, dengan aspek yang lebih seimbang antara teks dan konteks.  Pemuda harus dilatih untuk lebih kritis dengan masalah konteks sekitar, dengan tetap mempunyai fondasi Alkitab yang kuat.
  3. Pertemuan dan diskusi  antar kelompok pemuda perlu secara berkala diadakan untuk menjalin persahabatan dan kerjasama antar kelompok sehingga masing-masing kelompok bisa makin berkembang dengan lebih baik.  Untuk itu, mulai awal bulan Februari 2011, akan diadakan pertemuan kelompok diskusi selanjutnya untuk menindak lanjuti pertemuan ini.  Dalam pertemuan-pertemuan mendatang, akan dicoba untuk mengajak juga kelompok-kelompok pemuda yang lainnya yang belum sempat hadir dalam pertemuan kali ini sehingga hubungan persahabatan dan persekutuan antar kelompok pemuda akan makin terjalin dengan baik dan konstruktif.
  4. Melalui pertemuan-pertemuan mendatang, para pemuda perlu memikirkan lebih jauh untuk mengembangkan  grand design dalam kaderisasi.  Disarankan supaya gereja harus terlibat secara aktif dalam grand design kaderisasi ini.  Kerjasama yang sinergis antara gereja-gereja dan lembaga-lembaga pelayanan di seluruh Indonesia perlu ditingkatkan.  Alangkah baiknya kalau ada upaya yang intentional dari pelbagai pihak untuk memikirkan aspek kaderisasi pemuda tersebut sehingga grand design yang lebih komprehensif dapat dikembangkan dalam kebersamaan antar gereja dan lembaga pelayanan.
  5. Dalam grand design kaderisasi pemuda, jangan hanya difokuskan untuk mempertahankan sistem kerja, tetapi yang harus diupayakan adalah pencapaian visi dan misi.  Sistem kerja bukanlah harga mati, melainkan sistem kerja harus bisa lebih dibuat fleksibel untuk diarahkan dalam mencapai visi dan misi yang lebih luas dan mendasar.
  6. Para senior haruslah secara intentional meluangkan waktu untuk ikut terlibat secara aktif dalam upaya kaderisasi pemuda dengan cara memfasilitasi dan meluangkan waktu.  Walaupun demikian, keterlibatan secara intentional tersebut harus dilakukan dalam suatu grand design yang lebih terstruktur dan terarah.

 

Secara umum, diskusi berjalan dengan baik dan konstruktif.  Semangat dan antusiasisme peserta diskusi terlihat jelas.   Doakan supaya apa yang sedang dicoba dikembangkan di Bandung  ini nantinya dapat menjadi suatu model pengembangan di daerah-daerah lainnya!  Kalau kaderisasi pemuda di Indonesia dapat berlangsung dengan baik dan terarah, maka peran pemuda untuk menjadi garam dan terang dunia  dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia dan membangun kesaksian umat percaya untuk masa mendatang akan makin baik.  Mari kita bersama-sama belajar untuk menjadi Warganegara yang  bertanggung jawab  dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia yang lebih baik!

Diskusi Pemuda, Bandung

Diskusi Pemuda, Bandung

Subscribed YouTube WargaNegara

 

IL News No. 028/2011
oleh Institut Leimena

Pendidikan Warga ke-21 Institut Leimena di Bandung, Jawa Barat (19 Agustus 2011)

“Kami telah kehilangan kepercayaan pemerintah. Sungguhkah orang Kristen bisa berdampak dalam keadaan seperti ini?”

“Apakah satu sendok garam dapat memberi dampak pada satu drum besar air?”

“Bagaimana menciptakan anak muda-anak muda yang mencintai bangsa ketika kami telah mengalami banyak ketidakadilan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut para peserta. Wajah mereka menunjukkan kegelisahan, kekecewaan, juga keraguan – apakah sungguh kami bisa melakukan sesuatu bagi bangsa ini?

