+62 21 52880355 info@leimena.org

Institut Leimena

Institut Leimena adalah lembaga non profit dengan misi:
 
“Mengembangkan peradaban Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dan peradaban dunia yang menjunjung tinggi harkat manusia, melalui kerjasama dalam masyarakat yang majemuk.”
 Kami percaya bahwa nilai-nilai keagamaan merupakan bagian integral sebagai landasan moral, etik, dan spiritual untuk membangun bangsa dan negara Indonesia serta dunia yang lebih baik. Dalam semangat kebersamaan dan kemajemukan, kami berusaha agar para pemimpin agama bersama dengan para pemimpin publik, baik di Indonesia maupun di dunia, dapat bekerjasama dalam mengisi landasan moral, etik dan spiritual tersebut. Hal ini dilakukan dengan senantiasa menghormati dan menjaga keberagaman dan kesetaraan dalam masyarakat.

Sejarah Singkat

 

Berdiri tahun 2005, Institut Leimena dibentuk sebagai respons atas perkembangan situasi bangsa dan negara, serta harapan para pimpinan lembaga gereja aras nasional.

Partisipasi warga gereja dalam membangun bangsa dan negara sebetulnya telah mendapat perhatian umat Kristiani sejak lama. Oleh karena itu, Sidang Raya X DGI/PGI 1984 di Ambon memutuskan agar PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) membentuk lembaga kajian yang dinamai Akademi Leimena dengan Letjen. T.B. Simatupang sebagai ketua yang pertama.

Pada tahun 2004, atas  masukan dan harapan dari para pimpinan lembaga gereja aras nasional, beberapa pengurus Akademi Leimena sepakat untuk mendirikan Institut Leimena sebagai lembaga kajian independen yang mencerminkan perkembangan keberagaman gereja dewasa ini.

Para pendiri, sekaligus anggota Board of Trustees yang pertama adalah Jakob Tobing, Mangara Tambunan, Matius Ho, Radja Kami Sembiring Meliala, dan Viveka Nanda Leimena.

Dr. Johannes Leimena

Institut Leimena dinamai untuk mengenang Dr. Johannes Leimena (1905-1977), negarawan dan gerejawan Indonesia, serta berupaya meneladani kepemimpinan beliau yang mengedepankan kasih dan melayani semua kalangan. 

Jalan hidup sebagai dokter sama sekali tidak direncanakannya. Niatnya itu muncul dengan tiba-tiba ketika semua jalan lain sudah tertutup. Bagi Om Yo, panggilan akrab Dr. Leimena, hal itu bukan kebetulan tapi bagian dari rencana Tuhan. Pergaulannya sebagai mahasiswa di STOVIA mendekatkannya pada cita-cita kebangsaan yang waktu itu sedang diperjuangkan oleh sebagian besar mahasiswa Indonesia.

Ia juga mulai berkenalan dengan gerakan Oikumene yang berusaha menyatukan umat Kristen tanpa merenggut mereka dari lingkungan sosial dan budaya asalnya. Sejak itu, nasionalisme dan kekristenan menjadi ciri khas pemikiran Om Yo dalam berbagai aspek hidupnya.

Ketika bertugas di Rumah Sakit Immanuel di Bandung (1931-1941), Om Yo terkenal sebagai sosok yang sederhana dan selalu melihat setiap orang sebagai makhluk Tuhan yang sama kodratnya. Karena itulah ia mengecam struktur masyarakat kolonial. Baginya, masyarakat yang terpecah-pecah menurut warna kulit tidak sejalan dengan ajaran Alkitab, dan sikap berdiam diri terhadap hal ini bertentangan dengan hati nuraninya.

Ia juga tidak setuju dengan para teolog Barat yang memisahkan gereja dan negara secara absolut, karena hal itu menyebabkan orang-orang Kristen tidak mau bertanggung jawab dalam kehidupan bernegara.  Pemisahan ini telah menyebabkan masyarakat Kristen di Jerman misalnya, tidak peduli pada perkembangan politik sehingga mendorong timbulnya fasisme (yang berujung pada berkuasanya Hitler). Menurut Om Yo, orang Kristen harus memancarkan sinar kasih Kristus kepada masyarakat luas melalui partisipasi aktif.

Pemikiran ini membuat Om Yo bersahabat dengan berbagai kalangan, yang membawanya ke dalam pemerintahan RI. Perannya yang paling jelas dalam masa perang kemerdekaan adalah sebagai delegasi Indonesia dalam perundingan-perundingan diplomatik dengan pihak Belanda. Ia terlibat di perundingan Linggarjati, lalu menjadi ketua Komisi Militer dalam perundingan Renville dan di Konferensi Meja Bundar. Selama periode 1946 s/d 1949, kepemimpinannya di Komisi Militer telah berhasil menjaga keutuhan TNI.

Kesuksesannya di arena diplomasi berasal dari keyakinan bahwa segala persoalan dapat diselesaikan dengan dasar kasih. Karena itulah ia selalu mencari cara-cara yang tidak memerlukan pertumpahan darah.  Tak heran jika Presiden Soekarno sangat mempercayainya. Secara keseluruhan, Leimena 18 kali menjadi menteri dalam kurun waktu 20 tahun (8 kali di antaranya sebagai Menteri Kesehatan). Selain itu ia pun dipercaya sebagai Pejabat Presiden sebanyak 7 kali antara 1961 s/d 1965.

Ketika menjadi Menteri Kesehatan, Om Yo mengeluarkan Rencana Bandung yang dirancang berdasarkan pengalamannya melayani sebagai dokter di Bandung. Rencana Bandung inilah yang menjadi cikal bakal dari Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) di masa kini.

Selain terlibat aktif di pemerintahan, Om Yo juga memainkan peranan penting dalam pembentukan Dewan Gereja-gereja di Indonesia yang kini menjadi PGI (Persatuan Gereja-gereja di Indonesia).  Setelah melepaskan tugas-tugasnya sebagai menteri, Om Yo masih menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung hingga 1973.  Ia meninggal dunia pada tanggal 29 Maret 1977.**

Sumber:  Panitia Buku Kenangan Dr. J. Leimena.  Kewarganegaraan yang Bertanggungjawab: Mengenang Dr. J. Leimena. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1995.