+62 21 52880355 info@leimena.org
IL News 004/2018

Bahwa gereja dipanggil untuk menghasilkan pemimpin berintegritas yang dapat memperbarui bangsa, telah diamini oleh para peserta yang hadir. Semua sepakat tentang pentingnya mendidik generasi muda kini sebagai pemimpin publik. Permasalahannya adalah, bagaimana memulainya? Atau ketika sudah memulainya, muncul berbagai tantangan dalam hal eksekusi, mulai dari pendekatan/metode pengkaderan hingga pada substansi pengkaderan.

Hal-hal inilah yang menjadi bahan diskusi dalam Workshop Kaderisasi Pemuda sebagai Pemimpin Publik pada 12-15 Maret 2018 yang lalu. Bertempat di Jakarta, workshop ini dihadiri oleh 3 Sinode Gereja, yakni Gereja Toraja (Pdt. Arsiati dan Pdt. Misel), Gereja Bethel Injil Sepenuh (Pdt. Ezra dan Pdt. Jonah), serta Gereja Kristen Pasundan (Pdt. Sains Pieter). Budi Setiamarga, Daniel Adipranata, Vonny Tjandra dan Matius Ho, dari Institut Leimena hadir sebagai fasilitator workshop.

Workshop dimulai dengan penjabaran fakta-fakta tentang karakteristik pemuda kini (disebut generasi milenial), yang berimplikasi pada pentingnya menggagas program pengkaderan yang kontekstual pada diri dan dunia pemuda. Value Proposition Canvas, diperkenalkan sebagai sebuah alat untuk menganalisa kebutuhan pemuda. Keunikan metode analisis ini adalah sifat pendekatannya yang berupa pendekatan bottom-up, yang memungkinkan perancang program membuat sebuah program yang sesuai kebutuhan dan konteks pemuda.

Waktu untuk mengkader generasi muda, tidaklah banyak. Institusi gereja berhadapan dengan tantangan perubahan karakteristik pemuda dan teknologi yang sangat cepat. Gereja pun harus menyesuaikan diri, agar dapat menjalankan perannya secara efektif, tanpa harus mereduksi keutuhan kebenaran. Dengan pertimbangan ini, maka pola-pola pengkaderan yang kontekstual hendaknya menjadi sebuah upaya yang perlu mendapat perhatian serius.