Mereka adalah sekumpulan pemuda-pemudi Kristen yang tergabung dalam Yayasan Pembinaan dan Pelayanan Alumni Kristen (YPPAK). Para pemuda-pemudi inilah yang menjadi peserta Pendidikan Warga(PW) ke-21 yang dilaksanakan atas kerjasama Institut Leimena dengan YPPAK di aula Sekolah Kristen Yahya Bandung, pada tanggal 19 Agustus 2011 lalu. Mereka berasal dari berbagai daerah di Nusantara : Ambon, Kupang, Palu, Manado, Medan, Jayapura, Biak, Bogor, dan Bandung.

Melalui kegiatan PW ini, Institut Leimena mengajak setiap peserta merawat gagasan tentang NKRI. Peserta diajak menapaki ide-ide Johannes Leimena tentang kewarganegaraan yang bertanggungjawab,  menyelami cita-cita negara Indonesia, memahami amandemen UUD 1945 dan diakhiri dengan 2 sesi workshop.

Pemuda-pemudi ini dengan antusias mengikuti setiap sesi. Mereka tak ragu mengungkapkan pendapat, maupun melontarkan pertanyaan. Dalam kedua sesi workshop, yaitu “Eksposisi Pasal 32 UUD 1945 dan “Belajar Berpikir Secara Konstitusional : Pembahasan RUU Pengelolaan Zakat”, para peserta asik berdiskusi kemudian menyampaikan hasil analisis satu sama lain.

Hal lain yang menarik dalam PW ke-21 ini adalah hadirnya tim pengajar yang terdiri dari 7 orang. Sebelum bertugas di PW-21, tim pengajar ini telah menjalani training pada tanggal 12-14 Agustus 2011. Para pengajar mencoba menerapkan metode active learning, sebuah metode di mana peserta dilibatkan sebanyak mungkin, dalam setiap sesi yang dibawakan.  Metode ini pun bersambut dengan antusiasme peserta. Suasana hidup terbangun sepanjang pelaksanaan kegiatan Pendidikan Warga.

Di akhir kegiatan, para peserta menuliskan manfaat yang mereka peroleh dan rencana tindak lanjut ke depannya. Apakah kekecewaan telah berganti menjadi belas kasihan? Apakah kegelisahan telah berganti menjadi harapan? Apakah api untuk membangun bangsa mulai menyala? Simaklah beberapa kesan para peserta di bawah ini :

Tidak bersikap pesimis atau apatis tetapi mau terlibat untuk menjadi garam dan terang dalam bangsa ini. Kecintaan, kesetiaan dan ketaatan tidak dan tidak boleh kurang daripada orang lain sebagai wujud mengasihi dan taat pada Allah. (Halen Imang - Kupang, NTT, Tenaga Pengajar honorer, aktif di pelayanan perkantas Kupang)

Saya menyadari bahwa saya ditempatkan di tengah-tengah bangsa ini bukan suatu kebetulan dalam arti ada yang perlu dikerjakan (Frans Rumene - Papua, Bergiat di GMKI dan GKI)

Acara ini membuka pikiran saya bahwa negara ini bisa berubah dan untuk terjadinya hal itu tidak bisa hanya menuntut pemerintah saja. Perubahan itu boleh dimulai dari diri saya. (Julianti Stefana Sinaga - Medan)

Saya terinspirasi untuk mulai mengkaji peraturan perundangan di bidang pekerjaan saya (rekayasa lingkungan) dan mulai menginisiasi teman-teman sevisi dan seprofesi untuk melakukan diskusi warga dan diskusi untuk pengajuan pentingnya peraturan lainnya di bidang kami  (Irene B Batoarung – Bandung)

Dari beberapa kesan para peserta di atas, telah terlihat ada tekad-tekad yang dibulatkan, gairah menyala untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa! Segala puji dan syukur kita haturkan kepada-Nya untuk terlaksananya PW ke-21 di Bandung.  Semoga Dia membuat api kita terus menyala!

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena