info@leimena.org    +62 811 1088 854

Para narasumber dalam Pelatihan Sertifikasi Agama dan Supremasi Hukum di kota Vinh, Provinsi Nghe An, Vietnam, pada 7-10 Agustus 2023.

IL News 019/2023

Jakarta, IL News – Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) telah menarik perhatian sejumlah pemuka agama dan pejabat pemerintah negara Vietnam yang menjadi peserta program Pelatihan Sertifikasi Agama dan Supremasi Hukum di kota Vinh, Provinsi Nghe An, pada 7-10 Agustus 2023. Pengalaman Indonesia lewat Institut Leimena bersama berbagai mitra nasional dan internasional dalam menjalankan program LKLB dianggap mampu membangun pemahaman dan saling menghormati antar umat beragama yang berbeda.

“Saya diundang berbicara mengenai program LKLB dalam pelatihan di Vietnam. Dari Vietnam, mereka tertarik karena mereka sedang mencari cara bagaimana membangun relasi lebih baik lagi antar komunitas beragama di negara itu,” kata Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, dalam pelatihan yang diikuti 60 peserta yang merupakan pejabat pemerintah, akademisi, dan pemuka agama dari tiga provinsi Vietnam yaitu Thanh Hoa, Ha Tinh, dan Nghe An.

Matius mengatakan program LKLB di Indonesia telah berjalan selama dua tahun diikuti secara masif oleh sedikitnya 6.000 pendidik dari 35 provinsi di Indonesia. Program LKLB memperlengkapi guru/pendidik dengan tiga kompetensi dasar dalam membangun relasi dengan orang lain yang berbeda agama.

Dalam paparannya, Matius menyebut latar belakang pelaksanaan program LKLB, salah satunya keprihatinan atas hasil survei tentang intoleransi dalam dunia pendidikan yang menjadi tantangan bangsa Indonesia. Salah satunya survei oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah pada 2018 yang menyatakan tingkat opini atau pandangan intoleransi dan radikalisme di kalangan guru Muslim di Indonesia cukup tinggi yaitu sebanyak 63,07 persen guru memiliki opini intoleran kepada pemeluk agama lain sebagaimana dikutip dari https://www.voaindonesia.com/a/tingkat-opini-intoleransi-dan-radikalisme-guru-muslim-di-indonesia-sangat-tinggi/4615693.html.

“Ada salah satu pejabat pemerintah daerah dalam pelatihan itu menyampaikan bahwa dia pernah membuat program literasi keagamaan, namun peminatnya sedikit, termasuk tidak ada yang mau berkunjung ke rumah ibadah yang berbeda, sehingga Vietnam ingin belajar lebih lanjut dan melihat bagaimana program LKLB diterapkan di Indonesia,” ujar Matius.

Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, menyampaikan paparan tentang program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (Cross-Cultural Religious Literacy) di Indonesia.

Pelatihan Sertifikasi Agama dan Supremasi Hukum di Provinsi Nghe An ini menjadi forum pertukaran akademis dan studi banding mengenai hukum kebebasan beragama sesuai Pasal 18 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) dari Perserikatan Bangsa-bangsa. Para pakar yang hadir menyampaikan studi kasus dari Indonesia, Jerman, Singapura, Amerika Serikat, dan Vietnam sendiri. Diskusi berlangsung tentang berbagai isu terkait pencatatan agama, gerakan keagamaan baru, martabat manusia, dan tata Kelola pemerintah di tingkat kabupaten.

Para peserta Pelatihan Sertifikasi Agama dan Supremasi Hukum di Nghe An, Vietnam.

.

Pelatihan diadakan oleh Institute for Global Engagement (IGE) bersama Institute for Religion and Belief Ho Chi Minh National Academy of Politics, Vietnam-USA Society, dan International Center for Law and Religion Studies Brigham Young University. Pelatihan bersertifikasi ini telah dilaksanakan 11 kali sejak 2012 yang melatih lebih dari 1.100 pejabat pemerintah, akademisi, dan pemimpin agama.

“Pelatihan bagi otoritas lokal dan pemuka agama ini memenuhi kebutuhan dasar akan kerukunan beragama di Provinsi Nghe An. Provinsi ini terkenal dengan ketegangan antar pemerintah dan etnis minoritas, serta kelompok agama mengenai isu-isu terkait agama,” kata Manajer Program IGE, Hien Vu, dikutip dari situs IGE.

Menurut Hien Vu, diskusi jujur mengenai tantangan dan peluang dalam pelatihan tersebut diharapkan dapat memberikan ide dan perspektif baru kepada pemangku kepentingan lokal menuju kerukunan umat beragama. [IL/Chr]

Responsible Citizenship

in Religious Society

Ikuti update Institut Leimena

@institutleimena

Warganegara.org

@institutleimena

Warganegara.org

info@leimena.org

+62 811 1088 854